Bentuk Akulturasi dari Budaya Timur Tengah, Begini Nikmatnya Sate Balanga Khas Gorontalo
Meskipun bernama sate, namun kuliner ini tidak disajikan dengan tusuk sate

Meskipun bernama sate, namun kuliner ini tidak disajikan dengan tusuk sate

Bentuk Akulturasi dari Budaya Timur Tengah, Begini Nikmatnya Sate Balanga Khas Gorontalo
Sate Balanga merupakan sebuah makanan khas Indonesia yang berasal dari Gorontalo. Meskipun bernama sate Balanga, masakan ini tidak disajikan seperti sate pada umumnya, yaitu tidak dengan tusuk bambu.
Berbeda dengan sajian sate dengan saus kecap dan kacang, Sate Balanga diolah dengan cara ditumis tanpa proses pembakaran.
Makanan ini begitu digemari terutama saat Iduladha. Apalagi pada saat itu persediaan daging begitu melimpah.
Namun kini sate ini dapat dijumpai pada hari-hari lain selain Iduladha, mengingat kultur beternak begitu digemari masyarakat Gorontalo sehingga ketersediaan daging kambing dan daging sapi segar terus tersedia dengan baik.
Sate Balanga biasanya dimasak menggunakan dua bahan utama yaitu daging kambing atau daging sapi. Dengan adanya perbedaan bahan utama masakan ini membuat Sate Balanga punya dua varian yaitu Sate Balanga Kambing dan Sate Balanga Sapi.

Sate Balanga merupakan salah satunya hidangan utama dalam kuliner Gorontalo. Datangnya Islam ke tanah Gorontalo juga membawa pengaruh bagi cita rasa masakan lokal dengan bahan utama daging sapi maupun kambing muda segar.

Pada prinsipnya, kuliner ini merupakan hasil adaptasi dari kuliner khas Timur Tengah yang ciri utamanya adalah penggunaan jinten dan kapulaga. Pada umumnya sate ini disajikan bersama nasi putih. Sate Balanga juga disantap dengan nasi kebuli ataupun nasi kuning.

Rendang Kering Usus Sapi
Selain Sate Balanga, Gorontalo punya kuliner khas Iduladha lainnya, yaitu rendang kering usus sapi. Makanan ini tidak hanya menawarkan cita rasa yang lezat, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan tradisi yang kaya.
Menurut Jakaria S, seorang warga lokal di Gorontalo, olahan makanan usus sapi dalam masakan ini mencerminkan sikap masyarakat Gorontalo yang tidak suka membuang bagian apa pun dari hewan kurban.
"Kalau di Gorontalo, semua dagingnya diambil, termasuk usus. Meskipun sebagian orang, bagian itu dibuang dengan alasan tempat kotoran," kata Jakaria.
Selain itu, tidak dibuangnya usus sapi kurban sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan. Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun, sehingga rendang kering usus sapi kurban menjadi salah satu warisan kuliner yang berharga.
"Kami bersyukur sudah diberikan rezeki di Iduladha. Maka, namanya bagian daging yang masih bisa dikonsumsi tidak dibuang," kata Jakaria dikutip dari Liputan6.com.