Berkonsep Unik dan Bergaya Milenial, Ini Potret Perpustakaan Saija Adinda di Lebak
Perpustakaan Saija Adinda saat ini menjadi salah satu daya tarik dari kalangan masyarakat Kabupaten Lebak, dengan beragam fasilitas penunjangnya yang unik dan modern. di perpustakaan tersebut juga terdapat fasilitas yang ramah bagi kaum difabel.
Perpustakaan umumnya merupakan sebuah tempat atau bangunan yang berisi banyak koleksi buku untuk dibaca maupun dipinjamkan kepada para pengunjungnya. Tetapi di Kabupaten Lebak, Banten terdapat sebuah perpustakaan dengan konsep berbeda dan unik. Perpustakaan itu bernama Saija Adinda.
Selain sebagai tempat yang asyik untuk membaca, gedung yang terletak di jalan Rt Hardiwinangun, Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung ini memiliki beragam fasilitas berbeda dari perpustakaan pada umumnya.
-
Kenapa Hari Perpustakaan Nasional penting? Peringatan Hari Perpustakaan Nasional tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan minat baca, tetapi juga untuk memperingati dan menghargai peran serta kontribusi perpustakaan sebagai lembaga yang menyimpan, merawat, dan menyediakan akses ke pengetahuan.
-
Kapan Gedung Perpustakaan Nasional dibuka untuk umum? Untuk rooftop ini dibuka untuk umum dan gratis selama jam operasional dari gedung Perpustakaan Nasional.
-
Kenapa Gedung Perpustakaan Nasional cocok dijadikan tempat nongkrong? Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, gedung Perpustakaan Nasional bisa menjadi oase untuk menenangkan diri sejenak.
-
Dimana Gedung Perpustakaan Nasional berada? Mengutip laman resmi Perpustakaan Nasional, gedung Perpusnas sendiri berada di Jalan Medan Merdeka Selatan nomor 11, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
-
Bagaimana cara menuju ke Perpustakaan Nasional? Karena keberadaannya yang strategis, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi, mulai dari Bus Transjakarta rute 5 M dan 1 R, lalu KRL dengan jurusan Stasiun Gondangdia dan ojek online.
-
Apa yang ditemukan di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Kota Medan? Kepolisian menemukan lima mayat di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Kota Medan usai menggeledah kampus swasta tersebut.
Karena letaknya yang berdekatan dengan Museum Multatuli, Saija Adinda saat ini menjadi salah satu daya tarik dari masyarakat. Khususnya kalangan pelajar yang datang ke perpustakaan dengan koleksi 1.795 judul dengan 3.565 eksemplar buku tersebut.
Memiliki Layanan Bioskop
Liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Salah satu keunikan dari Perpustakaan Saija Adinda ialah adanya ruang bioskop mini. Bak bioskop besar pada umumnya, bioskop mini ini juga kerap didatangi kalangan muda dan pelajar di wilayah Lebak. Bioskop tersebut terasa menarik lantaran kerap memutar film-film dokumenter bertema edukasi sejarah.
Salah satu film yang kerap diputar adalah film dengan judul Max Havelaar, yang diproduksi pada tahun 1976 dan dibintangi oleh beberapa pemeran asal Indonesia yang terkenal di masa tersebut.
Terdapat Layanan Inklusif
Selain itu, perpustakaan yang diresmikan tahun 2016 tersebut juga memiliki beberapa fasilitas inklusif. Fasilitas ini ramah bagi kalangan difabel seperti lift, tangga toilet khusus.
Di sini para difabel juga bisa membaca mushaf Alquran berhurufkan braille yang tentunya bisa mempermudah untuk bisa ikut menikmati fasilitas di perpustakaan terebut.
Memiliki Nuansa Sunda yang Kental
Liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Yang menarik dari Perpustakaan Saija Adinda adalah suasana serta bentuk bangunannya yang khas dengan nuansa budaya Sunda. Jika diamati dari luar, bentuk bangunannya sangat mirip dengan leuit atau bangunan dengan fungsi kearifan lokal untuk penyimpan bahan pokok.
Selain itu, suasana perpustakaan dan ruang layanannya dipenuhi nuansa bambu yang dibuat oleh perajin bambu di Kabupaten Lebak.
Kerap Menggandeng Komunitas
Kehadiran Perpustakaan Saija Adinda tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Seperti yang dirasakan oleh Muhammad Ilham Akbar (26), warga Kampung Rancasena, Desa Kaduagung, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.
Menurutnya, fasilitas dan jumlah buku sudah cukup baik. Tetapi, program-program sosial ke masyarakat belum maksimal. Walau begitu, Ilham mengaku bangga dengan kegiatan di Perpustakaan Saija Adinda yang kerap menggandeng komunitas di setiap kegiatan.
"Perpustakaan Saija-Adinda suka gandeng komunitas, seperti KPJ (Komunitas Pengamen Jalanan). Sebelum Corona, banyak yang memilih baca di lantai bawah di ruangan terbuka. Ketersediaan buku lumayan lengkap, ada buku sejarah. Ada tangga, kursi roda buat ke atas, toilet juga banyak," tambah Ilham.
Pengembangan Minat Baca di Lebak
Liputan6.com ©2020 Merdeka.com
Seperti yang dilansir dari Liputan6.com, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lebak, Budi Sugianto mengungkapkan jika adanya bantuan paket buku, seperangkat TIK, serta bimtek teknis dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sangat membantu dalam mengembangkan fungsi perpustakaan Saija Adinda.
Menurutnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan telah menjalankan praktek transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dalam memenuhi kebutuhan ruang publik bagi masyarakat dalam berbagi pengalaman, belajar secara kontekstual, serta melatih keterampilan dan kecakapan dalam kehidupan sehari-hari.
"Selain pemanfaatan inklusi sosial, kami juga menerima bantuan operasional berupa mobil perpustakaan keliling. Kami berharap bantuan serupa bisa diberikan mengingat lokasi dan geografis wilayah yang harus ditempuh. Idealnya ada tiga," kata Budi Sugiharto beberapa waktu lalu.
Memenuhi Kebutuhan Informasi di Kawasan Pedesaan
diskerpuslebak ©2020 Merdeka.com
Ia menambahkan, layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial telah hadir di beberapa desa di kawasan Lebak, Banten. Antara lain Desa Cibeber, Warung Banten, Wanasalam, Ciladaen, dan Ciparasi. Semua berada di wilayah Lebak Selatan.
"Kita sudah berhasil menjadikan perpustakaan sebagai pusat belajar dan pusat kegiatan masyarakat di lima desa tersebut. Kami merencanakan delapan perpustakaan desa lagi bisa berjalan," jelasnya.
Menurut Budi, Kabupaten Lebak memiliki geografis wilayah yang cukup sulit ditembus layanan perpustakaan. Dari 789 Sekolah Dasar (SD), baru 382 yang tersentuh layanan perpustakaan.
Dan dari 453 SMP, baru 188 sekolah yang bisa didatangi perpustakaan keliling. Sementara, untuk Taman Baca Masyarakat (TBM) dari total 28 TBM, baru 21 yang bisa didatangi. Sedangkan dari 315 desa di Lebak, baru ada 28 perpustakaan yang terdata.