Dampak Buruk Cuaca Panas Bisa Semakin Parah pada Kelompok Rentan
Cuaca panas bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatan kita, namun hal ini bisa semakin berdampak buruk pada mereka yang tergolong kelompok rentan.

Cuaca panas bisa berdampak buruk pada kondisi kesehatan kita, namun hal ini bisa semakin berdampak buruk pada mereka yang tergolong kelompok rentan.

Dampak Buruk Cuaca Panas Bisa Semakin Parah pada Kelompok Rentan
Cuaca panas yang ekstrem membawa risiko serius bagi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak. Dokter spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo, dr. Faisal Parlindungan Sp.PD, menyoroti dampak negatif dari cuaca panas yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi dan masalah kesehatan lainnya pada kelompok rentan ini.
"Dehidrasi ditandai dengan rasa haus, kulit terasa kering dan panas, keringat berlebih, pucat, rasa berdebar atau jantung berdetak lebih cepat, keram pada kaki atau perut, urine sedikit dan berwarna pekat yang jika tidak ditangani dapat mengakibatkan komplikasi seperti syok hipovolemik," terang Faisal dilansir dari Antara.
Selain dehidrasi, cuaca panas juga dapat menyebabkan kondisi medis serius seperti heatstroke atau serangan panas. Faisal menjelaskan bahwa heatstroke terjadi ketika suhu tubuh naik di atas 40 derajat Celcius, yang dapat mengakibatkan gejala seperti kebingungan, kejang, bahkan kehilangan kesadaran.
Paparan panas yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti jantung, ginjal, dan otak, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.

Lansia, dengan kemampuan tubuh yang menurun seiring bertambahnya usia, rentan terhadap efek negatif dari cuaca panas. Ini diperparah oleh adanya komorbiditas seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan ginjal, yang dapat memperburuk efek dehidrasi dan panas pada tubuh.
Begitu pula dengan ibu hamil, terutama yang mengalami komplikasi kehamilan seperti preeklamsia. Faisal menekankan pentingnya ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh mereka agar tidak mengalami dehidrasi yang dapat berdampak negatif pada perkembangan janin dan kesehatan ibu.
“Ibu hamil dengan komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia, lebih rentan terhadap efek panas. Ibu hamil memiliki kebutuhan cairan yang lebih banyak untuk mendukung perkembangan janin dan volume darah yang meningkat dan agar tidak dehidrasi,” katanya.

Anak-anak juga termasuk kelompok rentan yang rentan terhadap dampak cuaca panas. Proporsi permukaan tubuh yang lebih besar dibandingkan berat badan membuat mereka lebih rentan terhadap dehidrasi.
Anak-anak dengan penyakit kronis seperti asma juga lebih rentan terhadap efek panas dan kondisi cuaca yang kurang baik. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus terhadap perlindungan dan pemenuhan kebutuhan cairan pada anak-anak saat cuaca panas.
Faisal juga menyoroti pentingnya pengaturan konsumsi kopi pada kelompok rentan. Kafein dalam kopi dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan menyebabkan kehilangan cairan tubuh.
"Dehidrasi akibat kopi mungkin tidak terasa langsung, karena efek diuretiknya lebih halus dibandingkan dehidrasi dari diare atau muntah," jelas Faisal.
Oleh karena itu, disarankan untuk mengonsumsi air putih minimal 8 gelas atau dua liter per hari, serta mengonsumsi buah dan sayuran yang kaya akan air seperti semangka, melon, bayam, dan timun untuk menjaga kecukupan cairan tubuh.
