Ada Satu Laut di Bumi yang Tidak Menyentuh Daratan Sama Sekali, Ini Lokasinya
Lautnya ini diselimuti rumput laut berwarna kuning kecoklatan.

Lautnya ini diselimuti rumput laut berwarna kuning kecoklatan.

Ada Satu Laut di Bumi yang Tidak Menyentuh Daratan Sama Sekali, Ini Lokasinya
Di Bumi ini, ternyata ada satu perairan yang tidak menyentuh satu garis pantai pun.
Bagaimana bisa? Wilayah yang terletak di Samudra Atlantik Utara ini disebut Laut Sargasso dan memiliki ciri khas batas-batasnya yang unik. Dibandingkan daratan, pantai ini ditentukan oleh arus laut, jadi tidak ada pantai Sargasso yang bisa dikunjungi.

Mengutip Indy100, Jumat (29/12), lautnya diselimuti rumput laut berwarna kuning kecoklatan. Makanya disebut Sargassum. Lautnya berbau busuk dan telah menjadi rumah bagi pulau buatan manusia yang mengerikan, yang dijuluki North Atlantic Garbage Patch.
Sebuah organisasi khusus yang dibentuk untuk melindungi laut yang luar biasa ini menyebutnya sebagai “surga keanekaragaman hayati” yang memainkan peran penting dalam ekosistem Atlantik Utara yang lebih luas.
Komisi Kelautan Sargasso mencatat bahwa spesies sidat yang terancam punah pergi ke laut untuk berkembang biak, sementara paus – terutama ikan paus sperma dan paus bungkuk – bermigrasi melalui laut, begitu pula tuna dan jenis ikan lainnya.

Hal ini juga penting untuk mendukung siklus hidup sejumlah spesies terancam dan hampir punah, termasuk hiu Porbeagle dan beberapa jenis penyu. Laut ini tidak hanya melegenda di mata para ahli kelautan, tapi juga menjadi cerita rakyat.
Ia menulis tentang ketakutan para pelautnya bahwa rumput laut akan menjerat mereka dan menyeret mereka ke dasar laut.
Ketakutan seperti itu menjadi bagian dari pengetahuan laut selama berabad-abad, dan ketenarannya semakin meningkat karena hubungannya dengan Segitiga Bermuda yang terkenal.

Dalam Ancaman
Laut Sargasso kini berada dalam ancaman nyata akibat pelayaran – termasuk kebisingan di bawah air, kerusakan lapisan Sargassum, dan pelepasan bahan kimia, penangkapan ikan berlebihan, polusi dari puing-puing yang mengapung, dan perubahan iklim.
Sebuah studi baru, yang diterbitkan pada tanggal 8 Desember lalu, menemukan bahwa suhu laut menjadi lebih hangat, lebih asin, dan lebih asam dibandingkan sebelumnya sejak pencatatan dimulai pada tahun 1954.
Dengan demikian, hal ini dapat menimbulkan dampak yang serius dan luas terhadap sistem laut lainnya.