Depok Lama dan Jejak Sejarah Kolonial Belanda yang Menawan
Depok Lama menyimpan warisan sejarah kolonial Belanda yang kaya, mencerminkan perjalanan waktu dan identitas kota.

Depok Lama, yang terletak di Kota Depok, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah kolonial Belanda yang sangat signifikan. Sejarah kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari sosok Cornelis Chastelein, seorang mantan pejabat Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang membeli tanah di wilayah tersebut pada akhir abad ke-17.
Chastelein mengubah wajah Depok dengan mempekerjakan antara 150 hingga 200 budak dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi, Kalimantan, Bali, dan Betawi.
Namun, yang membuat Chastelein berbeda adalah kebijakannya untuk membebaskan budak-budaknya. Ia tidak hanya memberikan kebebasan, tetapi juga tanah kepada mereka.
Chastelein mengajarkan mereka cara membaca dan menulis serta agama Kristen Protestan. Akibat kebijakannya ini, budak-budak yang dibebaskan tersebut kemudian membentuk 12 marga yang hingga kini masih ada keturunannya, yang dikenal sebagai 'Belanda Depok'. Istilah ini mungkin terdengar paradoks, namun mencerminkan sejarah unik yang dimiliki oleh Depok.
Peninggalan sejarah Belanda di Depok Lama masih dapat kita lihat hingga saat ini, di antaranya adalah bangunan-bangunan bergaya arsitektur kolonial. Rumah-rumah dengan halaman luas dan jendela besar dapat ditemukan di Jalan Pemuda, Jalan Kartini, Siliwangi, Mawar, Kenanga, dan Kamboja. Beberapa bangunan tersebut masih terawat dengan baik, sementara yang lainnya tampak kurang terurus, menciptakan kontras yang menarik.
Peninggalan Sejarah yang Masih Ada
Salah satu peninggalan yang paling mencolok adalah Jembatan Panus, yang dibangun pada tahun 1917 oleh insinyur Belanda, Andre Laurens. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Pancoran Mas dan Sukmajaya, dan dulunya merupakan jalur utama menuju Batavia. Keberadaan jembatan ini menjadi saksi bisu perkembangan infrastruktur pada masa kolonial.
Selain itu, tiang telepon pertama yang berdiri sejak tahun 1900 di Jalan Kartini juga menjadi bagian dari sejarah komunikasi di masa lalu. Tiang telepon ini merupakan simbol kemajuan teknologi yang dihadirkan oleh kolonial Belanda di wilayah tersebut.
Gereja GPIB Immanuel, yang dibangun pada tahun 1854, juga menjadi salah satu bangunan bersejarah yang patut dicatat. Gereja ini merupakan salah satu gereja tertua di Depok dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) didedikasikan untuk melestarikan situs-situs bersejarah peninggalan Belanda di Depok Lama, menunjukkan komitmen terhadap pelestarian warisan budaya.
Pemakaman Belanda dan Rencana Pelestarian
Pemakaman Belanda yang terletak di Jalan Kamboja menyimpan sekitar 2.000 jenazah orang Belanda dan keturunan Belanda Depok. Pemakaman ini kini berstatus cagar budaya, menambah kekayaan sejarah kawasan ini.
Pemerintah Kota Depok berencana untuk menetapkan Depok Lama sebagai kawasan cagar budaya, memberikan insentif pajak, dan merevitalisasi kawasan tersebut menjadi tempat wisata sejarah.
Rencana ini menunjukkan upaya pemerintah dalam melestarikan warisan sejarah yang berharga ini. Meskipun banyak perubahan yang terjadi seiring dengan perkembangan zaman, jejak Belanda di Depok Lama tetap menjadi bagian penting dari identitas kota ini. Pelestarian kawasan ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan dan masyarakat untuk lebih mengenal sejarah Depok.
Depok Lama, dengan segala peninggalan sejarahnya, menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan perubahan yang telah terjadi. Mempertahankan dan melestarikan sejarah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat untuk mengenang dan menghargai warisan yang telah ada.