Hamili anak kandung, pria Bali jalani upacara adat
Penyelesaian secara hukum adat dipilih untuk membersihkan desa.
Pihak desa adat Sudaji kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng menggelar Caru Balik Sumpah, upacara pembersihan desa akibat peristiwa yang tidak wajar seorang gadis remaja yang dihamili ayah kandungnya. Anehnya, upacara yang dipimpin Ida Pandita Mpu Nabe Yogiswara Dharmajaya dari Griya Suka Asti Bakung ini tidak dihadiri kedua orang yang terkena sanksi, Gede PY (40) dan NP (17).
Dalam surat pernyataan, Gede PY mengakui perbuatannya berhubungan badan dengan putrinya. Ia mengaku sanggup melaksanakan segala tuntutan desa adat, melaksanakan pemrayascita atau membersihkan segala kotoran di wilayah Desa Adat Sudaji.
Tuntutan adat tersebut harus dilakukan Gede PY selama 2 hari yakni, 22 hingga 23 September, di perempatan agung Desa Sudaji. Apabila tidak melaksanakan tuntutan Desa, maka keduanya siap diasingkan dari Desa Sudaji.
Dalam rangkaian upacara ini sebelumnya, keduanya sempat dilakukan Pelukatan (pemandian buang sial) yang dilakukan di Pantai dengan disaksikan sejumlah keluarga dan warga adat. Sayangnya dalam upacara pecaruan desa, keduanya tidak dihadirkan. Hal ini membuat sejumlah warga kecewa, lantaran keduanya sudah membuat kotor desa.
"Secara hukum surat pernyataan ini, tidak absah, kok tidak ada tanggal, kapan? Bukan itu saja, yang bersangkutan (GPY dan LSCD, red) juga tidak hadir dalam Upacara ini, padahal kan mereka yang membuat leteh Gumi (desa kotor)," keluh Anggota Dadia Desa Adat Petang Dasa, Ketut Dibia yang hadir dalam Upacara itu, Kamis (24/9) di Buleleng.
Penyelesaian secara hukum adat dilakukan mengingat ada isu yang menyebutkan kalau anaknya setiap malam dipaksa untuk memenuhi nafsu bejat sang ayah. Bahkan selama ini tidak hanya tidur serumah tetapi sudah sekamar layaknya suami istri.
Sementara itu, Jro Bendesa Desa Adat Pakraman Sudaji, Jro Nyoman Sunuada menegaskan, Upacara Mecaru Balik Sumpah ini dilakukan berdasarkan hukum adat yang ada di Desa Pakraman Sudaji. Upacara ini hanya diperuntukkan untuk pembersihan desa semata.
"Ini cuma untuk pembersihan desa, karena desa kami leteh (kotor), akibat adanya perbuatan terlarang. Kalau yang bersangkutan itu, upacaranya dibersihkan di Segara (pantai) Sangsit, di sana mereka dilukat (dimandikan) sebelum kembali ke desa," terang Jero Sunuada.