Mengenal Kieh Jo Kato, Metode Pembentukan Karakter Orang Minangkabau
Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajarkan tentang sopan santun serta pembentukan karakter yang ditempa sedari kecil.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita diajarkan tentang sopan santun serta pembentukan karakter yang ditempa sedari kecil.

Mengenal Kieh Jo Kato, Metode Pembentukan Karakter Orang Minangkabau
Beberapa kelompok suku di Indonesia memiliki cara tersendiri untuk membentuk karakter seseorang. Bahkan, metode tersebut tak lepas dari falsafah yang berasal dari nenek moyang mereka.Pada orang Minangkabau, metode ini disebut dengan Kieh Jo Kato. Ya, metode ini menjadi bagian dari pembentukan karakter seseorang yang masih berkaitan erat dengan norma kesopanan terutama dalam bertutur kata. Kieh Jo Kato ini sudah berlangsung begitu lama. Akan tetapi, di zaman sekarang anak muda Minangkabau banyak yang tak mengetahui metode yang satu ini. Kieh Jo Kato menjadi solusi ketika orang tua memarahi atau menasihati anaknya.
Simak penelusuran mendalam Kieh Jo Kato yang dirangkum merdeka.com dari beberapa sumber berikut ini.
Menyampaikan Sesuatu
Mengutip dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, 'Kieh' adalah cara menyampaikan sesuatu dengan tidak berterus terang atau menggunakan perumpaan dalam penyampaiannya. Hal ini bertujuan agar seseorang yang diajak bicara tidak merasa direndahkan.
Sedangkan 'Kato' adalah cara penyampaian sesuatu dengan jujur, hanya saja penggunaan kata-katanya harus diperhatikan. Kieh Jo Kato menjadi simbol tingginya norma kesopanan dalam berbicara, sehingga komunikasi bisa terjalin dengan baik.Sebagai orang Minangkabau, tutur kata dalam komunikasi itu sangatlah penting agar interaksi bisa berjalan baik. Apabila bahasa yang digunakan kurang sopan, akan timbul kesalahpahaman dan bahkan bisa berujung konflik.
Penggunaan Bahasa
Dalam metode Kieh Jo Kato, pemilihan bahasa orang Minangkabau setiap berbicara sangat tertata rapi yang dikombinasi dengan ragam bahasa adat. Penggunaan bahasa ini dibuktikan ketika berlangsungnya upacara adat.
Selain itu, Kieh Jo Kato ini berlaku bagi seluruh orang Minangkabau. Praktiknya bisa dilihat ketika seseorang menyampaikan pidato adat atau nasihat, dan juga petatah petitih.
Penggunaan bahasa kiasan dalam setiap unsur Kieh Jo Kato ini menjadi gambaran orang Minangkabau dalam budaya yang bersifat dinamis, terbuka, dan fleksibel. Kemudian, penggunaan metafora menjadi kuncinya, karena menunjukkan kesantunan yang mampu menjaga harga diri masing-masing.
Diterapkan Masyarakat Matrilineal
Metode Kieh Jo Kato ini sudah diajarkan oleh nenek moyang orang Minangkabau. Metode ini bertujuan untuk memberikan pesan-pesan edukatif dari seorang 'mamak' atau ibu dan anggota kerabatnya.
Metode ini dari waktu ke waktu menjadi pondasi masyarakat dalam membentuk ketajaman berfikir dalam membentuk karakter seseorang. Kieh sendiri juga mengajarkan kepada orang agar yang tinggi ilmunya tidak menjadi orang yang sombong.
Kieh juga penting dalam sistem matrilineal orang Minangkabau. Mereka memiliki hubungan keluarga yang sangat luas. Apabila menjalin komunikasi tanpa diimbangi dengan norma yang diajarkan, pastinya akan menimbulkan perpecahan.
Sedangkan Kato, metode ini akan bisa berjalan ketika seseorang ingin menyampaikan pesan secara langsung. Anggota keluarga tentu mengajarkan keterbukaan dan jujur. Kato harus diperhatikan penyampaiannya, mulai dari tempatnya, siapa yang ditujukan dan situasi.