Masih Tersisa Hingga Kini, Begini Jejak Peninggalan Bangsa Portugis pada Budaya Nusantara
Hingga kini, jejak keberadaan Portugis masih bisa dijumpai pada banyak lokasi di Indonesia.

Hingga kini, jejak keberadaan Portugis masih bisa dijumpai pada banyak lokasi di Indonesia.

Masih Tersisa Hingga Kini, Begini Jejak Peninggalan Bangsa Portugis pada Budaya Nusantara
Pada abad ke-16 Portugis pernah datang dan menjajah Kepulauan Nusantara. Mereka datang ke Nusantara demi menguasai pulau-pulau penghasil rempah. Hingga kini, jejak keberadaan Portugis masih bisa dijumpai pada banyak lokasi di Indonesia.


Selain itu, sisa penjajahan Portugis ini juga bisa dijumpai pada budaya Nusantara, beberapa di antaranya adalah penggunaan nama-nama pulau yang beberapa masih digunakan hingga kini.
Tanjung Bunga
Pada awal tahun 1512, seorang pelaut Portugis bernama Afonso de Albuquerque melihat ujung timur Pulau Flores. Ia terpesona akan keindahannya.
Baginya, Pulau Flores tampak seperti bunga. Sontak ia langsung berseru “Cabo das Flores” yang artinya Tanjung Bunga.
Sebutan Cabo Das Flores ini langsung populer di kalangan para pelaut Portugis. Di kemudian hari, seorang pelaut dan pedagang Belanda bernama S.M Cabot memberi pulau tersebut dengan nama “Flores”.
Sejak saat itu, nama “Flores” muncul dalam catatan dokumen perdagangan portugis.
Ketika Portugis tersingkir dari Nusantara, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Brouwer meresmikan nama Flores untuk pulau itu.
Sejak tahun 1636, nama Flores muncul dalam peta-peta yang dikeluarkan VOC. Masyarakat asli sendiri menamai Pulau Flores sebagai Pulau Nusa Nipa, yang artinya Pulau Ular.
Tak hanya Flores, Penjajah Portugis juga yang memberi nama Borneo untuk Pulau Kalimantan, dan Celebes untuk Pulau Sulawesi.
Nama-nama itu masih dipakai di dunia internasional hingga kini. Selain itu, pulau yang diberi nama oleh Portugis adalah Pulau Rote, Sawu, dan Enggano.
DIkutip dari Kemdikbud.go.id, nama “Pulau Rote” telah tercantum dalam dokumen-dokumen Portugis pada abad ke-16 dan 17.
Ketika Indonesia berdeka, nama Pulau Rote tetap dipertahankan. Padahal para penduduk setempat memberi nama pulau itu dengan nama “Nusa Dahena” yang artinya Pulau Manusia.
Begitu pula dengan Pulau Sawu. Saat pertama kali berlabuh, Portugis memberi nama pulau itu dengan “Savo” yang kemudian diubah sedikit oleh penjajah Belanda dengan nama “Savu”.
Dari nama inilah kemudian muncul nama “Sawu” atau “Sabu”. Nama ini diteirma penduduk setempat meskipun mereka menamai pulau dengan nama “Rai Hawu”.
Tak hanya pulau, banyak pula kosa kata Portugis yang diserap ke Bahasa Indonesia seperti kata algojo, armada, boneka, celana, lentera, roda, serdadu, tenda, dan masih banyak lagi.
Musim keroncong yang dibawa oleh pelaut-pelaut Portugis telah menjadi musik khas Indonesia. Serta pulau-pulau lain yang namanya tidak pernah berubah sejak peta buatan orang Portugis dibuat.