Hari Pahlawan: Pasukan Berani Mati Bentukan Bung Tomo di Pertempuran 10 November
Mereka siap mati, siap menjadi syuhada (orang yang mati dengan syahid). Namun, Bung Tomo tidak memaksa orang-orang untuk bergabung dalam pasukan atau anggota Barisan Berani Mati. Sebaliknya, mereka datang dan mendaftar secara sukarela.
Pertempuran Surabaya yang diperingati sebagai 'Hari Pahlawan' tidak terlepas dari peran Bung Tomo yang membakar semangat para pemuda. Kesuksesan para pemuda tergambar ketika Brigadir Mallaby dari pihak Inggris tewas dalam pertempuran itu. Perjuangan yang dilakukan oleh Bung Tomo tidak hanya melalui pemancar radio, tetapi juga membentuk kelompok Pasukan 'Barisan Berani Mati'.
Barisan Berani Mati merupakan kelompok yang dibentuk untuk melahirkan para pejuang yang tidak gentar berperang melawan tentara musuh, siap mati, siap menjadi syuhada (orang yang mati dengan syahid). Namun, Bung Tomo tidak memaksa orang-orang untuk bergabung dalam pasukan atau anggota Barisan Berani Mati. Sebaliknya, mereka datang dan mendaftar secara sukarela.
-
Kapan Hari Pahlawan diperingati di Indonesia? Setiap tanggal 10 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan.
-
Kapan peristiwa penting yang terjadi di Surabaya yang memicu peringatan Hari Pahlawan? 10 November tahun 1945 silam, sebuah peristiwa penting terjadi di tanah Surabaya. Para pemuda rela bertempur menghadapi tentara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.
-
Kapan pertempuran besar di Surabaya yang menandai Hari Pahlawan? Dikutip dari laman semarangkota.go.id, sejarah singkat Hari Pahlawan 10 November dimulai saat pertempuran di Surabaya yang merupakan pertempuran besar antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Inggris pada 10 November 1945.
-
Kapan Hari Hutan Indonesia dideklarasikan? Kemudian, tahun 2020, bersama 140 lebih kolaborator dari berbagai lintas organisasi, dideklarasikan 7 Agustus sebagai peringatan Hari Hutan Indonesia.
-
Kapan Hari Puisi Indonesia dirayakan? Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap tanggal 26 Juli merupakan momen bersejarah yang diinisiasi untuk menghormati salah satu maestro puisi Indonesia, Chairil Anwar.
-
Mengapa 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan? Atas dasar hal tersebut, pemerintah melalui Surat Keputusan Presiden (Keppres) No. 316 Tahun 1959 kemudian menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Dalam buku Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November, Bung Tomo merekrut para anggota Barisan Berani Mati secara sukarela melalui siaran radio pemberontakan. Bagi mereka yang mendaftar akan diberi pelatihan militer secara intensif agar dapat diturunkan ke medan perang. Misalnya, cara-cara menggunakan bahan peledak untuk menghadapi kendaraan tempur musuh, cara menggunakan senjata, bela diri, dan lain sebagainya.
Para pemuda yang tergabung dalam barisan ini didoktrin dengan mental baja dan semangat yang tidak mengenal rasa takut. Walaupun nyawa menjadi taruhannya. Doktrin yang dikembangkan adalah 'merdeka atau mati'. Seandainya mereka mati maka akan langsung mendapat pahala surga.
Siaran radio Bung Tomo berhasil menarik 40 orang anggota. Keempat puluh anggota tersebut disebar seluruh kota. Mereka dipersenjatai dan diberi bom yang dapat diledakkan kapan pun. Salah satu anggotanya adalah Sjukur Slamet yang juga merupakan anggota BPRI, Syukur Slamet merupakan seorang perakit bom.
Barisan Berani Mati Tersohor
Beberapa anggota Barisan Berani Mati sebetulnya mantan pemimpin PETA (Pembela Tanah Air). Karena kegigihan Bung Tomo menyatukan para barisan ini, maka barisan ini tersohor hingga ke pelosok Indonesia. Bahkan, menurut Paul Stange dalam buku Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumpah, nama Barisan Berani Mati sering disebut dalam sejarah revolusi oleh para penulis Eropa.
Menurut Abdul Waid dalam buku Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November, ada beberapa alasan mengapa Barisan Berani Mati cukup terkenal. Pertama, pasukan ini memiliki kedekatan khusus dengan Panglima Jenderal Sudirman. Terlebih lagi pasukan ini terkenal sebagai pasukan populis yang sering kali dikaitkan dengan kejayaan Sang Jenderal.
Kedua, pasukan ini dibentuk dengan dasar agama yang kuat. Bahkan mendapat dukungan dari beberapa ulama seperti Kiai Abdul Hamid di Banjarsari Madiun. Barisan Berani Mati ini bertugas untuk menghancurkan tank-tank musuh atau fasilitas militer yang dimiliki pasukan Belanda, tidak jarang mereka meledakkan diri mereka sendiri, hal tersebut disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku Kronik Revolusi Indonesia Jilid III.
Reporter Magang: Muhammad Rigan Agus Setiawan