Cerita Meli 3GP Mengaku Terpaksa Diajak Main Film Porno: Cuma Dibayar Rp1 Juta
Meli mengaku proses ajakan kepadanya terkesan memaksa, dengan I yang selalu menghubunginya lewat DM Instagram.
Meli dan sejumlah pemain diperiksa polisi.
Cerita Meli 3GP Mengaku Terpaksa Diajak Main Film Porno: Cuma Dibayar Rp1 Juta
Selebgram Anisa Tasya Amelia alias Meli 3GP jadi salah satu saksi yang telah diperiksa penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Lantaran, ikut terlibat dalam pemeran film porno rumah produksi Kelasbintang.com.
Usai jalani pemeriksaan, Meli menceritakan awal mula dirinya diajak untuk menjadi pemeran. Karena ditawari tersangka I sekaligus sutradara untuk membuat konten YouTube dan tidak tahu ternyata film itu bernuansa pornografi.
"Tidak tahu. Tadinya cuma dibilang mau bikin konten YouTube aja. Setelah tahu dari beberapa teman yang meranin pun, aku nggak mau yang adegannya terlalu vulgar," kata Meli kepada wartawan, usai pemeriksaan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (19/9).
- Dibayar Rp10 Juta, Siskaeee Mengaku Dipaksa Mainkan Adegan Porno di Film Kramat Tunggak
- Kasus Produksi Film Porno, Berkas Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejati DKI
- Pengakuan Para Pemeran Film Porno di Jaksel: Hanya Dibayar Rp1 Juta, Padahal Dijanjikan Rp15 Juta
- Intip Momen Baim Wong Kembali Syuting, Diduga Bakal Main Film
"Kebetulan aku nggak ada adegan ciuman sama bersetubuh. Cuma teknik kamera," tambah Meli.
Adapun, Meli mengaku proses ajakan kepadanya terkesan memaksa, dengan I yang selalu menghubunginya lewat DM Instagram. Ia pun mengaku tidak bisa menolak ajakan untuk bermain film mulai 11.00 WIB - 15.00 WIB, di Jakarta Selatan.
"Dipaksa mainin adegan yang dia suruh, kayak buka baju gitu-gitu. Itu pun tidak ada script. Aku cuma disuruh ikutin apa yang dia bilang. Ya di situ aku posisinya nggak punya temen, jadi terpaksa ikutin. Aku nggak tahu mau nyelametin dirinya gimana, kan timnya banyak," katanya.
Selama memeran film tersebut, Meli mengaku hanya dibayar Rp1 juta untuk satu sesi film. Karena hal tersebut, ia pun menolak ajakan bermain film selanjutnya oleh tersangka I.
"Kemarin kan ada yg bilang dibayar 10 juta sampai 15 juta, tapi nyatanya aku cuma dibayar 1 juta," kata dia.
"Dia sempet ngajak aku main lagi tiga kali, tapi aku nggak mau. Dia nawarin 3 hari Rp5 juta, 3 hari Rp7 juta terus 1 hari Rp1,5 juta. Aku nggak mau, karena udah trauma," sambungnya.
Ujang Ronda
Ada juga artis senior Ujang Ronda merasa terjebak ketika diajak jadi pemeran film 'Kramat Tunggak'. Karena tidak mengetahui film yang dibintanginya bersama Selebgram Siskaeee ternyata film porno hasil rumah produksi kelasbintang.com.
Hal itu disampaikan Ujang usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Selasa (19/9) malam.
"Aman aja semua sudah diklarifikasi. Tiga pertanyaan, pertanyaannya gue di situ bermain sebagai 'Wa Ujang'. Karena saat gue syuting itu, nggak pakai skenario, gue improvisasi," kata Ujang kepada wartawan.
Menurutnya, sebagai pemeran yang beradu akting dengan Siskaeee. Sedari awal proses syuting di rumah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ia yang memerankan 'Wa Ujang' sebagai penjual kopi mengaku tidak tahu ada adegan film porno.
"2022, jadi gue klarifikasi sama wartawan, gue main sebagai wa ujang, ada salah satu tempat prostitusi, gue dagang kopi di situ, begitu orang abis a night to remember di situ. Ngobrol sama gue sambil ngopi," katanya.
"Jadi gue bilangin, 'neng, nggak ada salahnya kalau lu cari laki yang baik-baik, emang lu nggak capek hidup begini terus?' Gue cuma nasehatin aja. Kelar syuting pun gue pulang, dan gue nggak tahu ada adegan begitu (porno)," tambah Ujang.
"Iya merasa kejebak, jadi beritanya sampai disini aja, ini mungkin teguran buat gue. Karena saat itu covid, gue berusaha untuk nyari nafkah buat anak bini, satu-satunya cuma itu yang gue ditawarin. Itu tuntutan perut harus dipenuhi, lu tau nggak pas covid? Gue kalau cewek bisa jadi pelacur, karena nggak ada kerjaan buat gue," ucapnya.
Bima Prawira
Selain itu, ada Bima Prawira yang mengaku termakan iming-iming yang disampaikan oleh I selaku sutradara merangkap produser rumah produksi kelasbintang.com.
"Di sini saya merasa jadi korban atas penipuan dari produser itu yang menjadikan legal ternyata ilegal justru saya sebagai pemain di sini syok, kaget. Itu saja terimakasih," ujar Bima.
Update Kasus
Sekadar informasi saat ini polisi tengah memeriksa sejumlah saksi para pemeran dari rumah produksi film porno Kelasbintang.com. Adapun dari total 16 pemeran yang dijadwalkan pemeriksaan hari ini, hanya 12 pemeran yang memenuhi panggilan.
Termasuk Siskaeee yang disebutkan akan menjalani pemeriksaan sebagai saksi Senin (25/9) pekan depan. Karena berhalangan hadir dalam pemeriksaan hari ini.
"Itu yang saya sampaikan, bahwa talent wanita maupun pria merupakan saksi fakta. Jadi keterangannya diperlukan diambil keterangannya dalam kapasitas untuk menguak fakta peristiwa yang terjadi dari dugaan tindak pidana yang kita ungkap," jelas Dirreskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak kepada wartawan, Selasa (19/9).
Meskipun pemeriksaan para pemeran saat ini masih dalam kapasitas sebagai saksi, namun Ade Safri tak menutup kemungkinan jika mereka bisa dinaikan statusnya menjadi tersangka.
"Nanti kita akan lihat dalam pelaksanaan gelar perkara yang akan kita lakukan setelah nanti pemeriksaan ahli kita lakukan dan kemudian kita akan melakukan gelar perkara," ucapnya.
"Untuk memberikan kepastian hukum apakah para saksi yang kita lakukan pemeriksaan ini bisa ditingkatkan statusnya menjadi tersangka. Atas pertimbangan dua alat bukti yang sudah dimiliki oleh penyidik," timpal dia.
Lima Tersangka
Diketahui setelah kasus rumah produksi film porno terbongkar, kini sudah ada lima tersangka yang diciduk. Yakni, I sebagai sutradara merangkap produser. Kemudian, JAAS sebagai kamerawan, AIS sebagai editor film, AT sebagai sound engineering, dan SE sebagai sekretaris merangkap pemeran wanita.
Kelima tersangka dikenakan Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 dan/atau Pasal 34 ayat 1 juncto Pasal 50 Undang-Undang No 19 tahun 2015 tentang perubahan atas Undang-Undang No 11 tahun 2008 terkait dengan informasi dan transaksi elektronik.
"Dan juga kita lapis dengan Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan/atau pasal 4 ayat 2 juncto Pasal 30 dan/atau Pasal 7 juncto Pasal 33 dan atau Pasal 8 juncto pasal 39 dan/atau Pasal 9 juncto Pasal 35 Undang-Undang No 44 tahun 2008 tentang Pornografi," tandas Ade Safri.