Cerita pembangunan Kanal Banjir Barat di zaman Belanda
Sejak pemerintahan Hindia Belanda, banjir merupakan salah satu ancaman terbesar, yang ‘wajib’ dihadapi warga Batavia.
Jebolnya tanggul Kanal Banjir Barat (KBB) saat hujan lebat beberapa waktu lalu, membuat aktivitas ibu kota mati. Air bah yang datang dari titik jebol tanggul, menyerang tanpa ampun pusat administrasi Jakarta.
Warga Jakarta memang sudah lama menghadapi persoalan banjir. Sejak pemerintahan Hindia Belanda, banjir merupakan salah satu ancaman terbesar, yang 'wajib' dihadapi warga Batavia (Jakarta) kala itu. Maka tak heran kalau pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1800-an, merancang konsep besar penanganan banjir.
Pada waktu itu, gubernur Hindia Belanda membuat suatu badan khusus menangani banjir, yaitu Burgelijke Openbare Werken (BOW). Badan ini merupakan cikal bakal terbentuknya Kementerian Pekerjaan Umum.
Namun, belakangan diketahui BOW tidak bekerja efektif mengatasi banjir. Ketika air bah menerjang mayoritas wilayah Batavia tahun 1873, badan khusus ini dipelesetkan maknanya oleh masyarakat menjadi Batavia Onder Water.
Persoalan banjir tidak terpecahkan dengan terbentuknya BOW. Setelah banjir merendam Batavia pada 1918 dan menelan banyak korban jiwa, pemerintah Hindia Belanda mulai merancang upaya pengendalian banjir.
Buku tulisan Robert Adhi Kusumaputra, 2010, Banjir Kanal Timur Karya Anak Bangsa, Grasindo, diterangkan, Pemerintah Hindia Belanda mulai merencanakan upaya pengendalian banjir. Kemudian pemerintah kolonial mempercayakan perencanaan itu kepada Profesor Herman van Breen. Herman kemudian diangkat sebagai ketua Tim Penyusun Rencana Pencegahan Banjir.
"Pada saat itu luas kota Batavia masih seluas 2.500 hektar," kata Adhi dalam buku.
Usai dipercaya sebagai ketua tim, Herman segera membuat konsep penanggulangan Batavia pada 1920. Ide dia adalah bagaimana mengendalikan air, mulai dari hulu sungai hingga masuk ke Batavia.
Kemudian dia mulai mengerjakan untuk mengatur volume air, mulai dari saluran kolektor di pinggiran selatan Batavia, kemudian menggiring air ke laut melalui tepi barat kota.
Saluran tersebut yang dikenal Kanal Banjir Barat, kemudian memotong kota mulai dari Pintu Air Manggarai hingga berujung ke Muara Angke.
Pada pelaksanaannya, pengerjaan proyek KBB dilakukan bertahap. Mulai dari pintu air Manggarai ke arah barat, memtong Kali CIdeng, Kali Krukut, Kali Grogol, Hingga Muara Angke.
KBB juga dilengkapi dengan penempatan dua pintu air. Pintu air Manggarai yang berfungsi sebagai pengatur debit air dari Kali Ciliwung Lama, dan pintu air Karet yang berfungsi membersihkan Kali Krukut Lama dan Kali Cideng Bawah, hingga Muara Baru.
Kerja keras Herman tidak sia-sia. Hujan yang mengguyur Batavia kala itu, tidak lagi membawa sengsara warga. Untuk sesaat, warga Batavia tidak perlu resah banjir saat musim hujan tiba.
Akibat beralih fungsinya hutan karet menjadi perkebunan teh di daerah Puncak Jawa Barat, membuat debit air di KBB meluap. Kanal sepanjang 17,3 kilometer itu terasa menjerit menerima kiriman air dari atas.
Untuk mengimbangi debit air yang selalu meningkat tiap hujan datang, akhirnya KBB diperlebar. Proyek utama terbagi dua, yaitu usaha meningkatkan kapasitas daya tampung kanal dan memperkuat tebing kanal.
Pekerjaan itu dilakukan sepanjang 14,7 kilometer dari ruas pintu air Maggarai hingga Pantai Indah Kapuk, dengan menambah kapasitas debit air dari 330 meter kubik per detik, hingga 507 meter kubik per detik.
Perbaruan kapasitas debit air juga dilakukan di hilir pintu Karet dari 557 meter kubik per detik, menjadi 734 meter kubik per detik. Sedangkan di Muara Angke, mengalami penambahan dari 842 meter kubik per detik, menjadi 1.019 meter kubik per detik.