Demi Berhaji, Bissu Segeri Pangkep 11 Tahun Tinggalkan Ritual
Mengenakan pakaian serba putih, Kahar Eka mengaku bersyukur bisa berangkat haji bersama 388 orang lainnya di kloter 22 Embarkasi Makassar. Kahar Eka mengaku sudah 13 tahun menunggu untuk bisa berangkat ke Tanah Suci, Arab Saudi.
Wajah Kahar Eka tampak lelah saat tiba di Wisma Jabal Uhud Asrama Haji Sudiang Makassar, Kamis (8/5). Kahar Eka adalah seorang Bissu asal Segeri, Pangkep dan merupakan jemaah haji kelompok terbang (kloter) 22 Embarkasi Makassar.
Mengenakan pakaian serba putih, Kahar Eka mengaku bersyukur bisa berangkat haji bersama 388 orang lainnya di kloter 22 Embarkasi Makassar. Kahar Eka mengaku sudah 13 tahun menunggu untuk bisa berangkat ke Tanah Suci, Arab Saudi.
-
Kapan jemaah haji melempar jumrah? Prosesi ini dilakukan pada hari-hari tertentu dalam perjalanan haji.
-
Kapan jemaah haji tersebut diberangkatkan? Tapi, tadi dia sudah diberangkatkan bersama dengan jemaah haji Kloter 11 asal Maluku Utara,"
-
Mengapa jemaah haji melempar jumrah? Melempar jumrah merupakan gambaran umat Islam yang sedang melawan setan, nafsu yang disebabkan olehnya, dan melawan segala keburukan yang dibisikkan setan.
-
Kapan jemaah haji Indonesia di Madinah berangkat ke Mekkah? Sebanyak 22 kloter jemaah haji Indonesia yang ada di Madinah berangkat menuju Mekkah pada Selasa (21/5).
-
Bagaimana jemaah haji tersebut bisa tertunda keberangkatannya? Akibatnya penundaan keberangkatan, jemaah tersebut harus dipindahkan ke kloter 11 bersama dengan jemaah haji asal Maluku Utara.
-
Kapan jemaah haji Indonesia dijadwalkan berangkat ke Arab Saudi? Kloter pertama jemaah haji Indonesia dijadwalkan akan berangkat ke Arab Saudi pada 12 Mei 2024 lalu.
"Syukur Alhamdulillah, penantian yang begitu panjang. Saya 13 tahun menunggu," katanya kepada merdeka.com.
Bissu Kahar mengaku keberangkatannya untuk berhaji tertunda selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19. Tahun 2022, seharusnya dirinya mendapatkan jatah untuk berangkat berhaji, tetapi karena adanya pengurangan kuota sehingga keberangkatannya harus ditunda.
"Mestinya tahun 2020 sudah berangkat, tetapi karena pandemi, dua tahun menanti. Sampai tahun ketiga berikutnya, saya mendapatkan pengurangan kuota haji," tuturnya.
Ia pun mengaku tak menyangka dipercaya menjadi Ketua Rombongan jemaah haji. Apalagi, dirinya di Kecamatan Segeri, Pangkep dikenal sebagai Bissu atau tokoh spiritual yang dianggap sakral suku Bugis. Apalagi, diantara rombongan yang ia pimpin, dirinya adalah yang paling muda
"Sebenarnya ini kayak mimpi. Saya dikelompok ini paling muda, ada lansia dan berbagai latar belakang yang berbeda seperti polisi, TNI, wiraswasta dan lain-lain," kata dia.
"Saya tidak menyangka kalau bakal menjadi ketua rombongan dan saya dalam kondisi seperti ini (seorang Bissu)," imbunya.
Sosoknya sebagai Bissu, sering menjadi perhatian. Terkadang, ada pandangan negatif terhadap dirinya, karena ada penilaian Bissu disamakan dengan waria.
"Antara agama dan tradisi kuno sedikit ada kaitannya. Tetapi jika selalu dicari titik negatifnya, pasti ketemu juga. Tapi marilah kita selaraskan selama tidak menyimpang dari agama Islam," kata dia.
Untuk keberangkatannya kali ini, Kahar mengaku berangkat bersama To Boto. To Boto sendiri diartikan asisten pribadi yang tahu detail tentang perilaku Bissu.
"Jadi saya berangkat sama To Boto. Kalau di Bissu ada namanya To Boto yaitu asisten pribadi yang tahu detail tentang perilaku Bissu. Daftarnya (haji) bersamaan," ungkapnya.
Selain sudah menyiapkan doa, Kahar mengaku sudah menyiapkan kopiah khusus yang ia rajut sendiri. Setidaknya ada dua kopiah khusus yang dirinya buat.
"Ini saya sudah persiapkan seminggu lalu acara manasik pribadi saya dan ini bikin sendiri. Saya 2 bikin pieces," ungkapnya.
Kahar juga mengaku sudah mengantisipasi terkait cuaca panas ekstrem di Arab Saudi. Setidaknya, dirinya sudah menyiapkan obat-obatan.
"Paling tidak persiapan obat-obatan. Dan ini sekarang suara sudah serak, mungkin kecapeaan karena sudah hampir sebulan ini acara manasik ibadah haji pribadi," tuturnya.
Meski dirinya adalah seorang Bissu, saat menjalani manasik haji, Kahar mengaku tidak ada perbedaan dengan jemaah lainnya. Bahkan, saat manasik haji hadir Kepala Seksi Haji dan Umrah Kabupaten Pangkep dan sejumlah tokoh agama Islam.
"Sebenarnya manasik secara pribadi tidak ada perbedaan dengan calon jemaah haji lainnya. Pada saat itu (manasik haji) hadir Kepala Kasi Haji Pangkep, pembimbing haji daerah, dan pemuka agama," sebutnya.
Kahar mengaku bukan kali ini saja ada seorang Bissu yang berangkat haji. Apalagi, dirinya sebenarnya menganut agama Islam.
"Dan kita menununaikan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah, (menjalan) Rukun Islam kelima. Walaupun kami Bissu, kami memeluk agama Islam yang kental. Apalagi latar belakang keluarga juga dari agama Islam kuat. Bapak NU dan kakak pemuka agama. Bahkan ada tiga kakak itu guru pendidikan agama Islam," tegasnya.
Menjadi Bissu Sejak Tahun 2000
Kahar Eka menjelaskan Bissu adalah seniman bugis. Bissu menjadi penyambung lidah kerejaan dan penjaga pusaka.
"Bissu itu seniman Bugis, mereka itu penentu hari, penyambung lidah kerajaan. Mereka adalah penjaga pusaka keramat kerajaan di Istana serta pemimpin upacara ritual," tuturnya.
Meski dirinya masih menyandang gelar sebagai Bissu, tetapi dirinya sudah meninggalkan ritual ke-Bissu-an selama 11 tahun. Hal itu dilakukan karena dirinya sudah berniat untuk berangkat menunaikan Rukun Islam kelima.
"Kemarin ada upacara Palili terbesar di Kecamatan Segeri. Tapi saya tidak ikuti sepenuhnya ritualnya karena saya berencana berhaji. Hampir semua kegiatan-kegiatan itu sudah saya tanggalkan," tegasnya.
Tak hanya itu, dirinya juga sudah memotong rambut dan meninggalkan atribut kewanitaan. Kahar Eka mengaku saat ini Bissu di Pangkep sudah diambang kepunahan.
"Saya sangat diminta, karena tidak ada lagi Bissu. Hanya tinggal beberapa orang, sudah diambang kepunahan. Guru saya terdahulu tahun 2000, sudah memprediksi para pewaris Bissu dan saya generasi terakhir," tegasnya.
Dalam kelompok bissu terdiri dari Puang/Pua' Matowa (Pemimpin Bissu), Puang Lolo (Wakil Puang Matoa), Bissu, Inang Bissu / Bissu Mamata (Anggota Bissu atau Bissu pemula), Bissu Lolo (Bissu remaja), Mujangka (Bissu yang memiliki pasangan namun berperilaku seperti orang yang transgender), dan Core-core (Bissu perempuan).
"Seperti Mujangka yang seorang laki-laki mempunya keluarga, punya anak, tetapi banyak tahu tentang Bissu," kata dia.
Kahar menceritakan dalam tradisi Bugis, jenis kelamin tidak hanya laki-laki dan perempuan, tetapi ada empat. Empat jenis kelamin itu yakni Oroane (laki-laki), Makunrai (perempuan), Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki) dan Calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan).
"Calabai itu adalah Bissu. Walaupun tidak semua Bissu adalah calabai. Jadi melalui proses yang begitu panjang untuk menjadi seorang Bissu," tuturnya.
Kahar mengaku eksistensi Bissu di tengah masyarakat sering dianggap sebelah mata. Minat generasi terhadap ke-Bissu-an tidak lagi. Calabai milenial itu lebih cenderung ke salon, rias pengantin, dan sebagainya, karena tidak ada aturan yang memberatkan, kecuali agama dan UU pemerintah," bebernya.
Kahar menyebut menjadi Bissu banyak aturan dan pantangannya. Salah satu pantangan yakni menjauhi zina.
"Menjadi Bissu itu harus tahu dan banyak pantangannya diantaranya itu harus menjauhi zina," kata dia.
(mdk/fik)