Niat-Niat Sholat Wajib dan Sunah, Perlu Diketahui
Lafal niat sholat tidak hanya dibaca saat menunaikan sholat wajib saja, tetapi juga dibaca saat melaksanakan sholat sunah. Tentu bacaan niat masing-masing sholat berbeda, sesuai dengan jenis sholat dan jumlah rakaat yang dilakukan.
Seperti diketahui, melafalkan bacaan niat sebelum sholat adalah salah satu rukun yang wajib dilakukan. Di mana bacaan niat sholat dilafalkan sebelum memulai takbiratul ihram atau gerakan pertama dalam sholat. Ini penting dilakukan, sebab membaca niat sholat adalah salah satu syarat yang menentukan sah tidaknya kegiatan sholat yang ditunaikan.
Dalam hal ini, lafal niat sholat tidak hanya dibaca saat menunaikan sholat wajib saja, tetapi juga dibaca saat melaksanakan sholat sunah. Tentu bacaan niat masing-masing sholat berbeda, sesuai dengan jenis sholat dan jumlah rakaat yang dilakukan. Dengan begitu, penting bagi Anda untuk memperhatikan bacaan niat-niat sholat dengan baik dan benar.
BACA JUGA: Niat Sholat Sunnah, Sebelum Dan Setelah Sholat Fardu
-
Bagaimana tata cara sholat taubat? Sholat taubat terdiri dari dua rakaat dan satu kali salam. Namun, bisa juga dilaksanakan sebanyak empat sampai enam rakaat. Sholat taubat termasuk dalam sholat nafilah yang tidak dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah.
-
Gimana caranya sholat taubat? Sholat taubat dilakukan sebanyak 2 rakaat bisa pula 4-6 rakaat. Berikut urutannya:1. Niat Sholat Taubat NasuhaUshalli Sunnatat Taubata Rak’ataini Lillahi Ta’alaArtinya:'Saya niat sholat sunah tobat dua rakaat karena Allah.' 2. Takbirotul Ihram3. Membaca doa Istiftah/iftitah4. Membaca surat Al Fatihah5. Membaca surat dari Al-Qur'an6. Rukuk7. I'tidal (Membaca doa i'tidal)8. Sujud (Membaca tasbih sujud tiga kali) 9. Duduk di antara dua sujud (Membaca doa 'Robbighfirlii warhamnii...')10. Sujud kedua (Membaca tasbih sujud tiga kali)11. Bangun melanjutkan rakaat kedua seperti urutan dari nomor 2 sampai 10.12. Tasyahud akhir (Membaca bacaan tasyahud akhir)13. Salam
-
Bagaimana tata cara sholat qodho? Cara mengerjakan sholat wajib dengan niat sholat qodho, sama persis ketika melaksanakan sholat wajib yang ditinggalkan, dalam hal sifat dan tata caranya.
-
Kapan Patung Shigir ditemukan? Patung Shigir ditemukan pada Januari 1890 di wilayah Sverdlovsk, di pinggiran barat Siberia, Rusia.
-
Bagaimana tata cara sholat hajat? Tata cara sholat hajat sebenarnya tidak berbeda dengan pelaksanaan sholat umumnya. Yang membedakan sholat ini ada pada niatnya.
Terdapat bacaan niat-niat sholat wajib dan sunah yang perlu Anda ketahui. Bagi Anda yang sudah hafal bacaan niat sholat, tak ada salahnya untuk meneliti kembali apakah bacaan yang dihafalkan sudah benar atau masih ada yang terlewat. Bagi Anda yang belum bisa membaca bacaan niat sholat dalam bahasa Arab, tentu ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki rukun-rukun sholat dengan benar.
Membaca niat-niat sholat ini bisa dilakukan dalam hati atau dilafalkan lirih sesuai dengan kenyamanan. Dari berbagai sumber, berikut kami merangkum bacaan niat-niat sholat wajib dan sunah yang bisa Anda praktikkan sehari-hari.
Niat-Niat Sholat Wajib
Bacaan niat-niat sholat yang akan dijelaskan pertama adalah niat sholat wajib. Seperti disebutkan, bahwa masing-masing sholat memiliki lafal niat yang berbeda-beda, termasuk lima sholat wajib. Berikut bacaan niat-niat sholat wajib dan artinya yang perlu diperhatikan.
- Niat sholat subuh
Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati (adaaan) [makmuuman / imaaman] lillaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Shubuh sebanyak dua raka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Allah Ta’ala.”
- Niat sholat dzuhur
Ushallii fardhazh-Zhuhri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati (adaaan) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Dzuhur sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Allah Ta’ala.”
- Niat sholat ashar
Ushallii fardhal ‘Ashri arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati (adaaan) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Ashar sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, (Sebagai) [makmum / imam], karena Allah Ta’ala.”
- Niat sholat maghrib
Ushallii fardhal Maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati (adaaan) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Maghrib sebanyak tiga raka’at dengan menghadap kiblat, (sebagai) [makmum / imam] karena Allah Ta’ala.”
- Niat sholat isya
Ushallii fardhal Isyaa’i arba’a raka’aatin mustaqbilal qiblati (adaaan) [makmuuman / imaaman] lilaahi ta’aalaa.
Artinya: “Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Isya’ sebanyak empat raka’at dengan menghadap kiblat, (sebagai) [makmum / imam] karena Allah Ta’ala.”
Niat-Niat Sholat Sunah Rawatib
Bacaan niat-niat sholat berikutnya adalah lafal niat untuk sholat sunah rawatib. Lafal niat sholat rawatib ini dilakukan dengan dua bacaan yang berbeda, yaitu niat rawatib sebelum dan sesudah pelaksanaan sholat wajib. Niat sholat sunah yang dilakukan sebelum sholat wajib dilafalkan dengan menambahkan kata qabliyyatan. Sementara niat sholat sunah sesudah sholat wajib dilakukan dengan menambahkan kata ba’diyatan.
Namun terdapat pengecualian pada sholat rawatib untuk sholat asar dan zuhur. Sholat rawatib ini biasanya dilakukan empat rakaat sebelum atau sesudah, baik dengan satu kali salam atau dua kali salam. Sementara sholat rawatib untuk sholat subuh hanya dilakukan sebelum sholat saja. Berikut beberapa bacaan niat sholat sunah sebelum dan sesudah sholat yang perlu Anda perhatikan.
- Niat sholat rawatib ashar
Ushallî sunnatal ashri arba’a raka‘âtin/rak‘ataini qabliyyatan/ba'diyatan lillâhi ta‘âlâ,
Artinya: “Saya shalat sunnah qabliyah Ashar empat rakaat/dua rakaat karena Allah ta’ala.”
- Niat sholat rawatib dzuhur
Ushallî sunnatad dhuhri arba‘a raka‘âtin/rak‘ataini qabliyyatan/ba'diyatan lillâhi ta‘âlâ,
Artinya: “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Zuhur empat rakaat/dua rakaat karena Allah ta’ala.”
- Nait sholat rawatib maghrib
Ushallî sunnatal Maghrib rak'ataini qabliyyatan/ba'diyatan lillâhi ta‘âlâ,
Artinya: “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Maghrib dua rakaat karena Allah ta’ala.”
- Niat sholat rawatib isya
Ushallî sunnatal Isya’ rak‘ataini qabliyyatan/ba’diyatan lillâhi ta‘âlâ,
Artinya: “Saya shalat sunnah qabliyah/ba’diyah Isya’ dua rakaat karena Allah ta’ala.”
- Niat sholat rawatib subuh
Ushallî sunnatas subhi rak‘ataini qabliyyatan lillâhi ta‘âlâ,
Artinya: “Saya shalat sunnah qabliyah subuh dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Niat-Niat Sholat Sunah Lainnya
Selain sholat sunah rawatib, terdapat bacaan niat-niat sholat sunah lainnya yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Mulai dari sholat dhuha, sholat tahajud, sholat witir, sholat hajat, hingga sholat tarawih. Sama seperti lainnya, masing-masing sholat sunah ini dilafalkan dengan bacaan niat yang berbeda. Berikut lafal niat-niat sholat sunah beserta artinya yang perlu Anda ketahui.
- Niat sholat dhuha
Ushalli Sunnatadh-dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku niat sholat sunat dhuha dua rakaat, karena Allah ta'ala
- Niat sholat tahajud
Ushallii sunnatan tahajjudi rak'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'alla.
Artinya: “Aku niat sholat sunat tahajud 2 rakaat, menghadap kiblat, karena Allah Ta'ala.”
- Niat sholat hajat
Ushallī sunnatal hājati rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah hajat dua rakaat tunai karena Allah SWT.”
- Niat sholat witir
Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka'âtin mustaqbilal qiblati adâ'an lillâhi ta'âlâ
Artinya: "Aku menyengaja sholat sunnah shalat witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta'ala."
- Niat sholat tarawih Imam
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”
- Niat sholat tarawih makmum
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”