Penelitian Ungkap Paus Dapat Serap Karbon Sampai 33.000 Kilogram, Berkontribusi dalam Atasi Perubahan Iklim
Bukan hanya pohon, tetapi ikan paus dapat berkontribusi dalam mengatasi krisis iklim akibat pemanasan global.
Seiring dengan meningkatnya kekhawatiran dunia akan krisis iklim, berbagai langkah telah diambil untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Langkah-langkah tersebut meliputi reboisasi, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan penerapan teknologi yang ramah lingkungan, semua bertujuan untuk memperlambat kenaikan suhu bumi.
Namun, menariknya, salah satu solusi alami yang berpotensi dalam menghadapi perubahan iklim berasal dari lautan, khususnya dari paus. Menurut laporan IFL Science pada Kamis (12/12), paus memiliki peranan penting dalam ekosistem laut serta siklus karbon global. Sebagai mamalia laut terbesar, paus memiliki umur yang panjang, kemampuan untuk bermigrasi jauh, dan secara tidak langsung menyimpan serta mendistribusikan karbon di lingkungan laut. Hal ini menjadikan paus sebagai salah satu elemen kunci dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
-
Apa pengaruh perubahan iklim terhadap ukuran tubuh paus? Salah satu efek dari perubahan iklim yang telah teridentifikasi adalah pengurangan ukuran tubuh paus yang disebabkan oleh perubahan kondisi lingkungan.
-
Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi ketersediaan makanan paus? Proses ini sangat penting karena menjadi habitat bagi plankton, yang merupakan sumber makanan utama bagi paus.Apabila jumlah plankton menurun, paus akan mengalami kesulitan dalam mencari makanan yang cukup.
-
Bagaimana ilmuwan menghitung berat paus raksasa? Namun temuan kepadatan tulangnya membuat iluwan mampu memperkirakan hewan ini bisa mencapai berat 94-375 ton.
-
Mengapa penelitian ini penting bagi konservasi paus? Pengetahuan ini sangat penting bagi konservasi paus bungkuk, paus biru, dan hewan laut raksasa lainnya yang terancam punah.
-
Apa fakta unik tentang paus? Pas Fin ternyata memiliki kebiasangan menyanyikan lagu dengan keras untuk menarik pasangan betina. Menurut Scientific American, suara tersebut sangatlah berisik karena dapat didengar hingga jarak 1.000 kilometer.
-
Apa itu pemanasan global? Pemanasan global, atau yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai global warming, merupakan fenomena peningkatan suhu rata-rata di atmosfer, lautan, dan daratan Bumi secara bertahap. Proses ini ditandai dengan kenaikan suhu permukaan bumi yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Trends in Ecology and Evolution pada Desember 2022 menunjukkan, paus menyimpan jumlah karbon yang signifikan dalam tubuhnya. Terdapat 12 spesies paus besar, seperti paus biru (Balaenoptera musculus), paus sirip (Balaenoptera physalus), dan paus bungkuk (Megaptera novaeangliae), yang diperkirakan menyimpan sekitar 2 juta metrik ton karbon.
Jumlah ini setara dengan karbon yang dihasilkan dari pembakaran 851 juta liter bensin. Oleh karena itu, keberadaan paus sangat penting dalam upaya mengurangi kadar karbon di atmosfer dan lautan. Selain itu, paus juga berkontribusi dalam siklus karbon setelah mereka mati. Bangkai paus yang tenggelam ke dasar laut membawa akumulasi karbon yang tersimpan dalam tubuh mereka selama hidup.
Proses ini, yang dikenal sebagai carbon sequestration, memiliki potensi untuk menyimpan karbon dalam waktu yang sangat lama. Peneliti memperkirakan bahwa karbon tersebut dapat memakan waktu hingga 1.000 tahun untuk kembali ke permukaan laut. Dengan demikian, bangkai paus yang tenggelam berfungsi secara efektif dalam mengurangi karbon yang seharusnya menguap ke atmosfer.
Kotoran Paus dan Fitoplankton
Paus tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan karbon dalam tubuhnya, tetapi juga memainkan peran penting dalam pertumbuhan fitoplankton melalui kotorannya. Kotoran paus mengandung nutrisi penting seperti nitrogen, fosfor, dan zat besi yang sangat diperlukan oleh fitoplankton untuk berkembang. Fitoplankton adalah organisme mikroskopis yang memiliki peran krusial dalam siklus karbon. Mereka mampu menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui proses fotosintesis.
Dikutip dari laman IMF pada Kamis (12/12), satu ekor paus besar dapat menyerap karbon hingga 33.000 kg selama masa hidupnya. Jika dibandingkan, sebatang pohon rata-rata hanya mampu menyerap sekitar 22 kg karbon dioksida setiap tahun. Ini menunjukkan paus jauh lebih efisien dalam mengurangi kadar karbon di atmosfer dibandingkan dengan pohon.
Ketika paus mati dan bangkainya tenggelam ke dasar laut, proses ini menciptakan ekosistem baru yang dikenal dengan istilah whale fall. Bangkai paus menjadi sumber makanan bagi berbagai spesies pemakan bangkai di laut dalam, termasuk ikan, kepiting, dan mikroba. Proses ini tidak hanya mendukung biodiversitas laut, tetapi juga menciptakan habitat yang stabil di dasar samudera.
Selain itu, karbon yang tersimpan dalam tubuh paus tetap berada di dasar laut selama ratusan hingga ribuan tahun, yang membantu mengurangi jumlah karbon bebas di atmosfer. Dengan demikian, paus berkontribusi besar terhadap kesehatan ekosistem laut dan pengendalian iklim global.
Populasi Paus Terancam
Meskipun paus memainkan peran yang sangat vital dalam mengatasi krisis iklim, populasi mereka di seluruh dunia kini menghadapi berbagai ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Beberapa faktor yang menghambat pemulihan populasi mamalia laut ini termasuk perburuan paus yang masih berlangsung di beberapa daerah, perubahan iklim, pencemaran laut, serta kecelakaan dengan kapal. Selain itu, penangkapan ikan yang berlebihan juga mengganggu ekosistem makanan yang menjadi sumber kehidupan bagi paus di lautan.
Berbagai organisasi konservasi internasional telah mendorong langkah-langkah untuk melestarikan paus, seperti pembentukan kawasan perlindungan laut, pengurangan polusi plastik, dan pengawasan yang ketat terhadap praktik penangkapan ikan serta transportasi laut.