Mencicipi Sate Kelinci Mbah Kromo Khas Kulon Progo, Sudah Berjualan Sejak Awal Era Presiden Soeharto
Walaupun sudah berusia 85 tahun, Mbah Kromo tetap sehat dan semangat menjual sate kelinci
Di Kota Wates, Kabupaten Kulon Progo, terdapat sebuah kuliner legendaris bernama Sate Kelinci Mbah Kromo. Lokasinya tepat di seberang Taman Budaya Kulon Progo.
Melalui sebuah video yang diunggah pada 23 November 2023 lalu, pemilik kanal YouTube Makan Keliling berkesempatan untuk mengunjungi warung makan tersebut.
-
Mengapa Sertu Sarijo berjualan sate kronyos? Terlepas dari pendapatan tambahannya yang cukup fantastis, Sarijo rupanya bukan hanya mencari penghidupan saja.Dengan berjualan sate keliling, Sarijo rupanya ingin menjalin persaudaraan sekaligus silaturahmi ke warga setempat."Untuk mencari persaudaraan dan silaturahmi," tuturnya, demikian dikutip dari keterangan Sarijo pada kanal YouTube Adhitya Putratama, Jumat (28/6).
-
Mengapa Sate Bumbon dinamai begitu? Nama Sate Bumbon diambil dari bahasa Jawa, yaitu "Bumbon" yang berarti bumbu. Sesuai namanya, makanan ini memang kaya akan rempah-rempah.
-
Kenapa Sate Brutu dianggap istimewa? Bagi penikmat kuliner, sate brutu sering dianggap sebagai hidangan yang istimewa karena memberikan pengalaman makan yang berbeda dari sate daging biasa.
-
Kenapa Sertu Sarijo berjualan sate keliling? Untuk mencari persaudaraan dan silaturahmi," tuturnya, demikian dikutip dari keterangan Sarijo pada kanal YouTube Adhitya Putratama, Jumat (28/6).
-
Kenapa Sate Madura digemari? Fakta di Balik Sate Akademisi Pendidikan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Elly Lasmawati menjelaskan rahasia di balik kenikmatan Sate Madura. Sate ini menggunakan bumbu dari kacang tanah yang dihaluskan dengan petis dan sedikit bawang merah. Daging yang digunakan ada daging ayam dan daging kambing.
-
Apa yang membuat sate sapi Pak Kempleng istimewa? Sate Sapi Pak Kempleng memiliki keistimewaan yaitu tekstur dagingnya yang walaupun berotot namun lembut dan tidak berlemak. Hal ini karena daging yang digunakan adalah daging has dalam dan lulur.
Kesibukan aktivitas di warung makan itu terlihat begitu kentara. Dalam kesempatan itu, pemilik kanal YouTube Makan Keliling berkesempatan bertemu langsung dengan Mbah Kromo. Dengan mengenakan baju batik dan kopiah di kepala, Mbah Kromo tampak sedang mengipas sate dengan kipas anyaman bambu yang ia miliki.
Lantas seperti apa cerita di balik berdirinya warung kuliner legendaris itu? Berikut selengkapnya:
Sudah Jualan Sejak Era Awal Pemerintahan Soeharto
Mbah Kromo mengatakan, ia sudah berjualan sate kelinci sejak era awal Presiden Soeharto, tepatnya sejak tahun 1967. Sudah berjualan sejak lama, Mbah Kromo sudah punya pelanggan tetap yang kebanyakan merupakan orang-orang yang telah berusia lanjut.
“Di sini ramainya kalau pas tanggal gajian dan pembagian dana pensiun,” ujar Mbah Kromo.
Mbah Kromo sendiri sekarang sudah berusia 87 tahun. Walau usianya telah lanjut, ia masih tampak sehat dan bersemangat menjalani hari-hari di warung.
- Tersenyum Manis dan Tepuk Tangan Titiek Soeharto saat Prabowo Subianto Beri Hormat Setelah Dilantik
- Mencicipi Sate Asem Khas Betawi, Olahan Daging dan Kelapa yang Kini Mulai Langka
- Merasakan Nikmatnya Sate Sapi Pak Kempleng, Salah Satu Kuliner Legendaris di Kabupaten Semarang
- Merasakan Segarnya Es Sagwan, Kuliner Legendaris Tegal yang Diwariskan Turun-Temurun
Menu yang Dijual
Mbah Kromo biasanya libur berjualan setiap hari Minggu. Di warungnya, ia tak hanya menjual sate kelinci, namun juga tongseng kelinci. Daging kelinci sebagai bahan olahan utama ia beli secara mentah.
Pada masa awal berjualan, Mbah Kromo berjualan dengan cara berkeliling menggunakan gerobak makanan. Mbah Kromo berjualan sate kelinci antara pukul 08.00 hingga 15.00 WIB. Namun biasanya jam 12.00 dagangannya telah habis terjual.
“Biasanya yang datang ke sini itu rombongan. Sering kali rombongan yang datang ke sini jumlahnya sampai 15 orang,” ujar Mbah Kromo dikutip dari kanal YouTube Makan Keliling.
Rasa Sate Kelinci
Menurut pemilik kanal YouTube Makan Keliling, tongseng kelinci Mbah Kromo memiliki rasa yang gurih dan kuahnya tidak asin. Sementara itu untuk sate kelinci sekilas terlihat seperti sate kambing dengan bumbu kecap.
“Ini kalau dari dua masakan ini, kalau yang sate mengingatkan ke sate kambing, kalau tongsengnya mengingatkan ke tongseng ayam Sudimoro yang ada di Bantul,” ujar pemilik kanal YouTube Makan Keliling.
Satu porsi sate kelinci dan tongseng kelinci masing-masing dibanderol dengan harga Rp30 ribu. Harga itu sudah termasuk nasi dan juga minuman teh atau jeruk.