Ini Alasan Mengapa Banyak Orang Percaya Pseudoscience, Bahkan Orang Pintar Juga Bisa Mempercayainya
Banyak orang mempercayai pseudoscience, bahkan walaupun ketika dia cukup terdidik.

Pseudoscience telah menjadi salah satu tantangan terbesar dalam memahami pengetahuan dan realitas modern. Banyak orang, termasuk mereka yang cerdas dan berpendidikan, sering kali mempercayai klaim-klaim yang tidak didukung oleh bukti ilmiah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa pseudoscience begitu menarik bagi begitu banyak orang, bahkan bagi mereka yang seharusnya lebih memahami ilmu pengetahuan? Jawaban atas pertanyaan ini dapat ditemukan dalam kombinasi psikologi, sejarah, dan sifat manusia itu sendiri.
Dilansir dari Gizmodo, menurut Robert MacDougall, seorang Associate Professor di University of Western Ontario yang mempelajari sejarah ilmu pengetahuan dan pseudoscience, keyakinan orang terhadap sesuatu tidak semata-mata didasarkan pada kebenaran atau fakta.
"Akan sangat menyenangkan ketika kita bisa mempercayai sesuatu karena kebenarannya dan tidak percaya sesuatu karena terbukti salah. Namun, hal ini bukanlah satu-satunya hal yang membuat suatu pemikiran dipercaya dan menyebar," jelasnya.
Keyakinan sering kali bertahan karena ide tersebut memiliki manfaat tertentu, baik secara individual maupun sosial. Misalnya, seseorang mungkin percaya pada teori atau metode pengobatan alternatif karena mereka sangat ingin sembuh dari penyakit serius, bahkan jika metode tersebut belum terbukti efektif secara ilmiah.
Selain itu, banyak orang mempercayai pseudoscience karena keyakinan tersebut mendukung narasi pribadi tentang siapa mereka sebenarnya. Keyakinan palsu sering kali memperkuat identitas dan pandangan diri seseorang. Sebagai contoh, seorang flat earther mungkin merasa sebagai seseorang yang skeptis terhadap otoritas atau ilmuwan, dan hal ini mendukung citra diri mereka sebagai "pembangkang" terhadap tatanan yang ada.
Sementara itu, orang yang percaya pada sains modern mungkin melakukannya tidak hanya karena bukti-bukti yang mendukung, tetapi juga karena hal itu selaras dengan citra mereka sebagai individu yang rasional dan berpendidikan.
Christopher French, seorang profesor psikologi di Goldsmiths University, juga menekankan bahwa banyak orang tidak memiliki pemahaman yang mendalam tentang ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Hal ini membuat mereka mudah tertipu oleh klaim yang disajikan dengan bahasa ilmiah yang tampak meyakinkan.
"Sebagian besar orang tidak benar-benar memahami apa itu ilmu pengetahuan dan bisa mempercayai suatu hal atau klaim ketika disajikan dalam bahasa yang sok ilmiah," terangnya.
Misalnya, istilah seperti energi, getaran, frekuensi, atau resonansi sering digunakan oleh penganut pseudoscience untuk mendukung klaim mereka. Padahal, istilah-istilah tersebut sering kali tidak digunakan dengan cara yang sesuai oleh para ilmuwan sejati.
Lebih lanjut, pendukung pseudoscience cenderung mengabaikan bukti yang bertentangan dengan klaim mereka. Mereka sering kali mengemukakan alasan-alasan palsu untuk menolak bukti tersebut, seperti mengklaim bahwa ilmu pengetahuan "terlalu kasar" untuk mengukur efek yang ada, atau bahwa kondisi pengujian yang dilakukan tidak sesuai. Hal ini menunjukkan adanya "loophole" atau celah yang memungkinkan pseudoscientist untuk menghindari potensi pembuktian yang bertentangan dengan klaim mereka.
Fenomena pseudoscience juga sering kali didorong oleh confirmation bias, di mana seseorang cenderung mencari dan mempercayai informasi yang mendukung keyakinan mereka, sambil mengabaikan bukti yang bertentangan. Selain itu, pseudoscience biasanya menawarkan solusi atau penjelasan yang diinginkan oleh individu, seperti keajaiban penyembuhan atau keberadaan kehidupan setelah mati. Harapan-harapan ini membuat seseorang lebih rentan mempercayai sesuatu, meskipun hal itu tidak memiliki dasar ilmiah.
Pada akhirnya, untuk melawan keyakinan terhadap pseudoscience, kita harus memahami bahwa keyakinan ini sering kali berakar pada kebutuhan emosional atau sosial individu. Mematahkan keyakinan tersebut bukan hanya tentang menghadirkan bukti ilmiah, tetapi juga memahami "fungsi" yang dimainkan keyakinan tersebut dalam kehidupan orang yang mempercayainya.