Tak lahir di Bumi, dari mana emas berasal?
Mampukah manusia menciptakan emas? Temukan jawabannya disini!
Emas adalah logam mulia yang sangat langka. Bila dikumpulkan, seluruh emas di Bumi diperkirakan hanya bisa mengisi 3 buah kolam renang untuk olimpiade. Tak aneh bila harganya selangit. Tapi tahukah Anda bila emas bukan berasal dari Bumi?
-
Siapa ilmuwan terbaik di Universitas Gadjah Mada berdasarkan AD Scientific Index 2024? Universitas Gadjah Mada Jumlah ilmuwan dalam indeks : 497Ilmuwan terbaik dalam institusi : Abdul Rohman
-
Di mana daftar ilmuwan paling berpengaruh di dunia ini diumumkan? Peringkat tersebut didasarkan pada analisis dampak sitasi di berbagai disiplin ilmu yang diambil dari database Scopus. Setiap tahun, lembaga ini memilih 100.000 ilmuwan dari seluruh dunia yang aktif di berbagai institusi akademik.
-
Bagaimana AD Scientific Index menentukan peringkat universitas terbaik di Indonesia? AD Scientific Index menggunakan sistem pemeringkatan yang unik dengan menganalisis sebaran ilmuwan dalam suatu institusi menurut persentil 3, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, dan 90.
-
Universitas terbaik apa yang menempati peringkat pertama di Indonesia versi AD Scientific Index 2024? Dalam daftar University Rankings 2024 AD Scientific Index yang mencakup 2.227 kampus, UGM, UTI (Universitas Teknokrat Indonesia), dan Undip berhasil menempati peringkat tertinggi sebagai universitas terbaik di Indonesia.
-
Mengapa penelitian ini penting? Selain membantu memahami lebih lanjut tentang sistem cuaca unik di planet es, temuan ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa medan magnet Neptunus dan Uranus berbeda dengan medan simetris yang dimiliki Bumi.
Emas berasal dari luar angkasa
Emas tidak terbentuk di Bumi layaknya minyak atau berlian, tetapi dari luar angkasa. Penelitian memperkirakan bila emas berasal dari meteor yang membombardir Bumi sekitar 200 juta tahun setelah planet kita ini terbentuk.Â
Namun, hal ini masih belum bisa menjelaskan dari mana terbentuknya logam mulia itu. Sebab tentu meteor tidak begitu saja 'ditumbuhi' emas, demikian halnya planet lain selain Bumi. Emas tidak dapat terbentuk di planet.
Semua berawal dari bintang
Ya, emas berasal dari bintang, seperti halnya matahari kita. Tetapi emas di Bumi tidak berasal dari matahari, melainkan bintang lain yang jauh dari Bumi dan telah mati.
Penelitian membuktikan bila emas berasal dari supernova. Supernova adalah periode di mana sebuah bintang tidak lagi bisa melakukan reaksi nuklir dan kemudian meledak.
Ledakan bintang yang sangat dahsyat ini membuat partikel positif dan negatif bergabung, membentuk partikel bermuatan netral atau neutron. Karena tidak memiliki muatan, neutron dengan mudah bergabung dengan zat lain di angkasa, seperti besi.
Dari besi berubah jadi emas
Ketika besi terlalu banyak bergabung dengan neutron, maka lama kelamaan dia akan berubah menjadi logam dengan massa yang lebih besar, yakni perak.
Masih sama seperti besi, perak kemudian kembali 'memakan' neutron dalam jumlah besar hingga akhirnya menjadi emas. Bila si emas masih terus bergabung dengan neutron, maka logam mulia ini akan menjadi timbal, sebelum akhirnya menjadi zat radioaktif Uranium.
Berkat ledakan supernova yang memancarkan energi sangat besar, proses evolusi dari besi menjadi emas bisa berlangsung dalam hitungan detik. Padahal proses normalnya membutuhkan waktu jutaan tahun.
Ledakan itu juga mengakibatkan debu-debu emas ini melesat ke seantero galaksi sekitar, seperti halnya Bima Sakti, hingga akhirnya Bumi.
Mampukah manusia menciptakan emas?
Sejak ratusan tahun lalu, ahli kimia berupaya membuat emas. Salah satu kisahnya yang terkenal tentu batu 'bertuah' atau The Philosopher Stone. Batu ini disebut dapat mengubah besi menjadi emas, layaknya proses pembentukan emas di supernova.
Meskipun hal tersebut hanyalah legenda, saat ini manusia ternyata bisa membuat emas sendiri. Cara utamanya menggunakan teknologi penumbuk partikel Large Hadron Collider (LHD) yang ada di Jenewa, Swiss.
Dengan LHD, ilmuwan dapat mengubah kembali timbal menjadi emas lewat serangkaian reaksi nuklir. Sayangnya, proses pengembalian timbal menjadi 1 gram emas membutuhkan waktu setidaknya 13 miliar tahun lebih atau sama dengan umur alam semesta sampai saat ini.
Sumber: Ted-Ed