Pesan Guru Besar UIN Jakarta Agar Umat Hargai Perbedaan Tak Menebar Kebencian
Sejatinya umat harus saling mengasihi antar-sesama makhluk tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Andi Faisal Bakti mengatakan, Ramadan tidak hanya momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi. Tetapi juga kesempatan membangun empati dan hubungan baik dengan umat lain.
"Seharusnya umat Islam di bulan Ramadan ini lebih toleran, lebih berempati sehingga bisa meredam ketegangan. Tentu bukan hanya kepada umat Muslim, tapi juga kepada agama lainnya," ujar Andi dalam keterangannya, Rabu (26/3).
Menurut Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ini, Islam adalah agama inklusif, merangkul keberagaman dan menghargai perbedaan.
Andi menambahkan sejatinya umat harus saling mengasihi antar-sesama makhluk tidak memandang perbedaan suku, ras dan agama. Tidak boleh merasa paling benar, menghakimi atau mempersekusi orang berbeda keyakinan.
"Islam sangat terbuka, sangat moderat. Islam itu justru merangkul dan merangkum kepercayaan agama lain," tuturnya.
Maka dari itu, Andi mengingatkan tidak hanya di bulan Ramadan kita harus menjaga sikap. Dia juga berharap saat Hari Raya Idul Fitri dapat merayakannya dengan hati suci dan bersih.
"Setelah berpuasa selama sebulan, umat Islam akan kembali kepada kesucian. Oleh karena itu jangan lagi menebar benci, hate speech terhadap sesama," kata Andi.
Sosok yang juga menjadi UNESCO Chair in Communication and Sustainable Development (COSDEV) ini mengingatkan momen Ramadan menjadi refleksi diri untuk saling memaafkan dan menghargai.
"Ini adalah momentum sangat luar biasa untuk saling bersolidaritas dengan sesama manusia, bukan hanya sesama umat Islam tapi juga kepada penganut penganut agama lainnya," tandasnya.