Sejarah Valentine Menurut Islam, Ketahui Hukumnya bagi Umat Muslim
Menilik sejarah Hari Valentine menurut Islam, serta mengenali bagaimana hukumnya bagi umat Muslim.
Hari Valentine dikenal sebagai hari kasih sayang. Namun dalam Islam, tanggal 14 Februari punya sejarah lain.
Sejarah Valentine Menurut Islam, Ketahui Hukumnya bagi Umat Muslim
Hari Valentine, yang juga dikenal sebagai hari kasih sayang, adalah perayaan yang populer di banyak negara, termasuk Indonesia.
Pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya, banyak orang yang saling memberikan hadiah, bunga, cokelat, atau kartu ucapan Hari Valentine kepada orang-orang yang mereka cintai.
-
Bagaimana menurut MUI cara umat muslim bersikap terhadap tradisi Valentine? Fatwa haram Hari Valentine oleh MUI ini dibuat menukil pula dari penggalan ayat suci Alquran, Hadis, serta pendapat Ulama. Salah satunya Hadis Riwayat Abu Dawud yang berkata:“Dari Abdullah bin Umar berkata, bersabda RasulullahSaw: Barang siapa yang menyerupakan diri pada suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (H.R. AbuDawud, no. 4031)
-
Bagaimana cara orang mengungkapkan kasih sayang di Hari Valentine? Salah satu cara yang banyak dilakukan saat Hari Valentine adalah dengan memberikan Valentines Day Quotes.
-
Apa itu Hari Valentine? Hari Valentine, yang juga disebut Hari St. Valentine, adalah perayaan kasih sayang yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya.
-
Apa yang dirayakan pada Hari Valentine? Perayaan ini memiliki akar sejarah yang kompleks dan berbagai versi asal-usulnya. Namun, secara umum, Hari Valentine diidentikkan dengan cinta romantis dan ekspresi kasih sayang.
-
Kenapa Hari Valentine dikaitkan dengan cinta? Karena alasan inilah hari Valentine lantas dikaitkan dengan hari perayaan cinta.
-
Bagaimana cara mengungkapkan perasaan di Hari Valentine? Mulai dari cokelat, bunga, lagu hingga kata-kata ucapan Hari Valentine.
Dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah Hari Valentine dari sudut pandang Islam, serta mengenali bagaimana hukumnya bagi umat Muslim.
Sejarah Hari Valentine
Sebelum mengetahui bagaimana Valentine menurut Islam, Anda juga perlu tahu sejarah tentang hari kasih sayang ini.
Februari telah lama dikenal sebagai bulan romansa, dan Hari St. Valentine, seperti yang kita kenal sekarang, mengandung sisa-sisa tradisi Kristen dan Romawi kuno. Tetapi siapakah Santo Valentine itu, dan bagaimana dia dikaitkan dengan ritus kuno ini?
Mengutip dari laman history.com, Gereja Katolik mengakui setidaknya tiga orang kudus berbeda yang bernama Valentine atau Valentinus. Salah satu legenda menyatakan bahwa Valentine adalah seorang pendeta yang melayani pada abad ketiga di Roma.
Ketika Kaisar Claudius II memutuskan bahwa pria lajang adalah prajurit yang lebih baik daripada mereka yang memiliki istri dan keluarga, dia melarang pernikahan bagi para pria muda.
Valentine, menyadari ketidakadilan dekrit tersebut, menentang Claudius dan terus melakukan pernikahan untuk para pemuda secara rahasia. Ketika tindakan Valentine diketahui, Claudius memerintahkan agar dia dihukum mati.
Cerita lain menunjukkan bahwa Valentine dibunuh karena berusaha membantu orang Kristen melarikan diri dari penjara Romawi, di mana mereka sering dipukuli dan disiksa.Menurut salah satu legenda, seorang bernama Valentine yang dipenjara mengirim ucapan "valentine" pertama setelah dia jatuh cinta dengan seorang gadis muda yang mengunjunginya selama kurungannya.
Sebelum kematiannya, diduga bahwa dia menulis surat bertanda "Dari Valentinemu" (From your Valentine), sebuah ungkapan yang masih digunakan sampai saat ini. Meskipun kebenaran di balik legenda Valentine masih belum jelas, semua cerita menekankan daya tariknya sebagai sosok yang simpatik, heroik, dan romantis.
Festival Pagan di Bulan Februari
Sejarah tentang Valentine tidak berhenti sampai disitu. Meski beberapa percaya bahwa Hari Valentine dirayakan untuk memperingati hari kematian seorang bernama Valentine, yang lain mengklaim bahwa perayaan ini merupakan upaya dari gereja Kristen untuk "mengkristenkan" perayaan pagan Lupercalia.
Dirayakan pada ides Februari, atau 15 Februari, Lupercalia adalah festival kesuburan yang didedikasikan untuk Faunus, dewa pertanian Romawi, serta pendiri Romawi Romulus dan Remus.
Untuk memulai festival, anggota Luperci, sebuah ordo pendeta Romawi, akan berkumpul di gua suci tempat bayi Romulus dan Remus, pendiri Roma, yang diyakini dirawat oleh serigala betina.
Para pendeta akan mengorbankan seekor kambing, untuk kesuburan, dan seekor anjing, untuk penyucian. Mereka kemudian akan mengupas kulit kambing menjadi potongan-potongan kecil, mencelupkannya ke dalam darah dan turun ke jalan, dengan lembut menampar wanita dan ladang dengan kulit kambing.
Wanita Romawi menyambut sentuhan kulit kambing ini karena diyakini membuat mereka lebih subur. Di kemudian hari, menurut legenda, semua wanita muda di kota itu akan memasukkan nama mereka ke dalam guci besar. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun. Tradisi ini sering berakhir dengan pernikahan.
merdeka.com
Valentine Menurut Islam
Hari Valentine menurut Islam adalah hal yang tidak perlu diikuti. Karena, menilik dari kisah-kisah sejarah tentang Hari Valentine, terlihat jelas bahwa tradisi ini adalah perayaan yang dilakukan oleh non-muslim dan juga bentuk paganisme.
Meskipun Valentine mengandung nilai kasih sayang dan cinta, namun realita yang terjadi hanya cinta yang semu. Orang-orang yang memeringati perayaan Valentine hanya mengandalkan cinta yang didasarkan pada hawa nafsu, dan pada akhirnya menggiring mereka pada perbuatan maksiat.
Bagaimana perayaan Valentine menurut Islam juga dijelaskan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa perayaan Valentine hukumnya haram. Pasalnya, Hari Valentine yang dirayakan setiap 14 Februari itu, lebih banyak diisi dengan hal-hal buruk dan tidak bermanfaat, seperti pesta, maksiat, dan mabuk-mabukkan.
Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2017, memeringatkan umat Islam bahwa merayakan Hari Valentine tanggal 14 Februari hukumnya haram. Hal ini didasarkan kepada alasan berikut:
Hari Valentine bukan termasuk dalam tradisi Islam. Hari Valentine dikhawatirkan menjerumuskan pemuda muslim kepada pergaulan bebas, seperti berhubungan intim atau seks sebelum menikah. Hari Valentine berpotensi membawa keburukan.
Merayakan berarti Meniru Orang Kafir
Alasan kuat terkait pandangan Valentine menurut Islam adalah bahwa tradisi ini bukan termasuk ke dalam tradisi Islam, bahkan asal-usulnya pun berkaitan dengan perayaan non-muslim hingga paganisme.
Dalam Islam, kita dilarang untuk mengikuti atau meniru-niru perayaan orang kafir. Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, dan juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta dalam kesepakatan para ulama (ijma’). Dalam salah satu hadis shahihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa yang menyerupai sekelompok orang maka dia adalah bagian dari mereka.”
Mengutip dari rumaysho.com, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
merdeka.com
Hadis ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum, dan di antara salah satu bentuk menyelisihinya adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’).
Hari Valentine adalah perayaan paganisme, yang kemudian diadopsi menjadi ritual agama Nasrani. Valentine menurut Islam adalah sesuatu yang dilarang untuk dirayakan, karena merayakan Hari Valentine berarti meniru-niru perayaan orang kafir.
Ajaran Kasih Sayang dalam Islam
Menolak Hari Valentine bukan berarti Islam tidak mengajarkan kasih sayang. Agama ini penuh dengan kasih sayang. Hal ini bahkan tertulis dalam salah satu ayat Al-Quran bagaimana sifat kasih sayangnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al Fath: 29).
Bentuk kasih sayang yang diajarkan dalam Islam adalah dengan menolong satu dan lainnya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71).
Bahkan dalam salah satu hadist, umat Islam dituntut untuk mencintai tidak hanya pasangannya, tapi juga saudaranya.
“Salah seorang di antara kalian tidaklah dikatakan beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
merdeka.com
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga menambahkan, bahwa ia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Dalam Islam, kasih sayang bukan ditunjukkan di satu waktu khusus, tapi di setiap waktu, pada siapa saja.