Bukan Biawak, tapi Buaya Jadi Penghuni Selokan ini
Studi terbaru menemukan aligator dan berbagai satwa liar memanfaatkan saluran air bawah tanah.

Saluran air bawah tanah di Florida ternyata dihuni berbagai jenis satwa liar, termasuk aligator dan rakun. Temuan ini diungkapkan dalam sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Urban Naturalist.
Mengutip The Independent, Senin (17/2), para peneliti menemukan bahwa saluran drainase tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur kota, tetapi juga menjadi jalur lintasan bagi 35 spesies vertebrata.
Studi ini berfokus pada sistem saluran air badai atau stormwater sewer systems (SSS) di Alachua County, Florida.
Melalui kamera jebakan, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi berbagai spesies yang memanfaatkan saluran air sebagai jalur aman untuk berpindah tempat, terutama guna menghindari jalan raya yang ramai.
Aligator dan Reptil Dominasi Saluran Air
Dari hasil pengamatan, peneliti menemukan tujuh spesies reptil, termasuk aligator Amerika (Alligator mississippiensis) yang menjadi penghuni terbanyak di berbagai lokasi penelitian.
Aligator tersebut sering terlihat berenang di antara kolam yang terhubung melalui saluran air, menghindari lalu lintas padat.
"Jumlah satwa liar di sana sangat mengejutkan," ujar Alan Ivory, penulis studi dari Universitas Florida, kepada New York Times. Para peneliti mencatat bahwa 35 dari 50 kali kemunculan aligator terjadi di saluran sederhana yang menghubungkan dua kolam air.
Selain aligator, peneliti juga mengidentifikasi kura-kura jenis Yellow-bellied Slider yang memanfaatkan pipa saluran air sebagai koridor untuk berpindah antar habitat air.
Satwa Lain yang Menghuni Saluran Air
Selain reptil, saluran bawah tanah Florida juga dihuni rakun, oposum, armadilo, kelelawar, tikus hitam, kucing liar, hingga burung kuntul dan burung wren. Kehadiran berbagai satwa ini menunjukkan bagaimana alam beradaptasi di tengah pesatnya urbanisasi.
Para ilmuwan menyebutkan bahwa beberapa satwa kecil terbawa arus ke dalam saluran air akibat hujan lebat, sementara yang lain sengaja memanfaatkan jalur tersebut untuk berpindah dengan aman.
Urbanisasi yang pesat memaksa satwa liar beradaptasi dengan lingkungan yang semakin padat. Saluran air bawah tanah menjadi habitat alternatif yang menawarkan jalur aman dari ancaman kendaraan di permukaan.
"Penelitian kami memberikan wawasan tentang bagaimana satwa liar memanfaatkan habitat perkotaan yang tidak konvensional," tulis para peneliti dalam laporan mereka.
Mereka juga menyarankan pemasangan perangkat pemanjat di saluran air untuk membantu satwa yang terjebak keluar dengan aman. Dengan memahami pola adaptasi satwa terhadap infrastruktur perkotaan, diharapkan perencanaan kota ke depan bisa lebih ramah terhadap keberadaan satwa liar.