Cerita Rasisme Stasiun Tanjung Priok di Zaman Kolonial, Ruang Tunggu Penumpang Belanda dan Pribumi Terpisah
Diperkirakan pada abad ke-20, penumpang Belanda enggan menyatu dengan pribumi sehingga dibangun ruang terpisah di stasiun.

Tidak dipungkiri kehadiran pemerintah kolonial di masa silam amat berperan dalam kehadiran fasilitas transportasi modern di Indonesia. Stasiun Tanjung Priok jadi salah satu bangunan megah, yang pernah dibangun di Hindia Belanda.
Adanya stasiun ini turut membantu mobilitas warga, termasuk perdagangan dan perindustrian. Barang dari pelabuhan bisa terdistribusi dengan cepat ke pusat kota Batavia, tanpa harus antre di jalan karena menggunakan kereta kuda.
Sayangnya, di balik kehadirannya yang dianggap mentereng pada masa itu turut terdapat kisah pilu yang diduga rasisme di sana. Saat beroperasi antara tahun 1900-an awal, para penumpang Belanda enggan menyatu dengan para pribumi.
Lebih parah lagi, pengelola sampai harus memisah ruang tunggu bagi penumpang Belanda dan pribumi. Restoran pun juga dibedakan, dengan menu yang jauh dari setara.
Sampai sekarang, ruang tunggu yang dibedakan masih bisa disaksikan bentuk fisiknya. Berikut kisah rasisme di Stasiun Tanjung Priuk yang pernah terjadi di masa silam.
Kemegahan Stasiun Tanjung Priok Terinspirasi dari Stasiun di Amsterdam

Menurut sejarah, desain atap dari Stasiun Tanjung Priok terinspirasi dari Centraal Station di Amsterdam, Belanda. Bentuknya melengkung memanjang mirip terowongan, dengan susunan rangka baja yang saling terhubung.
Merujuk Wikipedia, struktur rangka dibuat sepenuhnya di Machinefabriek Braat, Ngagel, Surabaya. Kemudian, disusun di bagian atap dengan tenaga ahli agar hasilnya presisi.
Setidaknya stasiun ini pernah dua kali berada di masa jaya, pertama pada 1885 ketika stasiun baru diresmikan. Kemudian, keberadaannya dipindah di tahun 1925 saat pemerintah Hindia Belanda memasang rel listrik untuk konektivitas trem.
Nuansa Khas Kolonial Terasa di Stasiun Tanjung Priok
Bagi penyuka sejarah, Stasiun Tanjung Priok jadi tempat menarik untuk dijelajahi. Hampir seluruh bangunannya masih mempertahankan gaya art deco, dengan bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan berpola setengah kubah.
Kemudian, seluruh dindingnya dicat menggunakan warna putih sehingga menampakkan kesan abad ke-20 awal. Pilar-pilar yang menopangnya juga masih dipertahankan sejak bangunan ini didirikan.
“Stasiun Tanjung Priok ini menariknya sudah beroperasi sejak zaman Belanda, ya. Tepatnya di tahun 1925,” kata pengamat sejarah Candrian Attahiyyat di kanal Youtubenya, dikutip Selasa (1/10).
Kisah Rasisme di Stasiun Tanjung Priok saat Zaman Belanda

Di balik kemegahannya, stasiun ini turut menyimpan sisi kelam. Di masa silam saat masih dipegang oleh pemerintah kolonial, terjadi rasial antara penumpang Belanda dan pribumi di sana.
Menurut Candrian, pengelola sampai membuat ruangan tersendiri bagi penumpang agar tidak bercampur. Belanda dengan ruang tunggunya yang besar dan megah, sedangan irlander atau pribumi berukuran lebih kecil.
“Dan yang menarik dari stasiun ini adalah, terjadinya perlakuan terhadap penumpang. Jadi penumpang pribumi dan Eropa itu ditempatkan secara berbeda,” katanya.
Ukuran Ruang Tunggu Pribumi dan Eropa

Secara jelas, rasisme yang terjadi pada masa itu adalah pemisahan penumpang antara Eropa dengan pribumi. Pemisahnya adalah ruangan tengah menuju peron jalur kereta api.
Candrian menyebut bahwa ruang tunggu pribumi dan Belanda memiliki ukuran yang hampir sama. Keduanya juga memiliki restoran yang berbatasan dengan ruang tunggu tersebut. Namun saat ini hanya satu bekas restoran yang masih bisa dilihat.
“Restoran ruang tunggu Eropa besar sekali, kemungkinan hanya menunya saja yang berbeda, kalau pribumi mungkin singkong rebus, tapi kalau Eropa tentu saja roti,” katanya.
Candrian sendiri membandingkan ruang kedua berdasarkan peta De Ingenieur yang terbit pada 12 Januari 1929. Di sana terlihat memang ruang tunggu keduanya saling berjuhan. Peta ini juga memuat secara utuh denah dari stasiun Tanjung Priok.