Dampak Buruk Menahan BAB, Simak Bahayanya Bagi Kesehatan
Seseorang yang sering menunda buang air besar biasanya merasakan berbagai gejala tidak nyaman akibat gangguan pada kebiasaan buang airnya.

Di era yang serba cepat saat ini, banyak karyawan di kantor yang cenderung menahan buang air besar (BAB). Berbagai faktor menjadi penyebab mengapa mereka mengabaikan dorongan untuk menggunakan toilet, salah satunya adalah rasa tidak nyaman.
Profesor Peter Katelaris, seorang ahli gastroenterologi dari Sydney, menyatakan bahwa kondisi ini sering terjadi di kalangan pekerja kantoran, khususnya wanita muda, yang mungkin enggan menggunakan toilet di tempat kerja.
"Orang mungkin mencoba mengesampingkan keinginan untuk buang air besar," ungkap Prof Katelaris kepada news.com.au.
"Beberapa orang melakukan hal ini karena mereka menganggap tidak nyaman atau memalukan untuk pergi ke toilet saat sibuk bekerja. Yang lain tidak suka menggunakan toilet umum bersama, dan lebih memilih menggunakan toilet sendiri, jadi tekanlah keinginan tersebut yang kemudian hilang," lanjutnya.
Ketika mereka akhirnya merasa nyaman, mereka mungkin akan duduk di toilet dan berusaha untuk mengejan meskipun dorongan untuk buang air besar sudah tidak ada lagi. Sering kali, hal ini berujung pada kekecewaan seiring berjalannya waktu.
Lebih dari itu, penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering menahan BAB cenderung mengalami berbagai gejala tidak nyaman akibat gangguan kebiasaan buang air besar mereka.
"Bisa menimbulkan kembung, penuh, dan rasa tidak nyaman karena mengalami konstipasi," jelasnya.
- Jangan Anggap Sepele! Ini Dampak Menahan Buang Air Besar bagi Kesehatan Anda
- Tak Selamanya Sehat, Ketahui 5 Dampak Buruk Minum Air Hangat saat Perut Kosong
- Tak Selamanya Sehat, Ketahui 5 Dampak Buruk Minum Air Hangat saat Perut Kosong
- Dampak Buruk yang Mungkin Muncul Akibat Menggunakan Bantal Terlalu Tinggi
Prof Katelaris menyarankan agar orang pergi ke toilet saat ada "panggilan untuk buang air besar", bukan menunggu hingga merasa ingin pergi.
"Beberapa orang mengharapkan ususnya terbuka saat mereka menginginkannya, biasanya setelah sarapan dan sebelum bekerja," tambahnya.
"Mereka duduk dalam harapan dan penantian, terkadang untuk waktu yang lama, menunggu sesuatu terjadi," lanjutnya.
Kebiasaan ini dapat menyebabkan mereka mengejan secara paksa, yang berpotensi mengakibatkan retakan di sekitar anus (kulit sobek yang menyakitkan) dan wasir. Pada orang yang lebih tua, kondisi ini bahkan bisa menjadi berbahaya, karena mengejan secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, yang pada gilirannya dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Tubuh Bukan Mesin
Menurut Prof Katelaris, penting untuk diingat bahwa "tubuh kita bukanlah mesin." Kita perlu merespons sinyal-sinyal dari tubuh, seperti pergi ke toilet saat kita merasakannya.
Sama halnya dengan kita yang makan saat lapar, minum saat haus, dan tidur saat lelah, kita juga harus memperhatikan dorongan untuk buang air besar ketika tubuh memberi tahu kita.
Dalam konteks pola makan yang dianggap "sehat", ada anggapan umum bahwa buang air besar harus dilakukan setiap hari. Namun, Prof Katelaris menekankan bahwa meskipun kebiasaan ini sering terlihat, frekuensi buang air besar yang berbeda-beda tetap bisa dianggap normal.
"Apa yang normal bagi satu orang mungkin tidak normal bagi orang lain," katanya menjelaskan.
Secara umum, mayoritas orang dewasa memiliki frekuensi buang air besar antara tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu, dan ini menunjukkan bahwa setiap individu memiliki ritme yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk tidak membandingkan diri kita dengan orang lain dan lebih mendengarkan kebutuhan tubuh kita sendiri.
Dengan memahami hal ini, kita bisa lebih menghargai dan merawat tubuh kita dengan cara yang lebih baik.
Terapkan Pola Makan Sehat dan Olahraga
Untuk menjaga kesehatan usus yang optimal, disarankan untuk kembali ke prinsip-prinsip dasar seperti mengadopsi pola makan yang sehat, memastikan asupan cairan yang mencukupi, dan rutin berolahraga.
"Ingat, manusia pada dasarnya telah berevolusi sebagai makhluk omnivora. Usus kita berfungsi paling baik ketika kita mengonsumsi makanan yang telah kita kembangkan untuk dimakan. Ini tidak rumit," jelasnya.
Dia menekankan pentingnya mengonsumsi makanan utuh yang seimbang dengan porsi yang terkontrol, serta menghindari makanan yang sangat diproses. Makanan yang kaya serat, seperti sayuran, buah-buahan, minyak sehat, biji-bijian, dan kacang-kacangan, sangat dianjurkan.
"Jika pola makan sebagian besar mengandung makanan rendah serat, makanan olahan, dan makanan ultra-olahan, kemungkinan besar fungsi usus akan terpengaruh -- serta banyak potensi kerugian lainnya bagi kesehatan kita," tambahnya.
Perhatikan Kebutuhan Cairan dan Kondisi Kesehatan
Asupan cairan yang cukup sangat penting untuk kesehatan. Menurutnya, tidak ada jumlah pastinya untuk setiap hari.
"Bagi kebanyakan orang sehat, jika mulut Anda kering atau selalu merasa haus, atau urin Anda berwarna gelap, berarti Anda kurang minum cairan. Jika Anda tidak haus dan urin Anda pucat atau jernih, Anda haus. Sesederhana itu," katanya.
Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan juga berkontribusi pada fungsi usus yang lebih baik. Namun, ada beberapa kondisi medis yang dapat mengganggu fungsi usus secara normal.
Jika Anda memiliki kekhawatiran terkait hal ini, sebaiknya bicarakan dengan dokter Anda sebagai langkah awal. Seiring bertambahnya usia, beberapa orang muda yang memiliki kebiasaan buang air besar yang sangat lambat meskipun pola makannya baik mungkin perlu mencari solusi untuk membantu melancarkan proses tersebut.
Ini bisa berupa suplemen serat sederhana, pelunak feses, atau terkadang obat pencahar yang merangsang kerja usus.