Kisah Pratu Asmuji, orang Asia Tenggara pertama taklukan Everest
Merdeka.com - Pada tahun 1997 Indonesia mencatatkan diri sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang bisa menaklukkan puncak Everest di Pegunungan Himalaya. Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena memang tidak mudah mendaki puncak tertinggi di dunia itu.
Dalam Ekspedisi Merah Putih 1997 itu, ada 16 orang yang terdiri dari 10 orang dari Kopassus dan 6 orang sipil yang mendapat tugas menaklukkan puncak 8.848 mdpl. namun dari 16 orang hanya dua orang yang berhasil menjajaki puncak Everest.
Pratu Asmujiono akhirnya tercatat sebagai pendaki ke-662 yang menapakkan kaki di Puncak Everest, disusul oleh Sertu Misirin di posisi 663. Bukan hal mudah menundukkan puncak dengan suhu minus 30 derajat tersebut. Butuh tekad, semangat dan fisik prima.
-
Kapan Asmujiono mencapai puncak Gunung Everest? Asmujiono berhasil mencapai Puncak Everest pada 26 April 1997, pukul 15.45 waktu Nepal.
-
Siapa yang pertama kali mencapai puncak Everest? Meskipun Edmund Hillary dan Tenzing Norgay tercatat secara resmi sebagai orang pertama yang mencapai puncak tertinggi di dunia pada tahun 1953, penemuan terbaru oleh pembuat film dan pendaki AS, Jimmy Chin, kembali memicu spekulasi tentang pencapaian Mallory dan Irvine.
-
Siapa yang pertama kali menaklukkan puncak Everest? Pasangan petualang, Norgay seorang Sherpa Nepal-India dan Hillary seorang Selandia Baru, mencapai puncak Everest pada pukul 11:30 pada tanggal 29 Mei, menjadi orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak gunung yang terkenal di dunia ini.
-
Apa yang Asmujiono lakukan di puncak Gunung Everest? Asmujiono, warga Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, jadi salah satu warga Indonesia yang berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Everest.
-
Siapa pendaki gunung yang tewas di Everest? Pada Juni 1924, sebuah tim ekspedisi melakukan pendakian Gunung Everest. Di tanggal 8 Juni, pendaki gunung asal Inggris bernama George L Mallory dan seorang mahasiswa teknik bernama Andrew 'Sandy' Irvine berangkat meninggalkan tim ekspedisi mereka untuk mecapai puncak. Sayangnya, mereka tidak pernah terlihat lagi dalam keadaan hidup.
-
Bagaimana pendaki mencapai puncak? Ada beberapa jalur yang dapat ditempuh untuk mendaki Gunung Salak. Puncak yang umumnya menjadi tujuan pendaki adalah Salak I. Alternatif jalur lainnya termasuk melalui 'jalan belakang' melalui Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu, yang berdekatan dengan Gunung Bunder.
Lalu bagaimana kisah pendakian bersejarah tersebut? Berikut cerita Asmujiono ketika berhasil menaklukkan puncak tertinggi di dunia itu:
Indonesia tak mau kalah dari Malaysia taklukan Everest
Negara di Asia Tenggara saat itu (tahun 1997), belum ada yang berhasil menaklukkan Everest. Bahkan saat keberangkatan Ekspedisi Merah Putih 1997 diduga karena rencana Malaysia yang saat itu akan memberangkatkan timnya. Negara yang bisa di Puncak Kaki Langit memiliki gengsi tersendiri.Saat itu, ada 16 orang yang terdiri dari 10 orang dari Kopassus dan 6 orang sipil yang mendapat tugas menaklukkan puncak Everest. Misi mereka adalah menunjukkan kepada dunia, kalau Indonesia sejajar dengan nagara lain di dunia.Namun di tengah perjalanan tidak semua dari 16 orang itu bisa melanjutkan pendakian. Pendaki yang melanjutkan perjalanan dalam Ekspedisi Merah Putih 1997 tinggal tiga orang yakni Lettu Iwan Setiawan, Sertu Misirin dan Pratu Asmujiono. Pada 26 April 1997, ketiga pendaki meninggalkan Camp IV di South Col dengan ketinggian 7.980 M yang bersuhu minus 30 derajat celcius. Mereka mulai menyusuri menuju puncak Everest di 8.848 M.Pratu Asmujiono akhirnya tercatat sebagai pendaki ke-662 yang menapaki kaki di Puncak Everest, disusul oleh Sertu Misirin di posisi 663. Sedangkan Lettu Iwan gagal dalam misi sulit itu.
Di ketinggian 7000 Mdpl, napsu makan hilang
Asmujiono mengisahkan saat dirinya berada di Puncak Himalaya. Saat memasuki ketinggian 7.000 mdpl ke atas, sudah tidak ada nafsu makan lagi. Semua yang terlihat hanya hamparan es."Makan sudah tidak enak, tapi tubuh butuh energi untuk kita bisa berjalan. Saat membawa daging, dagingnya tidak bisa dipotong, telur menjadi keras. Air mendidih langsung minum, buang air kecil langsung berubah menjadi es," kata Asmujiono saat menjadi narasumber dalam talkshow Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997, Merah Putih di Atap Tertinggi Dunia. Acara yang berlangsung di Aula Gedung A Lantai A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, dihadiri oleh sekitar 300 peserta, Minggu (24/5) kemarin.Karena keinginan kuat dan cita-cita demi mengibarkan Merah Putih di Puncak Everest, ketiganya (Lettu Iwan Setiawan, Sertu Misirin dan Pratu Asmujiono) rela bertaruh nyawa. Lereng gunung berselimut es sebatas paha disusuri, bahkan dengan kemiringan 80 derajat.Tekad kuat pantang pulang tanpa prestasi akhirnya mengantarkan mimpi mereka terwujud. Asmujiono berhasil membawa misi pada 26 April 1997 pukul 15.30 waktu setempat. Dia tercatat sebagai pendaki ke-662 yang menapaki kaki di Puncak Everest, disusul oleh Misirin di posisi 663. Tetapi bagi orang Asia Tenggara, keduanya menjadi orang pertama dan kedua. Semua bisa menjadi kenyataan karena mimpi dan cita-cita.
Pelatih Rusia pun enggan berbagi air di puncak Everest
Perjalanan menuju Puncak Everest yang dilakukan oleh Asmujiono bersama 15 orang yang lain pada 1997, terbilang sangat jauh dari kata teknologi canggih. Bahkan misi besar itu dilakukan dengan penuh keterbatasan, meski demikian hal itu tidak mengurangi semangat anggota tim.Saat itu, ada 16 orang yang terdiri dari 10 orang dari Kopassus dan 6 orang sipil yang mendapat tugas menaklukkan puncak Everest. Misi mereka adalah menunjukkan kepada dunia, kalau Indonesia sejajar dengan nagara lain di dunia.Negara di Asia Tenggara, saat itu belum ada yang berhasil, bahkan keberangkatan Ekspedisi Merah Putih 1997 diduga karena rencana Malaysia yang saat itu akan memberangkatkan timnya. Negara yang bisa di Puncak Kaki Langit memiliki gengsi tersendiri."Saat itu ada seingat saya ada pameran di Rusia, dibelikan termos dengan bahan tertentu yang katanya canggih. Tetapi saat termos itu dipakai, tetap saja air di dalamnya beku menjadi es. Termosnya diisi air panas, airnya tidak bisa keluar karena beku." kata Asmujiono.Asmujiono mengisahkan, saat menuju puncak tiga pelatih yakni Anatoli Beukreev, Vladimir Baskirov dan Evgenie Vinogradsky mendampingi perjalanannya. Satu pelatih mendampingi satu orang.Pelatih asal Rusia yang mendampingi kita memiliki botol yang ditaruh di tubuhnya. Ditaruh di sekitar ketiaknya, tetapi setiap saya minta airnya tidak pernah dikasih. Saya lihat dia meneteskan air ke mulutnya," kata Asmujiono."Entah dia nggak ngerti bahasa saya atau apa, setiap saya minta tidak pernah dikasih," tambahnya.
Tiga hari tiga malam tidak makan
Sejak memasuki ketinggian 7.000 meter, Asmuji mengaku sudah tidak ada nafsu makan lagi. Tetapi tubuhnya butuh energi untuk sumber tenaga.Suhu di bawah minus 30 derajat, saat membawa daging sudah tidak bisa dipotong, bahkan telur menjadi keras. Air mendidih bisa langsung diminum, bahkan buang air kecil langsung berubah menjadi es."Saya tiga hari tiga malam sudah tidak bisa makan. Kita semula sudah dipersiapkan emergency camp. Indonesia hanya dianggap akan mampu di Camp 3 di ketinggian 7.300 meter saja," katanya.Perlu diketahui Camp I berada di 6.100 M, Camp II di 6.500 M, Camp III di 7.300 M dan Camp IV di 7.980 M. Saat ekspedisi pertama hanya tiga orang yang diperkenankan melanjutkan ke Puncak Everest di 8.850 M. Sementara yang mencapai puncak Everest hanya dua orang yakni Asmujiono dan Misirin.
Pulang dari puncak Everest, Asmujiono sempat dianggap gila
Pulang dari ekspedisi ke puncak Everest 1997, Asmujiono mengalami sakit yang secara medis tidak diketahui. Sebagian sarafnya mati, saat ditanya wartawan tentang keberhasilannya, dia kesulitan untuk memberikan jawaban dan respon.Pengakuan itu disampaikan oleh Asmujiono saat menjadi nara sumberTalkshow Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997, Merah Putih di Atap Tertinggi Dunia di Aula Gedung A Lantai A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang, Minggu (24/5)."Bahkan banyak orang yang mengabarkan kalau saya sudah sakit jiwa dan harus menjalani karantina. Saya sakit sekitar 2 tahun, disangka gila, karena itu saya disembunyikan," kata Asmujiono.Asmujiono berhasil mengibarkan Merah Putih di Puncak Everest pada 26 April 1997 pukul 15.30 waktu setempat. Dia tercatat sebagai pendaki ke-662 yang menapaki kaki di Puncak Everest, disusul oleh Misirin di posisi 663. Tetapi bagi orang Asia Tenggara, keduanya menjadi orang pertama dan kedua. Misi itu ditempuh selama enam bulan mulai Desember 1996 hingga Mei 1997.Perubahan yang drastis dari suhu ekstrem kemudian kembali ke suhu tropis diduga menjadi penyebab sakitnya. Selama dua tahun, Asmujiono harus menjalani pengobatan, di antaranya di Sumur Tujuh Banten."Seharusnya tidak langsung dibawa ke Indonesia, minimal satu tahun di Nepal menjalani penyesuaian. Harusnya disuruh jalan-jalan dulu seperti para bule-bule di sana," katanya.Asmujiono begitu selesai dengan misinya langsung dijemput oleh pesawat khusus. Saat itu menjadi ikon kebanggaan karena sudah mencatat rekor."Saya ditanya wartawan diam saja, saraf belum bisa menerima. Ibarat besi panas langsung dimasukkan ke dalam es, langsung bengkok," katanya.Sempat tergiang dalam ingatan Asmujiono, kalau kelak pulang dari menjalankan misi akan bercerita kepada teman-teman sambil bisa berbangga."Saya yang pelakunya saat itu tidak punya kesempatan, ke mana-mana saya tidak diajak. Bahkan tidak sedikit yang meragukan. Benarkah saya sampai ke puncak Everest," katanya. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Saat itu, Asmujiono membawa nama Indonesia, karena memang negara tetangga Malaysia juga menjalankan misi serupa.
Baca SelengkapnyaPensiunan anggota Kopassus ini mengenang perjuangannya menaklukan puncak tertinggi dunia demi mengibarkan bendera merah putih.
Baca SelengkapnyaPerayaan Hari Everest Internasional, memiliki sejarah menarik.
Baca SelengkapnyaPria ini mendaki Everest hampir setiap tahun karena berkaitan dengan pekerjaannya.
Baca SelengkapnyaPutri Handayani, wanita asal Serdang Bedagai yang sudah menaklukan berbagai gunung di dunia. Ia pun menjadi sosok inspirasi bagi kaum muda.
Baca SelengkapnyaBerkat aksinya, Putri menuai apresiasi dari warganet hingga kalangan pejabat.
Baca SelengkapnyaUsai pertemuan, anak angkat ulama Buya Hamka itu turut mendoakan Prabowo.
Baca SelengkapnyaViral nenek usia 71 tahun taklukan banyak gunung. Ini fakta sosoknya yang curi perhatian.
Baca SelengkapnyaBasarnas Bali akhirnya menemukan identitas pendaki yang ditemukan tewas di Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali.
Baca SelengkapnyaBerusia 10 tahun, Raihanun Rinjani Pratomo membutuhkan waktu 60 jam untuk mencapai puncak.
Baca SelengkapnyaTugu ini dibuat untuk seorang pendaki asal Kota Padang bernama Abel Tasman yang tewas karena terjebak erupsi.
Baca SelengkapnyaTak jauh dari Desa Ranu Pani, terdapat sebuah danau yang terus mengalami pendangkalan
Baca Selengkapnya