Arkeolog Teliti Kotoran Mumi Berusia Ribuan Tahun, Hasilnya Ungkap Pola Makan Manusia Dulu Ternyata Aneh
Arkeolog Teliti Kotoran Mumi Berusia Ribuan Tahun, Hasilnya Ungkap Pola Makan Manusia Dulu Ternyata Aneh

Lewat penelitian kotoran mumi, arkeolog bisa mengetahui pola makan manusia ribuan tahun lalu.

Arkeolog Teliti Kotoran Mumi Berusia Ribuan Tahun, Hasilnya Ungkap Pola Makan Manusia Dulu Ternyata Aneh
Arkeolog mengalisis DNA baru dari kotoran mumi atau koprolit dua budaya Karibia pra-Colombus yang mengungkap gambaran tentang makanan yang dikonsumsi manusia ribuan tahun lalu.
Penelitian ini mengungkap penduduk Karibia kuno memakan berbagai macam tanaman, tembakau, bahkan kapas. Temuan ini dideskripsikan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada 11 Oktober di jurnal akses terbuka, PLOS ONE.
Dilansir dari Popular Science, Studi yang dilakukan oleh arkeolog di Universitas Puerto Rico ini mengamati koprolit dari sisa-sisa manusia dari dua budaya pra-Columbus yang disebut Huecoid dan Saladoid.
Dalam sebuah studi sebelumnya tentang kotoran yang berusia berabad-abad, mendukung hipotesis bahwa Huecoid kemungkinan besar berasal dari Pegunungan Andes di Bolivia dan Peru saat ini sebelum bermigrasi di antara pulau-pulau yang berbeda di Karibia sekitar abad ketiga Masehi.
Orang-orang Saladoid kemungkinan berasal dari Venezuela modern dan

melakukan perjalanan ke pulau Vieques di Puerto Rico pada abad keenam Masehi.
“Arkeolog di Universitas Puerto Rico mendedikasikan lebih dari 30 tahun untuk menggali di Pulau Vieques, menemukan koprolit bersama dengan banyak artefak tak ternilai lainnya,” kata Gary A. Toranzos, salah satu penulis studi dan ahli mikrobiologi lingkungan/paleo mikrobiologi di Universitas Puerto Rico, kepada PopSci.
“Orang akan menganggap mudah menemukan koprolit karena mereka diendapkan setiap hari. Namun, kebanyakan orang tidak akan mengenalinya dan kondisi pembentukan koprolit harus sangat spesifik.”
Para peneliti mengatakan koprolit membutuhkan kondisi yang kering untuk bisa mengawetkan DNA dan mereka meyakini pengawetan ini tidak mungkin terjadi karena Karibia memiliki iklim yang lembab.
“Narganes dan Chanlate membuktikan mereka salah,” kata Toranzos.
Dalam penelitian tersebut, Toranzos dan ahli mikrobiologi Jelissa Reynoso-García dengan hati-hati mengekstraksi dan menganalisis DNA tanaman dari sepuluh sampel koprolit dari situs arkeologi La Hueca di Puerto Rico.
Mereka kemudian membandingkan DNA tanaman yang diekstraksi dengan basis data sampel koprolit yang beragam dan sekuens DNA tanaman kontemporer.
Mereka menemukan masyarakat Huecoid dan Saladoid menikmati sistem makanan yang beragam dan canggih, termasuk ubi jalar, kacang tanah liar dan kacang tanah yang telah didomestikasi, cabai, jenis tomat, pepaya, dan jagung.
Analisis mereka juga mendeteksi adanya tembakau, yang mungkin disebabkan oleh tembakau yang dikunyah, tembakau yang dihirup, atau tembakau sebagai bahan tambahan makanan untuk tujuan pengobatan atau halusinasi.
Namun mereka menemukan hal aneh dalam penelitian tersebut, di mana mereka berhasil mendeteksi kapas dalam kotoran mumi tersebut, para peneliti berasumsi kapas tersebut berasal dari kebiasaan para wanita Karibia kuno yang membasahi untaian kapas dengan air liur saat menenun atau kapas tersebut juga bisa berasal dari biji kapas tanah yang digunakan dalam minyak.
Selain itu, mereka juga tidak menemukan bukti konsumsi singkong yang disebut yucca dan manioc. Hal aneh karena, singkong sering dilaporkan sebagai makanan pokok di Karibia pra-Columbus dalam berbagai sumber yang mencatat masa itu.
“DNA singkong tidak ditemukan, kemungkinan karena persiapan bubuk singkong yang ekstensif untuk menghilangkan racun dalam tanaman,” kata Toranzos.
Meskipun ada kemungkinan orang Huecoid dan Saladoid memakan tanaman atau jamur lain selain yang dicatat oleh penelitian ini. Para penulis berharap analisis ini memberikan wawasan lebih lanjut tentang kehidupan masyarakat pra-Columbus di Amerika.
“Bahkan kotoran adalah sumber daya yang bagus untuk pertanian, dan banyak hal lainnya,” kata Toranzos. “Sekarang kita melihat hal tersebut merupakan cara yang bagus untuk mendapatkan informasi dari mereka yang hidup ribuan tahun sebelum kita.”