Peneliti Temukan Fakta Anjing Bisa Serap Stres, Rela Pertaruhkan Kesehatan demi Majikan
Peneliti menemukan fakta bahwa anjing bisa menyerap stres dan rela mempertaruhkan kesehatannya demi majikan. Berikut informasi selengkapnya.

Tidak sedikit manusia yang hidup berdampingan dengan anjing sebagai hewan peliharaannya. Namun tahukah Anda, bahwa anjing telah hidup berdampingan dengan manusia selama ribuan tahun lalu.
Oleh karena itu, anjing dengan mudah bertindak sebagai sahabat manusia. Meskipun Ia terbiasa berburu, menjaga hingga melakukan banyak tugas lainnya.
Bukan hanya itu, peneliti juga menemukan fakta bahwa anjing bisa menyerap stres dan rela mempertaruhkan kesehatannya demi majikan. Lantas bagaimana informasi selengkapnya? Melansir dari ScienceAlert, Jumat (31/1), simak ulasan informasinya berikut ini.
Peneliti Temukan Fakta Anjing Bisa Serap Stres

Beberapa tahun lalu, para peneliti di Prancis menemukan sebuah fakta bahwa perilaku pemilik anjing di dokter hewan mempengaruhi tingkat stres hewan peliharaannya. Penelitian ini menunjukkan perilaku negatif pemilik, seperti memarahi, mampu meningkatkan kecemasan anjing selama pemeriksaan dokter hewan.
Akan tetapi, belum ada yang menyelidiki pengaruh stres pemilik pada anjingnya di lingkungan yang terkendali setelah penelitian tersebut.
Hingga pada akhirnya penelitian terbaru dilakukan oleh Aoife Byrne, Kandidat PhD 'Animal Behaviour and Welfare' Universitas Nottingham dan Gareth Arnott, Dosen Perilaku dan Kesejahteraan Hewan, Queen's University Belfast di Queen's University Belfast. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya.
Penelitian ini lebih melihat secara khusus pengaruh stres pemilik anjing terhadap stres yang dialami anjingnya saat berada di dokter hewan. Di mana penelitian ini diukur melalui perubahan detak jantung.
Dikatakan bahwa sekitar 28 pemilik dan anjingnya ikut serta dalam percobaan tersebut. Pemilik maupun anjingnya kemudian memakai monitor detak jantung selama percobaa.
Hal itu dilakukan agara para peneliti dapat memantau dan mencatat detak jantung mereka. Selain itu juga dapat memantau dan mencatat variabilitas detak jantung keduanya untuk mengukur tingkat stres.
Para peneliti ini selanjutnya memaparkan pemiliknya pada intervensi yang membuat stres atau menghilangkan stres dan memantau dampaknya terhadap mereka dan juga anjing mereka.
Intervensi stres tersebut terdiri dari tes stres digital yang mengharuskan pemilik melakukan tugas aritmatika mental, serta tugas presentasi verbal. Intervensi pereda stres adalah video meditasi pernapasan berdurasi lima menit yang dipandu.
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa detak jantung anjing menurun ketika mereka terbiasa dengan lingkungan klinik hewan. Kondisi itu menunjukkan bahwa dokter hewan harus memberi waktu pada anjing untuk terbiasa dengan klinik sebelum memeriksanya.
Hal ini tidak hanya akan mengurangi stres mereka, namun juga dapat meningkatkan validitas pemeriksaan atau tes yang dilakukan. Sebab, pengukuran seperti detak jantung dan pernapasan dapat meningkat akibat meningkatnya stres.
Penularan Emosi

Para peneliti juga menemukan bahwa perubahan detak jantung pemilik dari sebelum percobaan hingga selama percobaan dapat memprediksi perubahan detak jantung anjingnya. Aabila detak jantung pemilik meningkat atau menurun selama percobaan, detak jantung anjingnya juga cenderung meningkat atau menurun secara bersamaan.
Hasil ini menunjukkan bahwa anjing mungkin mengenali stres pada pemiliknya. Di mana hal itu dapat memengaruhi tingkat stres mereka sendiri, melalui proses 'penularan emosi'.
Ini merupakan fenomena di mana manusia dan hewan lain, mungkin 'menangkap' atau meniru emosi dan perilaku orang-orang di sekitar mereka. Baik itu secara sadar maupun tidak sadar.
Selain itu, penemuan ini mungkin juga menunjukkan bahwa anjing bergantung pada pemiliknya untuk menginformasikan respons mereka terhadap lingkungan baru.
Pemilik diminta untuk tidak berinteraksi dengan anjingnya selama percobaan berlangsung. Sehingga, penilaian stres pemilik yang dilakukan oleh anjingnya dilakukan tanpa komunikasi langsung antara pemilik dan hewan peliharaannya.
Jika stres kita berpotensi mempengaruhi anjing kita, maka hal ini harus dipertimbangkan saat kita mengunjungi dokter hewan. Jika dokter hewan membantu pemilik merasa lebih tenang saat mengunjungi klinik, hal ini juga dapat membantu anjingnya merasa lebih nyaman.
Pendekatan holistik terhadap perawatan hewan yang mempertimbangkan hewan, pemiliknya dan lingkungannya ini nantinya memungkinkan akan menghasilkan kesejahteraan terbaik.
Meskipun penelitian masih berfokus pada ikatan antara anjing dan pemiliknya, penelitian terbaru yang menyelidiki perilaku anjing ini juga menemukan fakta lainnya.
Dikatakan bahwa bau keringat dari manusia yang stres, yang tidak mengenal anjing tersebut, memengaruhi pembelajaran dan kognisi anjing tersebut selama tes kognitif.
Tes ini mengukur apakah seekor hewan berada dalam keadaan emosi positif atau negatif, dan apakah mereka cenderung mengambil keputusan dengan pandangan optimis atau pesimis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa anjing mungkin terpengaruh oleh stres orang asing, serta stres pemiliknya. Itu artinya anjing adalah hewan perseptif yang dipengaruhi oleh dunia dan orang-orang di sekitarnya.
Orang yang merawat atau bekerja dengan anjing harus ingat bahwa stres yang mereka alami dapat memengaruhi stres anjing mereka.