Masih Produksi Kue Keranjang di Usia 71 Tahun, Lansia Ini Ceritakan Pasang Surut Usahanya
Sudah sejak 1988 ia membuat kue keranjang dengan kondisi penjualan yang pasang surut.
Sudah sejak 1988 ia membuat kue keranjang dengan kondisi penjualan yang pasang surut.
Masih Produksi Kue Keranjang di Usia 71 Tahun, Lansia Ini Ceritakan Pasang Surut Usahanya
Belasan potong kue keranjang tengah ditata Hayati untuk dijual. Perempuan 71 tahun itu rupanya masih piawai membuat sajian khas Imlek yang sebentar lagi ramai diburu.
Sudah sejak 1988 ia membuat kue keranjang dengan kondisi penjualan yang pasang surut.
-
Di mana letak makam Kiai Ageung di Purwakarta? Mengutip disipusda.purwakartakab.go.id, makam ulama tersebut berada persis di sebuah pulau kecil Situ Wanayasa yang diberi nama Penclut Pasir Mantri.
-
Apa yang ditawarkan oleh Giri Tirta Kahuripan di Purwakarta? Giri Tirta Kahuripan adalah sebuah resort yang terkenal dengan kolam renang skypool-nya yang menawarkan pemandangan alam Purwakarta dari ketinggian. Resort ini juga menyediakan berbagai wahana permainan seperti water slide, futsal, flying fox, kendaraan ATV, agrowisata manggis, dan sepeda air.
-
Kapan Purnawarman meninggal? Purnawarman meninggal tahun 434 M.
-
Dimana letak Purwakarta? Terletak di jantung Provinsi Jawa Barat, wilayah ini tidak hanya dikenal dengan keindahan budaya Sunda, tetapi juga peradaban masa lampau dan masa kininya.
-
Apa yang diharapkan dari Dana Desa di Purwakarta? “Alhamdulillah, dana desa sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Purwakarta, khususnya yang berada di desa. Ini terlihat dari jumlah Desa Mandiri di Purwakarta yang meningkat menjadi 60 desa, dari yang sebelumnya 25 desa. Capaian ini merupakan lompatan yang luar biasa bagi Purwakarta,” ucap Anne.
-
Apa yang unik dari rumah di Purwakarta ini? Sebuah rumah di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terbilang unik dan berbeda. Bangunan tempat tinggal itu berdiri di samping tempat pemakaman umum (TPU) Sirnaraga di wilayah tersebut.
Warga Gang Aster, Kecamatan Purwakarta kota, Kabupaten Purwakarta ini menceritakan jika saat ini dirinya masih setia memproduksi kue keranjang.
Di momen menjelang Imlek, pesanan kue keranjang mulai berdatangan. Tak peduli usianya lebih dari setengah abad, ia hanya ingin usaha warisan suaminya ini bisa terus berjalan.
Kue buatannya itu ia banderol seharga Rp 50.000 per kilogram atau per tiga dodol.
"Dari dulu, keluarga besar suami memang konsisten membuat kue keranjang atau dodol cina setiap setahun sekali. Ini usaha dodol cina peninggalan ibu mertua saya," terang Hayati, melansir dari Liputan6, Jumat (19/1).
Merintis Bersama Almarhum Suami
36 tahun silam adalah masa-masa awal ia merintis. Ketika itu, lansia yang karib disapa Ci Pikong ini dibantu oleh suami dan keluarganya untuk membuat kue keranjang.
Ini berarti, resep penganan ini sudah turun temurun ia pegang dan terus dipertahankan sampai hari ini. Bermula dari ketertarikannya, usaha ini akhirnya terus berjalan walau sang suami telah tiada.
"Saya teruskan usaha mertua, karena saudara saya tak mau berkecimpung dalam usaha pembuatan kue ini," terang Ci Pikong.
Imlek jadi Momen yang Ditunggu
Setiap tahunnya, pesanan selalu ramai terutama jelang imlek. Penjualannya selalu naik, yang ketika itu masih dibantu suami.
Di momen ini, ia bisa mendapat pundi-pundi rezeki yang cukup untuk kehidupannya.
Ia menjelaskan jika keterampilannya membuat kue keranjang didapatkan dari mendiang suaminya. Setiap jelang Imlek, mereka selalu bekerja sama membuat kue keranjang yang juga disebut dodol Cina tersebut.
- Melihat Produk Kopiah Rajut Cianjur yang Laris Manis Jelang Iduladha, Sampai Dapat Pesanan dari Malaysia
- Kisah Pedagang Kue Kering di Banyuwangi Banjir Pesanan Jelang Lebaran, Omzet Capai Rp10 Juta per Hari
- Dulu Jualan di Kaki Lima, Kini Eks Pegawai BUMN Ini Sukses Punya Pabrik Kerupuk Kulit, Omzet Rp700 Juta Perbulan
- Kisah Haru Kakek 93 Tahun Penjual Klintingan, Tetap Semangat Bekerja di Usia Senja
Berusaha Semaksimal
Hari itu, Ci Pikong merasa sedih karena setelah kepergian suaminya produksi dodol Cina di tempatnya terasa berat. Menurutnya, sang suami lah yang mampu membuat kue keranjang ini sempurna.
Saat ini, Ci Pikong hanya bisa membuat dodol Cina semaksimalnya, dengan tetap mempertahankan kualitas, resep, dan rasa sehingga masih dicari pelanggan tetapnya.
"Sekarang mah pembelinya menurun. Bisa produksi 300 kilogram saja sudah bersyukur. Dulu mah bisa memproduksi sampai 5 sampai 8 ton," ujar dia.
Covid-19 Memukulnya
Salah satu yang memukul usahanya adalah pandemi Covid-19 yang sempat terjadi. Ketika itu usahanya benar-benar turun, termasuk dari penjualan.
Belum lagi banyak produk serupa yang masuk dari luar Purwakarta.
"Sekarang banyak yang masuk dari luar daerah dengan harga lebih murah. Jadi, beberapa pelanggan beralih ke mereka. Tapi kami berani ngadu jika kualitas produk kami lebih unggul," ujarnya.
Terancam Berhenti
Kesedihan juga dipicu karena tidak ada yang meneruskan usaha dodol Cina milik ia dan suaminya itu.
Dia mengaku tidak tahu akan sampai kapan meneruskan produksi kue keranjang.
"Kami mungkin yang terakhir meneruskan usaha keluarga ini. Karena tak ada regenerasi, bisa jadi produksi kue kerajang kami tutup," bebernya.