Dokter Anak Tegaskan Imunisasi Polio Aman untuk Anak Berkebutuhan Khusus Termasuk Autisme
Dokter anak menegaskan bahwa imunisasi polio tetap aman diberikan pada anak berkebutuhan khusus kecuali pada penderita masalah kesehatan tertentu.

Imunisasi adalah langkah penting untuk melindungi anak-anak dari berbagai penyakit berbahaya, termasuk polio. Namun, banyak orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus, seperti mereka yang memiliki autisme atau ADHD, sering kali merasa khawatir tentang keamanan vaksinasi bagi anak mereka. Untuk mengatasi kekhawatiran ini, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), memberikan penjelasan yang menenangkan.
Prof. Rini Sekartini menyatakan bahwa imunisasi polio aman diberikan kepada anak berkebutuhan khusus, termasuk yang memiliki gangguan perilaku seperti autisme dan ADHD.
"Anak berkebutuhan khusus ada juga terkait gangguan perilaku, misalnya anak autisme, ADHD, apakah aman diberikan polio tetes? Itu aman, silakan ya, bisa dia karena sehat secara fisik enggak ada masalah," kata Rini dilansir dari Antara.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan dasar anak berkebutuhan khusus, termasuk imunisasi. Pesan ini disampaikan kepada masyarakat agar orang tua tidak ragu memberikan imunisasi lengkap kepada anak berkebutuhan khusus yang memiliki gangguan perilaku.
Kontraindikasi Medis untuk Imunisasi Polio
Meskipun imunisasi polio aman bagi anak-anak dengan gangguan perilaku, terdapat pengecualian bagi anak-anak dengan kondisi medis tertentu. Anak-anak dengan masalah medis serius seperti penyakit ginjal atau kelainan darah mungkin tidak dapat menerima vaksin polio. "Kecuali dia ada penyakit medis lainnya yang memang kontraindikasi tentunya," jelas Prof. Rini.
Orang tua yang memiliki kekhawatiran atau pertanyaan tentang imunisasi dapat berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Konsultasi ini penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan perlindungan yang diperlukan tanpa risiko tambahan.
Pandemi COVID-19 berdampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk penurunan drastis cakupan imunisasi pada anak-anak. Pada tahun 2021, cakupan imunisasi mengalami penurunan tajam, yang meningkatkan risiko munculnya kembali penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah.
Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio

Untuk mengatasi penurunan cakupan imunisasi dan mengendalikan penyebaran polio, Kementerian Kesehatan bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahap kedua. PIN Polio tahap kedua ini dilaksanakan di 27 provinsi pada minggu ketiga Juli 2024. Kegiatan ini merupakan upaya untuk mencapai minimal 95 persen cakupan imunisasi, yang diperlukan untuk membentuk kekebalan kelompok.
Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menjelaskan pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi. "Cakupan imunisasi yang tinggi dapat mengendalikan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, tetapi jika cakupannya menurun di bawah 60 persen, Kejadian Luar Biasa (KLB) dapat muncul kembali," ujar dr. Piprim.
Imunisasi akan dilangsungkan selama sepekan untuk anak usia 0 hingga 7 tahun di berbagai lokasi seperti posyandu, puskesmas, dan lokasi lain yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan. Pelaksanaan imunisasi secara massal dan serentak ini bertujuan untuk mencegah perluasan transmisi virus polio dan melindungi anak-anak dari risiko kelumpuhan permanen yang disebabkan oleh penyakit ini.