Melihat Lebih Dekat PLTA Peninggalan Penjajah Belanda di Semarang, Masih Banyak Bangunan Tua Kolonial yang Berdiri Kokoh
Saat ini, deretan rumah dinas itu dijuluki sebagai kampung kolonial.

Saat ini, deretan rumah dinas itu dijuluki sebagai kampung kolonial.

Melihat Lebih Dekat PLTA Peninggalan Penjajah Belanda di Semarang, Masih Banyak Bangunan Tua Kolonial yang Berdiri Kokoh
Bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda itu masih berdiri kokoh. Tampak beberapa bagian sudah ditumbuhi lumut. Namun kerangka bangunannya masih utuh.
Dulunya rumah-rumah itu digunakan sebagai tempat tinggal para karyawan di Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok. Di sebelahnya ada jalur lori yang juga merupakan peninggalan kolonial. Di sana juga masih tersisa satu buah lori yang kini tak digunakan lagi.
Lori itu digerakkan menggunakan katrol. Ada sebuah bangunan tersendiri yang digunakan untuk menempatkan mesin penarik katrol itu. Dalam sebuah tulisan di sana, diketahui kalau fasilitas lori itu dibangun pada tahun 1937.

Mengutip YouTube Jejak Tempo Doeloe, rel roli itu dibangun oleh perusahaan Belanda Nederland-Indische Spoorweg Maatschappij. Rel itu digunakan untuk mengangkut perlengkapan-perlengkapan untuk membangun PLTA dari Stasiun Tuntang ke tempat pembangunan. Jarak Stasiun Tuntang dengan PLTA Jelok itu adalah sekitar 4-5 km.

Tak jauh dari sana terdapat deretan rumah dinas yang dulunya digunakan sebagai tempat tinggal para karyawan PLTA. Saat ini, deretan rumah dinas itu dijuluki sebagai kampung kolonial.
Beberapa rumah masih digunakan hingga kini dan tidak buka untuk umum. Dua rumah yang megah adalah milik Kepala dan Wakil Kepala PLTA Jelok. Lalu di sebelahnya ada gedung pertemuan sedangkan di bagian paling pojok terdapat bangunan yang diperuntukkan bagi karyawan biasa.

Di sana, pemilik kanal YouTube Jejak Tempo Doeloe bertemu Bapak Waluyo. Dia merupakan pensiunan karyawan PLTA Jelok.
Sebelum ada PLTA Jelok, di tempat itu sudah ada pembangkit listrik serupa bernama PLTA Susukan. PLTA itu memiliki tiga buah pipa besar dan tujuh buah mesin. Namun karena dimakan usia, banyak pipa maupun turbin yang mengalami kebocoran. Karena itulah dibangun PLTA baru yang jaraknya hanya 200 meter di sebelah PLTA Susukan.
“Tahun pembangunannya sendiri saya tidak tahu mulai kapan, tapi tahun 1938 PLTA Jelok ini sudah beroperasi,” kata Waluyo dikutip dari kanal YouTube Jejak Tempo Doeloe.
Pada waktu itu, warga di sekitar PLTA belum bisa membaur sepenuhnya dengan karyawan PLTA Jelok yang didominasi kaum pendatang dari warga keturunan Belanda. Namun kemudian terjadi asimilasi bersamaan dengan mulai banyaknya kaum pribumi yang bekerja di PLTA itu.
“Namun ini hanya sebatas hubungan kemasyarakatan yang belum begitu akrab, dan hubungan kerja yang masih berdiri sendiri-sendiri,” ujar Waluyo.
Waluyo mengatakan, pada tahun 1998, pernah ada seorang warga negara Belanda yang datang bernostalgia di PLTA Jelok. Ia mengaku pada masa kolonial pernah menempati salah satu rumah kuno di sana.
“Dia tidak begitu lama di sini. Tapi saya pesan kepada dia, tolong dikirimi foto bapak anda. Karena yang tertera di sejarah itu hanya namanya. Fotonya kami tidak ada,” ungkap Waluyo dikutip dari kanal YouTube Jejak Tempo Doeloe.