Cerita di Balik Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Yang Fenomenal
Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi salah satu karya terbaik Raden Saleh. Bagaimana kisah di baliknya?

Lukisan itu menjadi salah satu karya terbaik Raden Saleh. Bagaimana kisah di baliknya?

Cerita di Balik Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang Fenomenal

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Diselesaikan Raden Saleh Tahun 1857
Lukisan itu menjadi antitesis dari lukisan seorang pelukis Belanda bernama Nicolaas Pieneman. Penangkapan Diponegoro menggambarkan adegan yang berlawanan dengan yang dilukis Belanda.

Dalam Lukisan Pieneman, Pangeran Diponegoro Tampak Pasrah Menghadapi Peristiwa Itu,
Jenderal De Cock Terlihat Jumawa dan Berdiri Dengan Pongah, Lebih Tinggi dari Diponegoro

Dalam Lukisan Raden Saleh, Pangeran Diponegoro Tampak Berdiri Dengan Sikap Menantang
Tangannya terkepal dengan kepala mendongak. Wajahnya tak sedikit pun menunjukkan rasa takut. Sementara orang-orang Belanda yang culas digambarkan dengan kepala besar dan wajah tanpa ekspresi.
Awal Raden Saleh Memutuskan Melukis Penangkapan Diponegoro
Raden Saleh mengetahui wafatnya Pangeran Diponegoro dari sebuah artikel tanggal 3 Februari 1855. Sesaat setelah itu, dia memutuskan untuk melukis penangkapan pejuang Perang Jawa tersebut. Raden Saleh meminta izin pemerintah Belanda untuk melakukan penelitian ke Magelang. Tempat penangkapan Diponegoro di kediaman Residen Kedu. Namun Pemerintah Kolonial tidak memberikan izin.

Sosok Diponegoro Erat Kaitannya Dengan Pribadi Raden Saleh.
Saudara Sepupu Raden Saleh, Raden Sukur dari Semarang berjuang di barisan Diponegoro melawan Belanda, Paman Raden Saleh, Suradimanggala dan putera keduanya ditangkap Belanda dan diasingkan.
Setelah bercerai dengan istri pertamanya yang orang Eropa, Raden Saleh menikahi Raden Ayu Danudiredjo.

Istri Kedua raden Saleh pun Masih Keturunan Salah Satu Panglima Perang Diponegoro
Pria yang menunduk, menandakan dukacita atas peristiwa ditangkapnya Pangeran Diponegoro.

Konon Raden Saleh Melukis Dirinya Sendiri Dalam Lukisan Diponegoro
Lukisan Yang Telah Selesai, Kemudian Diserahkan Pada Raja Willem III.
Tak dijelaskan apakah Raja Belanda itu benar-benar meneliti setiap detilnya, karena Sang Raja bukan orang yang menyukai seni. Lukisan tersebut kemudian masuk ke ruangan rumah jompo militer di Broenbeek. Dari sana, tahun 1975 lukisan itu sampai di Indonesia sebagai hadiah dari keluarga kerajaan Belanda. Kini lukisan tersebut disimpan di Istana Presiden Yogyakarta.