Deteksi Dini Kanker Usus Besar: Gejala Tersembunyi dan Strategi Pencegahan
Kanker usus besar adalah penyebab kedua kematian akibat kanker secara global. Ketahuilah gejala awal dan pencegahan penyakit ini.
Kanker usus besar atau kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum terjadi di dunia. Kanker ini terjadi ketika sel-sel yang ada di lapisan dalam usus besar atau rektum mengalami pertumbuhan abnormal dan tidak terkontrol, sehingga membentuk tumor ganas. Proses ini dapat dimulai dari perkembangan polip jinak yang seiring waktu dapat berubah menjadi kanker jika tidak segera diidentifikasi dan diobati.
Menurut data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), kanker usus besar menjadi penyebab utama kedua kematian akibat kanker secara global. Deteksi dini sangat penting dalam penanganan kanker ini karena memungkinkan peluang kesembuhan yang lebih tinggi dan menurunkan risiko komplikasi. Artikel ini akan membahas gejala awal kanker usus besar dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terkena penyakit ini.
-
Apa saja gejala kanker usus di usia muda? Meskipun gejala kanker usus di kalangan usia muda dapat bervariasi, namun gejala yang umum meliputi perubahan bentuk dan warna tinja, BAB seperti tidak tuntas, dan BAB berdarah.
-
Apa ciri khas berat badan turun karena kanker? Salah satu ciri khas penurunan berat badan karena kanker adalah hilangnya nafsu makan. Penurunan berat badan yang tidak disengaja sering kali menjadi salah satu tanda awal kanker.
-
Apa itu kanker pankreas? Kanker pankreas adalah jenis kanker yang berasal dari sel-sel yang ada di jaringan pankreas. Sel-sel kanker pankreas merupakan sel-sel yang mengalami pertumbuhan yang tidak terkontrol dan dapat menyebar ke organ dan jaringan lain di sekitarnya.
-
Bagaimana cara mencegah kanker usus? Cara mencegah kanker usus adalah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat dan melakukan pemeriksaan usus secara berkala. Berikut adalah beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kanker usus: Perbanyak konsumsi sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Makanan-makanan ini kaya akan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang bisa membantu melindungi usus dari kerusakan sel dan peradangan. Serat juga bisa membantu membersihkan usus dari sisa makanan yang bisa menjadi sumber toksin.Batasi konsumsi daging merah, daging olahan, dan makanan yang dibakar. Makanan-makanan ini mengandung zat karsinogenik, yaitu zat yang bisa merusak DNA sel dan menyebabkan kanker. Daging merah juga bisa meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh, yang bisa merangsang pertumbuhan sel kanker. Berhenti merokok dan batasi konsumsi alkohol. Rokok dan alkohol juga mengandung zat karsinogenik yang bisa meningkatkan risiko kanker usus. Alkohol juga bisa mengganggu penyerapan folat, yaitu vitamin yang penting untuk menjaga kesehatan sel.Berolahraga secara rutin. Olahraga bisa membantu menjaga berat badan ideal, meningkatkan metabolisme, dan mengurangi peradangan di usus. Olahraga juga bisa merangsang gerakan usus, sehingga mencegah penumpukan sisa makanan di usus. Jalani skrining kanker usus secara berkala. Skrining kanker usus adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi adanya polip atau tumor di usus besar.Polip adalah benjolan yang bisa menjadi kanker jika tidak diangkat. Skrining kanker usus bisa dilakukan dengan kolonoskopi, sigmoidoskopi, tes darah samar, atau tes DNA tinja.
-
Apa itu kanker sarkoma? Kanker sarkoma adalah salah satu jenis kanker yang berasal dari jaringan ikat tubuh, seperti otot, tulang rawan, lemak, pembuluh darah, atau jaringan yang mendukung organ-organ tubuh.
-
Makanan apa saja yang bisa memicu kanker usus besar? Makanan pemicu kanker usus besar menunjukkan bahwa setiap makanan yang kita konsumsi, bisa berpengaruh bagi sistem pencernaan.
Gejala Awal Kanker Usus Besar
Perubahan Pola Buang Air Besar
Salah satu gejala awal yang paling umum adalah perubahan pola buang air besar yang berlangsung lebih dari beberapa minggu. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Oncology menyebutkan bahwa perubahan ini dapat berupa diare atau konstipasi yang terjadi tanpa alasan yang jelas. Pasien juga dapat mengalami perubahan konsistensi feses, seperti feses yang lebih tipis dari biasanya (feses seperti pita). Perubahan pola buang air besar ini terjadi karena adanya massa atau tumor di usus yang mengganggu aliran normal feses. Jika dibiarkan, gejala ini dapat semakin memburuk seiring perkembangan penyakit.
Adanya Darah dalam Feses
Darah dalam feses, baik berupa darah segar maupun feses yang berwarna gelap (melena), merupakan gejala awal lainnya yang perlu diwaspadai. Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Gastroenterology mengungkapkan bahwa perdarahan rektum sering kali menjadi salah satu tanda pertama kanker usus besar. Namun, banyak pasien yang mengira bahwa darah dalam feses tersebut disebabkan oleh wasir atau hemoroid, sehingga sering kali mengabaikan gejala ini. Kehadiran darah dalam feses dapat terjadi akibat tumor yang berdarah atau iritasi pada dinding usus. Pemeriksaan lebih lanjut, seperti kolonoskopi, diperlukan untuk menentukan sumber perdarahan dan memastikan diagnosis yang akurat.
Penurunan Berat Badan yang Tidak Dijelaskan
Menurut studi yang dipublikasikan dalam Gastroenterology, penurunan berat badan secara signifikan tanpa perubahan pola makan atau aktivitas fisik dapat menjadi tanda adanya penyakit serius, termasuk kanker usus besar. Penurunan berat badan ini terjadi karena tubuh menggunakan energi lebih banyak untuk melawan pertumbuhan sel-sel kanker. Selain itu, tumor pada usus besar juga dapat menyebabkan penurunan nafsu makan, yang berkontribusi terhadap penurunan berat badan yang cepat.
Nyeri atau Kram Perut
Gejala nyeri atau kram perut secara terus menerus juga sering dilaporkan pada pasien dengan kanker usus besar tahap awal. Menurut European Journal of Cancer, nyeri ini sering terjadi di bagian perut atau panggul dan bisa disertai dengan rasa tidak nyaman seperti perut kembung atau perasaan penuh. Nyeri ini dapat terjadi karena adanya obstruksi pada usus akibat pertumbuhan tumor yang menghambat aliran feses atau gas dalam usus. Rasa sakit atau ketidaknyamanan di perut ini biasanya tidak spesifik, sehingga sering kali disalahartikan sebagai gejala gangguan pencernaan lainnya seperti sindrom iritasi usus besar (IBS). Namun, nyeri yang berlangsung lebih dari beberapa minggu sebaiknya diperiksakan lebih lanjut.
Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi tanpa penyebab yang jelas sering kali menjadi tanda pertama kanker usus besar, terutama pada pasien lansia. American Journal of Medicine mencatat bahwa pasien kanker usus besar sering kali mengalami anemia akibat perdarahan mikro yang terjadi di sepanjang usus. Kehilangan darah yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kadar hemoglobin menurun secara signifikan. Gejala anemia ini meliputi lemas, pusing, kulit pucat, dan sesak napas. Anemia pada pasien dengan kanker usus besar sering kali ditemukan pada pemeriksaan laboratorium rutin, sehingga penting untuk mengevaluasi sumber anemia jika tidak ada penyebab lain yang jelas.
Gejala-gejala ini memerlukan perhatian medis segera, terutama jika terjadi pada individu yang berusia di atas 50 tahun atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker kolorektal. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengidentifikasi apakah gejala-gejala tersebut berkaitan dengan kanker usus besar atau masalah kesehatan lain.
Langkah Pencegahan Kanker Usus Besar
Menerapkan Pola Makan Sehat
Konsumsi makanan tinggi serat seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan telah terbukti mengurangi risiko kanker usus besar. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of the National Cancer Institute menunjukkan bahwa asupan serat yang tinggi dapat menurunkan risiko kanker kolorektal. Serat membantu memperlancar proses pencernaan dan mempercepat pengeluaran zat-zat berbahaya dari saluran cerna.
Selain itu, mengurangi konsumsi daging merah dan daging olahan juga dapat mengurangi risiko kanker kolorektal. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Cancer Prevention Research, konsumsi daging merah dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, karena kandungan nitrat dan nitrit yang digunakan sebagai pengawet pada daging olahan. Sebaliknya, asupan lemak sehat dari sumber nabati seperti minyak zaitun, alpukat, dan kacang-kacangan dapat memberikan perlindungan terhadap kanker ini.
Aktivitas Fisik dan Olahraga Teratur
Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Cancer menunjukkan bahwa individu yang aktif secara fisik memiliki risiko lebih rendah terkena kanker kolorektal dibandingkan dengan mereka yang memiliki gaya hidup sedentari (tidak aktif). Aktivitas fisik dapat membantu mengatur berat badan, mengurangi inflamasi, dan meningkatkan motilitas usus, yang dapat berkontribusi pada pencegahan kanker usus besar. World Cancer Research Fund (WCRF), telah merekomendasikan melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang selama minimal 150 menit setiap minggunya, sebagai pencegahan kanker usus besar. Aktivitas ini bisa berupa berjalan cepat, bersepeda, atau latihan aerobik lainnya.
Menghindari Konsumsi Alkohol dan Rokok
Konsumsi alkohol berlebihan dan merokok merupakan faktor risiko utama yang dapat meningkatkan risiko kanker usus besar. Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology menemukan bahwa individu yang mengonsumsi alkohol secara berlebihan memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker kolorektal. Alkohol dapat memengaruhi metabolisme sel di usus besar dan meningkatkan risiko kerusakan DNA, yang dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
Merokok juga memiliki dampak buruk yang serupa. Senyawa karsinogenik dalam rokok dapat merusak lapisan mukosa usus besar dan meningkatkan risiko mutasi genetik. Penelitian dalam Journal of Clinical Oncology menunjukkan bahwa merokok dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko polip usus besar yang dapat berkembang menjadi kanker.
Skrining dan Deteksi Dini
Deteksi dini melalui prosedur skrining seperti kolonoskopi, sigmoidoskopi, atau pemeriksaan tinja adalah langkah penting dalam pencegahan kanker usus besar. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine, kolonoskopi setiap 10 tahun bagi individu yang berusia di atas 50 tahun dapat mengurangi risiko kematian akibat kanker kolorektal hingga 68%. Kolonoskopi dapat mendeteksi polip adenomatosa—benjolan jinak yang dapat berkembang menjadi kanker—sehingga dapat diangkat sebelum menjadi ganas.
Asosiasi Onkologi Klinis Amerika (American Society of Clinical Oncology/ASCO) merekomendasikan individu dengan riwayat keluarga penderita kanker usus besar untuk memulai skrining lebih awal, yaitu sekitar usia 40 tahun atau 10 tahun lebih muda dari usia yang didiagnosis. Selain itu, bagi individu dengan faktor risiko lain seperti penyakit radang usus (IBD), disarankan untuk menjalani pemeriksaan secara berkala.
Deteksi dini kanker usus besar sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mengurangi angka kematian. Mengenali gejala awal, seperti perubahan pola buang air besar, adanya darah dalam feses, dan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, dapat menjadi langkah pertama untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. Selain itu, pencegahan melalui pola hidup sehat, olahraga rutin, dan pemeriksaan kesehatan berkala dapat membantu menurunkan risiko terkena kanker ini. Dengan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya deteksi dini dan langkah-langkah pencegahan, diharapkan angka kejadian kanker usus besar dapat menurun sehingga kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik.