Ngeri, Dampak Kecanduan Judi Online Terhadap Struktur dan Fungsi Otak
Kecanduan judi online mengubah neurokimia dan struktur otak, memicu perilaku kompulsif dan sulitnya pengendalian diri.

Kecanduan judi online, mirip dengan adiksi zat adiktif lainnya, memiliki dampak signifikan terhadap struktur dan fungsi otak. Proses ini melibatkan perubahan neurokimiawi yang kompleks, mempengaruhi berbagai area otak yang penting untuk pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan pengaturan emosi.
Dengan meningkatnya popularitas judi online, penting untuk memahami bagaimana kecanduan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental individu.Perubahan yang terjadi pada otak pecandu judi online melibatkan gangguan pada keseimbangan neurotransmiter.
Neurotransmiter adalah zat kimia yang berfungsi mengirimkan sinyal antar sel saraf. Beberapa neurotransmiter yang terpengaruh antara lain dopamin, serotonin, norepinefrin, opioid endogen, glutamat, dan kortisol. Setiap neurotransmiter ini memiliki peran penting dalam mempengaruhi suasana hati, perilaku, dan respons terhadap stres.
Dopamin, misalnya, berperan dalam perasaan senang dan penghargaan. Ketika seseorang mengalami kemenangan dalam judi, otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar, menciptakan rasa euforia. Namun, seiring waktu, otak menjadi kurang sensitif terhadap dopamin, sehingga pecandu membutuhkan lebih banyak stimulasi untuk merasakan kepuasan yang sama. Hal ini menyebabkan siklus penghargaan yang memperkuat perilaku berjudi.
Perubahan Neurokimiawi yang Terjadi
Dalam konteks kecanduan judi online, beberapa neurotransmiter mengalami perubahan signifikan:
- Dopamin: Kadar dopamin meningkat saat menang, namun menurun saat tidak berjudi, menyebabkan perasaan gelisah dan keinginan kuat untuk berjudi.
- Serotonin: Kadar serotonin yang menurun berkontribusi pada perasaan cemas dan depresi, serta kesulitan mengendalikan dorongan untuk berjudi.
- Norepinefrin: Tingkat norepinefrin yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan dan kesulitan berkonsentrasi.
- Opioid endogen: Judi online dapat memicu pelepasan opioid endogen, memperkuat perilaku berjudi dengan menciptakan rasa nyaman yang palsu.
- Glutamat dan kortisol: Gangguan pada keseimbangan glutamat dan kortisol dapat mengganggu pengambilan keputusan dan meningkatkan respons stres.
Perubahan Struktur dan Fungsi Otak
Selain perubahan neurokimiawi, kecanduan judi online juga menyebabkan perubahan struktural di beberapa area otak:
- Striatum ventral: Area ini terlibat dalam sistem penghargaan dan pembentukan kebiasaan. Perubahan di area ini dapat menyebabkan perilaku berjudi yang kompulsif.
- Korteks prefrontal ventromedial: Area ini berperan penting dalam pengambilan keputusan dan kontrol impuls. Gangguan pada area ini menyebabkan kesulitan dalam membuat keputusan rasional dan mengendalikan dorongan.
- Insula: Terlibat dalam kesadaran diri dan pengolahan emosi. Gangguan di sini dapat mengakibatkan kesulitan dalam mengenali dan mengatur emosi serta menilai risiko.
Persamaan dengan Kecanduan Zat Adiktif
Menurut penelitian dalam bidang neuropsikologi, kecanduan judi online mirip dengan kecanduan zat adiktif seperti narkoba atau alkohol. Hal ini disebabkan oleh pelepasan dopamin yang berlebihan di dalam otak, terutama pada bagian nukleus akumbens, yang merupakan pusat kendali terhadap perasaan senang dan kepuasan. Ketika seseorang menang dalam permainan judi, otaknya melepaskan dopamin dalam jumlah besar, menciptakan rasa euforia.
Namun, ketika mengalami kekalahan, otak justru merangsang keinginan untuk bermain lagi demi mendapatkan kemenangan dan memulihkan 'kesenangan' yang hilang.
Siklus ini dikenal sebagai efek near-miss, di mana otak tertipu untuk terus berusaha meskipun peluang menang sangat kecil. Akibatnya, bagian korteks prefrontal mengalami gangguan, sehingga individu menjadi impulsif dan sulit menghentikan kebiasaan berjudi meskipun telah mengalami kerugian besar. Para ahli kesehatan mental menyebut kondisi ini sebagai Gambling Disorder, yang diakui dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).
Pengobatan dan Sanksi Hukum
Untuk mengatasi kecanduan judi online, para ahli merekomendasikan terapi kognitif-behavioral (CBT) guna mengubah pola pikir pasien, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan.
Dalam beberapa kasus, obat-obatan seperti naltrexone juga digunakan untuk mengurangi dorongan berjudi dengan menekan efek dopamin yang berlebihan.Di Indonesia, perjudian, termasuk judi online, dilarang secara tegas oleh hukum.
Berdasarkan Pasal 303 dan 303 bis Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), seseorang yang terbukti bermain judi dapat dikenakan hukuman penjara maksimal 10 tahun atau denda hingga Rp25 juta. Selain itu, pemerintah juga aktif memblokir situs judi online dan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk menindak pelaku.
Dengan semakin banyaknya kasus kecanduan judi online dan dampak negatifnya terhadap kesehatan mental serta sosial, masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan memahami risiko yang ditimbulkan, baik dari segi medis maupun hukum.