Usai serang sekte diduga sesat, warga Jembrana gelar musyawarah
Polisi berharap dengan musyawarah itu tercapai solusi menyeluruh.
Ratusan warga Dusun Pengeragoan Dauh Tukad, Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Bali menyerang sekelompok orang terlibat dalam sekte Wayan Arka diduga sesat. Hari ini, Minggu (24/4), musyawarah pimpinan Kecamatan Pekuatatan melakukan langkah perdamaian.
Dari pertemuan masih berlangsung itu, diketahui I Wayan Arka adalah warga Ketewel, Gianyar, Bali yang tinggal dan menetap di Dusun Pengragoan Dauh Tukad, Desa Pengragoan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana. Arka menetap di Jembrana sejak 2015. Dia melakukan pemujaan dengan caranya, dan dianggap warga setempat sebagai aliran sesat.
Hanya saja, sejak tinggal di dusun itu, Wayan Arka bersama keluarganya tidak masuk sebagai warga adat Pengragoan. Saban hari, lelaki ini cenderung tertutup dan pekarangan rumahnya selalu terkunci rapat.
Di awal 2015 lalu, I Wayan Arka tiba-tiba membangun sebuah patung besar dan tinggi. Bentuknya aneh menyerupai raksasa. Sebenarnya, warga sempat bertanya terkait keberadaan patung itu. Arka menyatakan saat itu patung itu hanya hiasan.
"Tapi setelah patungnya jadi justru dijadikan tempat persembahyangan atau disembah. Bahkan dia (Wayan Arta) mengajak pengikut yang banyak," kata pimpinan (Kelian) Dusun Pengragoan Dauh Tukad, I Ketut Mustika, Minggu (24/4).
Karena dinilai menyimpang dari ajaran Hindu dan tidak sesuai dengan adat setempat, warga memprotes Wayan Arka dan meminta patung itu dirobohkan. Karena permintaan itu diabaikan Arka, warga dengan mengenakan pakaian adat datang beramai-ramai mendatangi rumahnya mendesak patung itu dihancurkan.
"Jadi kejadian tadi malam itu bukan yang pertama kalinya. Pertengahan tahun 2015 lalu warga sempat menyerbu dan meminta patung itu dirobohkan. Akhirnya patung itu dirobohkan oleh pemilik dan dibantu warga," ujar Mustika.
Sempat tidak berkegiatan, tiba-tiba pada Sabtu (23/4) sore, pengikut Wayan Arka kembali berkumpul. Malam harinya, I Wayan Arka dan 150 pengikutnya bersembahyang dan menyembah patung sudah dirobohkan pada 2015 lalu.
Karena warga kesal dan takut sekte itu bangkit lagi, akhirnya warga menyerbu dan membubarkan kegiatan dinilai menyimpang itu.
Pantauan di lokasi, satu peleton unit Pengendalian Massa dari Polres Jembrana, dibantu anggota Polsek Pekutatan dan aparat TNI, masih siaga di lokasi penyerangan dan di sekitar tempat mediasi digelar di kantor camat.
Bahkan sejak Sabtu malam hingga Minggu pagi, Kapolres Jembrana, AKBP Djoni Widodo, Wakapolres Jembrana, Kompol AA Rai Laba, Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP Gusti Made Sudarma Putra, masih mengikuti mediasi.
"Bapak Kapolres belum pulang dari kemarin. Bahkan beliau tadi malam tidur di lantai," kata Sudarma.
Menurut Sudarma Putra, polisi dan unsur Muspika Kecamatan Pekutatan saat ini masih menunggu keputusan dari tokoh-tokoh kedua kelompok warga.
"Intinya kami ingin ada solusi yang baik sehingga permasalahan tersebut bisa selesai," tutup Sudarma.