Tak Ada Takut-takutnya, Reaksi Warga Yaman saat Rudal AS Meledak di Dekatnya Ramai Jadi Sorotan Dunia
Reaksi seorang warga Yaman saat rudal-rudal AS jatuh dan meledak di dekatnya menjadi perhatian dunia.

Pesawat tempur Amerika Serikat (AS) terus melakukan serangan agresif di wilayah Yaman, sejak 15 Maret 2025 lalu. Serangan-serangan itu pun mengakibatkan rusaknya bangunan dan adanya korban jiwa.
Menariknya, sebuah video merekam reaksi seorang warga Yaman yang terlihat santai dan tak gentar ketika rudal AS menghantam wilayah dekat tempat tinggalnya, ramai jadi sorotan warganet di media sosial.
Dalam unggahan di akun Tiktok @aljazeeraenglish, tampak seorang pria sedang duduk dan menjaga tokonya ketika serangan udara beberapa kali meledak tak begitu jauh dari lokasinya dan menimbulkan bunyi yang menggelegar. Meski sempat terlihat kaget, namun dia tetap duduk dengan santai, tak beranjak sedikit pun.
Alih-Alih kabur melarikan diri karena ketakutan, Pria tersebut memilih untuk tetap tinggal dan sesekali memeluk seorang anak kecil di sebelahnya saat dentuman rudal AS meledak.

Setelah dibagikan, video merekam peistiwa itupun kemudian ramai mendapat beragam komentar dari warganet seluruh dunia. Banyak yang menyoroti langkah AS dalam menyerang Yaman. Tak sedikit pula yang dibuat salah fokus dengan keberanian pria dalam video.
"AS tidak punya hak untuk menyerang Yaman... Yaman punya hak untuk membela negaranya," komen @cip***
"Orang Yaman adalah orang yang benar-benar pemberani. Yaman 🇾🇪 Itu yang terbaik! Semoga Allah melindungi kalian semua," kata @family***
"Jika iman sudah tertanam cuma satu yang dia takutkan yaitu hanya takut kepada Allah," kata @bohb***
"Mental seorang muslim, hanya Allah subhanahuwata'ala yg mampu memisahkan nyawa dari raga," ungkap akun @naim***
"Kalian tak bisa kalahkan orang yg tak takut mati yg merindukan sorga," ungkap @omgus***

Yaman Tak Takut pada AS
Presiden Donald Trump sempat mengancam AS akan menggunakan kekuatan yang sangat besar hingga kelompok milisi Houthi berhenti menembaki kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden.
Juru bicara kelompok milisi Houthi, Yahya Saree mengungkap, bahwa Houthi juga disebut akan terus menghadapi agresi Amerika dan melawan eskalasi dengan eskalasi.
"Houthi terus mencegah navigasi Israel di perairan strategis di lepas pantai Yaman dan akan melaksanakan operasi melawan musuh Israel hingga agresi berhenti dan blokade di Jalur Gaza dicabut," dikutip dari laman Aljazeera (28/3)..
Saree menekankan bahwa Yaman akan terus memblokir jalur kapal-kapal yang terkait dengan Israel di laut lepas, hingga Israel menghentikan perangnya di Gaza dan mencabut pengepungannya terhadap wilayah Palestina.

Pejabat Houthi Yaman Mohammed Al-Bukhaiti blak-blakan menyebut jika pihaknya sama sekali tidak takut dengan ancaman-ancaman yang dilakukan AS dan Israel. Hal tersebut disampaikan lewat wawancara yang dilakukan Al-Jazeera Network (Qatar) pada Sabtu (15/3) lalu.
"Kami hanya takut kepada Allah SWT. Dahulu kami juga ditakut-takuti dengan AS dan Israel. Namun kami tetap berperang hingga tercapainya gencatan senjata di Gaza. Sebab itu Yaman bangkit atas dasar agama, moral dan kemanusiaan," tegas Al-Bukhaiti.
"Tentu saja kalkulasi keimanan berbeda dengan kalkulasi materi. Sekuat apapun AS mereka tidak lebih kuat dari Allah SWT. Kita semua di bawah kuasa Allah baik itu AS atau seluruh dunia. Apa yang tidak bisa diwujudkan AS di masa Biden, juga tidak bisa diwujudkan di masa Trump," tegasnya.
Diketahui jika Yaman secara konsisten ikut serta melakukan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak sejak akhir tahun 2023, sebagai bentuk solidaritas atas apa yang terjadi di Jalur Gaza.