Ini istri-istri penikmat duit korupsi suami
Perilaku konsumtif dan bergaya hidup glamor mendorong seorang pejabat nekat memakan uang rakyat.
Suksesnya suami, tidak jauh dari doa seorang istri. Begitu ungkapan yang sering ditujukan kepada pasangan suami istri.
Seorang istri akan mendukung segala upaya suaminya untuk meraih kesuksesan, pasalnya jika sudah sukses, maka sang istri sendiri turut menikmatinya.
Seperti yang dilakoni para istri koruptor. Tanpa mengetahui, bahkan bertanya aliran dana berasal, mereka 'kecipratan' pundi-pundi rupiah dari sang suami yang belakangan diketahui merupakan hasil korupsi.
Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan KPK Johan Budi pernah mengungkapkan jika terdapat istri salah satu koruptor yang mengantongi tas merk ternama Hermes seharga Rp 960 juta.
"Contohnya, ada istri tersangka yang mempunyai tas merek Hermes seharga Rp 960 juta dan itu hanya dimiliki lima tokoh di dunia. Selain itu, dia punya merek lainnya yang harganya juga 'gila'," ungkap Johan beberapa waktu lalu.
Johan menilai, perilaku konsumtif dan bergaya hidup glamor mendorong seorang pejabat nekat memakan uang rakyat. Tak hanya itu, dewasa ini muncul anggapan di tengah masyarakat jika seseorang akan dihargai dari apa yang ia kenakan sehari-hari.
Untuk itu, Johan menuding tidak ada istri yang tidak mengetahui bahwa suaminya korupsi.
"Yang tahu langsung melarang itu hanya ada di sinetron saja. Malah biasanya menerima dan mengucap alhamdullilah," tegasnya.
Merdeka.com pun merangkum beberapa istri yang menikmati duit korupsi suaminya, Jumat (6/11) :
-
Siapa yang ditahan KPK terkait kasus dugaan korupsi? Dalam kesempatan yang sama, Cak Imin juga merespons penahanan politikus PKB Reyna Usman terkait kasus dugaan korupsi pengadaan software pengawas TKI di luar negeri.
-
Apa yang ditemukan KPK terkait dugaan korupsi Bantuan Presiden? Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan adanya dugaan korupsi dalam bantuan Presiden saat penanganan Pandemi Covid-19 itu. "Kerugian sementara Rp125 miliar," kata Juru Bicara KPK, Tessa Mahardika, Rabu (26/6).
-
Mengapa kasus korupsi Bantuan Presiden diusut oleh KPK? Jadi waktu OTT Juliari itu kan banyak alat bukti yang tidak terkait dengan perkara yang sedang ditangani, diserahkanlah ke penyelidikan," ujar Tessa Mahardika Sugiarto. Dalam prosesnya, kasus itu pun bercabang hingga akhirnya terungkap ada korupsi bantuan Presiden yang kini telah proses penyidikan oleh KPK.
-
Apa yang jadi dugaan kasus KPK? Pemeriksaan atas dugaan pemotongan dan penerimaan uang, dalam hal ini dana insentif ASN Bupati Sidoarji Ahmad Muhdlor Ali diperiksa KPK terkait kasus dugaan pemotongan dan penerimaan uang, dalam hal ini dana insentif ASN di lingkungan BPPD Pemkab Sidoarjo.
-
Bagaimana Kejagung mengusut kasus korupsi impor emas? Di samping melakukan penggeledahan kantor pihak Bea Cukai, tim juga masih secara pararel melakukan penyidikan perkara serupa di PT Aneka Tambang (Antam).
-
Siapa saja yang terlibat dalam kasus korupsi ini? Untuk kedua tersangka dilakukan penahanan selama 20 hari kedepan guna kepentingan penyidik KPK. Sementara untuk satu tersangka lain yakni Direktur PT KIM, Karunia diharapkan agar kooperatif dalam pemanggilan penyidik KPK.
Istri Jero Wacik pesta ulang tahun ratusan juta dari duit ESDM
Pengadilan Tipikor kembali menggelar sidang lanjutan mantan Menteri ESDM, Jero Wacik, dalam kasus dugaan korupsi di Kementerian ESDM. Sidang kali ini menghadirkan Financial Controller Hotel Dharmawangsa Suhendra Setiawan.
Dalam kesaksiannya, Suhendra membenarkan istri Jero Wacik, Triesna Wacik menggelar pesta ulang tahun mewah di Hotel Dharmawangsa.
"Pernah, tanggal 10 April 2012, kedua 10 April 2013," kata Suhendra di ruang sidang tipikor, Jakarta,Kamis,(5/11).
Untuk biaya pesta saat itu, lanjut Suhendra, dibebankan pada pada Kementerian ESDM dengan pembayaran secara cash.
"Saya tidak tahu (siapa yang bayar) yang pasti dari Kementerian ESDM. Atas namanya Jero Wacik, tidak menyebutkan orang yang membayarkan," bebernya.
Ia juga menceritakan pembayaran acara ulang tahun Triesna Jero Wacik dilakukan saat acara sudah selesai.
"Tahun 2012 biaya yang dikeluarkan Kementerian ESDM untuk membayar acara tersebut adalah Rp 600 juta. Sedangkan pada 2013 nominal yang dibayarkan tak berbeda jauh, hanya cara pembayarannya dilakukan dua tahap. Pertama untuk biaya awal dan sisanya dibayarkan setelah selesai acara," bebernya.
Dalam perkara ini Jero didakwa melakukan tiga perbuatan yaitu pertama merugikan keuangan negara dari Dana Operasional Menteri (DOM) sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada periode 2008-2011 hingga Rp 10,59 miliar yang Rp 8,4 miliar di antaranya digunakan untuk keperluan pribadi dan keluarganya.
Perbuatan kedua adalah Jero menerima hadiah sebanyak Rp 10,381 miliar sepanjang November 2011-Juli 2013 saat menjabat sebagai Menteri ESDM yang digunakan untuk berbagai keperluan dirinya.
Ketiga, Jero didakwa menerima Rp 349 juta dari Wakil Ketua Umum Bidang Energi dan Pertambangan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Herman Arief Kusumo untuk perayaan ulang tahun ke-63.
Putri Solo yang berhasil ditaklukan Irjen Djoko Susilo
Kasus simulator SIM yang melibatkan mantan Kakorlantas Irjen Djoko Susilo sempat mengehebohkan dalam negeri. Pasalnya, dari penyelidikan kasus itu terungkap nilai fantantis yang 'ditilep' Djoko.
Bahkan, terungkap pula jika mantan Gubernur Akademi Polisi (Akpol) ini beristri lebih dari satu. Yang paling mencengangkan, Jenderal Bintang Dua ini mempersunting Dipta Anindita, pemenang Putri Solo 2008. Dipta kelahiran Sukoharjo, 10 Mei 1989, yang saat itu usianya masih 19 tahun.
Dua bulan berkenalan, keduanya sepakat untuk menikah. Bahkan, untuk mas kawinnya, Djoko Susilo disebut telah menggelontorkan dana Rp 15 miliar.
Keduanya berbulan madu di Singapura. Dipta pun mendapatkan sejumlah fasilitas di antaranya rumah mewah, kendaraan roda empat. Bahkan, mak comblang yang memperkenalkan Djoko dengan Dipta ikut kebagian 'jatah'.
Pernikahan diam-diam itu kini heboh dipersoalkan setelah Djoko menjadi tersangka kasus korupsi simulator SIM dan pencucian uang.
Dalam pernikahan itu, Djoko yang seorang jenderal polisi itu diduga melakukan sejumlah pemalsuan. Agus Siswanto, staf KUA Grogol, Solo, Jawa Tengah, membenarkan pernikahan Djoko dengan Dipta.
Djoko mengaku berstatus lajang dan mengubah cara penulisan namanya menjadi Joko Susilo.
Darin Mumtazah, ABG yang dinikahi Presiden PKS
Kasus korupsi kuota daging impor sapi yang menghebohkan dalam negeri turut menyeret kehidupan pribadi mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfhi Hasan Ishaaq. Terkuak Luthfi yang sudah tidak muda lagi mempersunting seorang anak di bawah umur bernama Darin Mumtazah.
Darin yang ketika itu belum tamat sekolah dinikahi Luthfi secara siri atau di bawah tangan.
Banyak pihak yang menduga jika pernikahan tersebut hanya untuk memuluskan bisnis yang tengah dilakoni ayah Darin. Setelah menikah, Luthfi pun membelikan Darin sebuah rumah dan beberapa fasilitas mewah lainnya.
Istri-istri Ahmad Fathanah yang tunggangi mobil mewah
Masih terkait kasus korupsi kuota impor daging sapi. Dari kasus itu terseret Ahmad Fathanah yang berperan sebagai calo proyek.
Dari tangan Fathanah, penyidik KPK menyita lima mobil mewah yang diduga berkaitan dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Salah satu mobil yang disita penyidik yakni atas nama Andi Novitasari, istri muda Fathanah.
"Kemarin kita menyita mobil berkaitan dengan AF, mobil Jazz warna putih milik Andi Novitasari," ujar Juru Bicara KPK Johan Budi beberapa waktu lalu.
Harta benda itu disita, setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap Andi Novitasari, istri Fathanah.
Sedangkan, dari istri lain Fathanah yakni Sefti Sanustika, penyidik menyita empat mobil Fathanah yakni Toyota FJ Cruiser hitam bernomor polisi B 1330 SZZ dan Alphard putih bernomor polisi B 53 FTI yang dibeli di dealer di Pondok Indah, Land Cruiser Prado hitam bernomor B 1739, serta sebuah Mercedes Benz.
Diduga, modus dilakoni Fathanah sama dengan Irjen Djoko Susilo yang menyamarkan hartanya melalui para istrinya.
Rumah bergaya Eropa dipersembahkan Fuad Amin untuk istri
Menjadi istri muda seorang Ketua DPRD Bangkalan nonaktif membuat Siti Masnuri percaya diri tampil di depan khalayak. Yah, Situ merupakan istri dari Fuad Amin Imron yang kini mendekam di tahanan KPK atas kasus suap miliaran rupiah.
Siti yang sempat didapuk menjadi calon bupati 2013 lalu merupakan lulusan salah satu sekolah tinggi di Madura. Untuk sang istri muda, Fuad memberikan Siti Masnuri fasilitas kelas satu untuk level Bangkalan. Rumah besar, dua kavling, bergaya Eropa di Jalan Kupang Jaya no 4, menjadi huniannya.
Menurut tetangganya, Siti jarang keluar dan rumah megah itu sering sepi dengan aktivitas, jika dibandingkan dengan status dia. Selain itu, Siti juga pernah menerima aliran dana suap dari suaminya sebesar Rp 600 juta.
Jadi istri muda, Evy Susanti ikut dibui bersama suaminya
Salah satu kasus korupsi teranyar ialah yang melibatkan pasangan suami istri mantan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Gatot Pujo Nugroho dengan istri mudanya Evy Susanti.
Keduanya menjadi tersangka kasus dugaan suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan.
Evi berperan memberikan uang operasional kepada pengacara kondang OC Kaligis.
Namun, Pengacara Gatot, Razman Arief Nasution sedikit mengungkap sosok Evy. Menurut dia, Evy merupakan anak mantan pejabat.
Â
"Ibu Evy itu orangtuanya adalah mantan Sekretaris Dirjen Kementerian Kesehatan," ujar Razman beberapa waktu lalu.
Dikatakan Razman, Evy juga seorang sarjana hukum yang kerap menjadi pengacara sejumlah pejabat pemerintahan.
"Ibu Evy seorang sarjana yang mengerti hukum. Beliau juga pengurus Kadis (Kepala Dinas) dan ada usaha-usaha salah satunya kecantikan. Saya tidak dalami," kilahnya.
Untuk itu, Razman klaim jika kliennya itu tidak memiliki harta dari tindak pidana korupsi. Sehingga, kekayaan yang dimiliki Evy adalah murni dari hasil pekerjaan dan pemberian Gatot sebagai suaminya.
"Jadi dana selama ini murni dari pekerjaan dan pemberian suaminya (Gatot), tidak dalam rangka hasil pemerasan atau janji apalagi suap," tandasnya.
Gatot dan Evi disangkakan telah melanggar Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 ayat 1 dan pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.