Gunakan Pewarna Alam, Begini Cara Para Pembatik Menjaga Sungai Bengawan Solo yang Tercemar Limbah Tekstil
Pewarna alam itu tidak menghasilkan limbah. Bahkan sisa penggunaannya bisa digunakan lagi untuk keperluan lain

Pewarna alam itu tidak menghasilkan limbah. Bahkan sisa penggunaannya bisa digunakan lagi untuk keperluan lain

Gunakan Pewarna Alam, Begini Cara Para Pembatik Menjaga Sungai Bengawan Solo yang Tercemar Limbah Tekstil
Berbagai jenis pabrik tumbuh menjamur di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo. Limbah dari pabrik-pabrik itu langsung dibuang ke sungai. Kebanyakan dari limbah-limbah yang mencemari Sungai Bengawan Solo adalah limbah tekstil.

Karena latar belakang inilah Muh Thoyib, salah seorang pegiat pewarna alam dari Desa Puron, Kecamatan Bulu, Sukoharjo, berinisiatif untuk mengembangkan pewarna alam.
“Jadi di sepanjang sini, dulu sejauh kita memandang adalah pertanian indigo. Jadi sebelum tahun 1900 itu murni semua pewarna itu dari tanaman. Baru setelah tahun 1900 pewarna sintetis muncul, diembusan isu-isu yang menghancurkan pewarna alam tersebut,” kata Muh Thoyib dikutip dari kanal YouTube BRIN Indonesia.
Dengan makin tercemarnya lingkungan hidup, saat ini di beberapa negara dunia produk pewarna alam yang lebih ramah lingkungan jauh diterima dari pada pewarna sintetis.
Thoyib mengatakan, di lingkungannya ada dua jenis pewarna alami yaitu pewarna yang mewarnai, dan pewarna yang menodai.

Warna dasarnya ada tiga yaitu merah, biru, dan kuning. Tiga warna dasar itu bisa dikembangkan lagi menjadi warna baru, misal warna merah dan biru bila digabungkan menghasilkan warna ungu.
Tak hanya itu, ketiga warna dasar itu memiliki turunan warna lagi, misal warna kuning diturunkan lagi menjadi kuning cerah dan kuning kunyit. Warna merah dan kuning diekstraksi menggunakan air biasa.
Salah satu tanaman yang biasa digunakan untuk menghasilkan pewarna alami adalah tanaman Indigofera.
“Jadi petani datang, tanaman kita timbang, terus kita bayar. Lalu kita masukkan ke bak fermentasi untuk difermentasi. Setelah kita fermentasi, lalu kita airasi, setelah diairasi, di tong ini menjadi pasta, lalu dari pasta kita campurkan dengan gula jawa panas, lalu tanaman itu mengandung indigotin, nanti saat sudah nempel ke kain namanya indigo,”
kata Thoyib menjelaskan proses bahan mentah bisa menjadi pewarna alami
Thoyib mengatakan bahwa dalam menghasilkan pewarna alam, ia otomatis bermain-main dengan kimia organik dan sarat akan data ilmiah.
“Banyak istilah yang dulu mbah kita menterjemahkan ke bahasa yang sederhana tapi sebenarnya mereka sedang mengerjakan praktikum kimia yang complicated,” ujarnya dikutip dari YouTube BRIN Indonesia.
Thoyib mengatakan kalau pewarna alam itu tidak menghasilkan limbah. Bahkan sisa penggunaannya bisa digunakan lagi untuk keperluan lain.
“Misal kita punya tanaman Indigofera yang difermentasi di belakang ini. Yang jadi pewarna hanya 10 persen. Sisanya kita jadikan kompos dan kembalikan lagi untuk pupuk. Karena nitrogennya tinggi. Jadi dia dari alam, tumbuh, kita manfaatkan, lalu kembali lagi kea lam,” pungkas Thoyib.