Bumi Kini Punya 2 Bulan, tapi yang Satu Tak Bisa Dilihat
Bulan yang satunya bukanlah sungguhan. Itu adalah asteroid yang mengelilingi Bumi.

Bumi kini memiliki pendamping sementara di luar angkasa yakni sebuah “bulan mini” bernama Asteroid 2024 PT5. Asteroid kecil berukuran seperti bus ini tertarik oleh gravitasi Bumi pada hari Minggu. Tetapi, jangan berharap bisa melihatnya dengan mata telanjang, kecuali jika Anda memiliki teleskop canggih.
Mengutip Businesstoday, Selasa (1/10), asteroid 2024 PT5 memiliki diameter sekitar 10 meter dan pertama kali terdeteksi oleh para ilmuwan di Spanyol pada Agustus lalu. Asteroid ini diperkirakan akan mengorbit Bumi selama dua bulan sebelum akhirnya lepas dari tarikan gravitasi dan kembali ke luar angkasa pada 25 November.
Tidak seperti Bulan yang mengelilingi Bumi secara penuh, bulan mini ini tiak akan menyelesaikan satu putaran penuh sebelum akhirnya terlempar kembali ke luar angkasa. Asteroid ini merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai sabuk asteroid Arjuna, yang memiliki lintasan serupa dengan orbit Bumi di sekitaran Matahari.
Bulan mini seperti ini sebenarnya bukan lagi fenomena yang sangat jarang terjadi. Seperti pada tahun 2020, sebuah bulan mini serupa juga pernah terlihat, namun ukurannya yang kecil membuatnya sulit dideteksi.
Kenapa Tak Bisa Dilihat?
Setidaknya dengan mata telanjang, bulan mini tak bisa dilihat. Bahkan teleskop biasa pun tidak cukup kuat untuk dapat melihatnya. Hanya teleskop kelas profesional yang mampu melihat sekilas 2024 PT5, mengingat ukurannya yang kecil dan kecerahannya yang redup.
Para ilmuwan juga masih belum yakin apakah asteroid ini murni berupa batu angkasa atau mungkin pecahan dari Bulan yang lama terlepas. Yang menarik, bulan mini ini diprediksi akan kembali mendekati Bumi pada tahun 2055, menjadikannya tamu yang jarang, tapi bukan hal yang tidak mungkin terjadi.
Meskipun keberadaannya singkat, bulan mini ini mengingatkan kita akan banyaknya objek langit yang melintas dekat dengan Bumi. Dengan ribuan batuan angkasa yang terus bergerak, para ilmuwan terus memantau pergerakan mereka untuk memahami lebih dalam dinamika tata surya kita.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia