Penyelam Temukan Gua Bawah Laut Menakjubkan, Berisi Sisa-Sisa Artefak Suku Maya dan Fosil Mengejutkan Berusia Ribuan Tahun
Gua bawah laut di Semenanjung Yucatán adalah kapsul waktu yang menyimpan sejarah peradaban ribuan tahun.

Fotografer sekaligus penyelam profesional bernama Martin Broen mendapat pengalaman luar biasa saat mengabadikan pemandangan lintas zaman di Semanjung Yucatan, Meksiko.
Gua-gua bawah laut di Semenanjung Yucatán bak mesin waktu yang membawa kita menelusuri kembali kehidupan semenanjung ini dari Zaman Es hingga punahnya suku Maya.
Dilansir dari laman Smithsonian, selama zaman es, gua-gua di area Semenanjung Yucatan mengering saat permukaan laut menurun, dan air yang merembes dari permukaan menghiasi gua-gua dengan endapan dan membentuk stalagmit dan stalaktit yang secara kolektif dikenal sebagai speleothem.
Bagaimana cenote terbentuk
Gua bawah laut ini terbentuk oleh akuifer bawah tanah yang sangat besar di Semenanjung Yucatán utara, Meksiko. Proses berkesinambungan ini membentuk terowongan bawah tanah yang menyimpan sisa-sisa paleontologi dan arkeologi yang terawat dengan baik.
Tidak mengherankan gua bawah laut ini dianggap suci oleh Suku Maya karena bentuknya yang unik. Gua bawah laut ini disebut cenote, sebutan untuk lubang pembuangan alami yang memperlihatkan air murni di bawahnya.

Strata sosial penguburan suku Maya
Suku Maya membangun peradaban mereka di Semenanjung Yucatán sekitar 4.000 tahun lalu. Suku Maya menggunakan cenote sebagai tempat ibadah dan melakukan ritual.
Ratusan artefak dan sisa-sisa manusia dari peradaban Maya telah teronggok tanpa gangguan dan tak tersentuh selama ribuan tahun.
Dalam cenote itu juga terdapat banyak tengkorak sisa pengorbanan keluarga Maya yang sepertinya berstatus sosial tinggi.
Biasanya mereka secara sengaja menciptakan deformasi miring, yang membuat bagian kepala tampak lebih panjang daripada kepala suku Maya pada umumnya. Bisa dikatakan mereka sengaja dibentuk menyerupai kepala jaguar yang merupakan simbol kekuasaan dan status sosial.
Mereka menggunakan oker merah untuk menghiasi gua-gua dengan berbagai bentuk seni. Contoh yang terkenal adalah figur seorang wanita di pintu masuk Cenote Dos Ojos.

Kehidupan manusia purba dan megafauna
Jauh sebelum suku Maya menetap di daerah tersebut, Homo sapiens pertama menyeberang ke Amerika setidaknya 25.000 tahun lalu. Mereka berjalan menuju Amerika Selatan dan tiba di Semenanjung Yucatán pada akhir zaman es terakhir sekitar 13.000 tahun lalu.
Meskipun manusia purba pemburu-pengumpul cukup sulit ditemukan, peneliti meyakini mereka memanfaatkan pecahan speleothem sebagai penanda navigasi untuk struktur gua yang rumit.
Manusia purba juga menggali batu dan menambang oker merah hanya menggunakan alat Zaman Batu dan penguasaan mereka terhadap api.
Jembatan darat yang muncul tiga juta tahun lalu memberikan kesempatan pertukaran biotik besar Amerika Utara dan Amerika Selatan.
Salah satu fosil yang ditemukan di semenanjung ini adalah fosil penyu tempayan (Caretta caretta), berbagai jenis Kukang tanah raksasa seperti Xibalbaonyx, Nothrotheriops, Megalonychidae.
Keberadaan fosil-fosil megafauna, manusia purba hingga suku Maya dalam gua-gua ini memberi kesempatan bagi para ilmuwan untuk membuka kunci misteri kepunahan kehidupan mereka yang lebih dulu punah.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti
