Mengenal Aphelion dan Dampaknya, Fenomena Bumi saat Jauh dari Matahari
Aphelion adalah fenomena ketika posisi Bumi berada pada titik terjauh dengan Matahari. Namun, fenomena ini tidak berdampak secara signifikan pada bumi.
Mungkin kita berpikir bahwa posisi bumi selalu stabil. Padahal, ada beberapa momen di mana bumi berada jauh dari matahari.
Mengenal Aphelion dan Dampaknya, Fenomena Bumi saat Jauh dari Matahari
Apa Itu Aphelion?
Aphelion adalah titik terjauh orbit suatu benda angkasa dari Matahari. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu “apo” yang berarti jauh dan “helios” yang berarti Matahari. Aphelion juga dapat diartikan sebagai kondisi benda-benda langit atau planet yang berada pada titik terjauh dari Matahari.
Fenomena aphelion terjadi satu kali setiap orbit bumi mengelilingi matahari (satu revolusi). Yang berarti fenomena aphelion terjadi setiap tahun sekali. Fenomena aphelion bukanlah fenomena penampakan benda langit yang bisa dilihat, sehingga tidak ada perubahan yang terlihat di langit. Bumi hanya akan berada di posisi orbit paling jauhnya dari Matahari. Fenomena aphelion tidak berpengaruh pada suhu di bumi. Suhu dingin yang dirasakan adalah efek dari musim kemarau. Saat musim kemarau, awan di langit lebih sedikit. Hal tersebut membuat Bumi tidak memantulkan panas yang diserap pada siang dan malam hari saat pagi. Sehingga udara pagi akan terasa lebih dingin.
Dampak Aphelion
Aphelion adalah fenomena astronomi ketika posisi Bumi berada pada titik terjauh dengan Matahari. Fenomena ini terjadi setiap tahunnya karena orbit Bumi yang berbentuk elips.
Dampak aphelion terhadap bumi adalah gerakan Bumi melambat sekitar 3,4 detik per hari dibandingkan saat perihelion (titik terdekat Bumi dengan Matahari). Hal ini karena hukum Kepler yang menyatakan bahwa kecepatan orbit sebuah planet berbanding terbalik dengan jaraknya dengan Matahari. Selain itu, aphelion juga menyebabkan Matahari tampak lebih kecil dari Bumi karena jaraknya yang lebih jauh. Namun, perbedaan ukuran Matahari saat aphelion dan perihelion tidak begitu terlihat oleh mata manusia.
Secara umum, aphelion tidak berdampak signifikan pada cuaca atau suhu di Bumi. Hal ini karena faktor-faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti kemiringan sumbu Bumi, musim, tutupan awan, angin muson, dan lain-lain.
Cuaca dingin yang dirasakan di beberapa wilayah Indonesia pada bulan Juli juga bukan karena fenomena aphelion, melainkan disebabkan oleh faktor lain, seperti musim kemarau, tutupan awan, dan angin musim dingin dari Australia.