Ilmuwan Temukan Spesies Baru Lalat Gergaji dari Fosil Berusia 16 Juta Tahun, Serangga Mirip Tawon yang Telah Punah
Hewan purba ini bukan seperti lalat yang kita kenal saat ini, namun lebih mirip tawon.

Peneliti menemukan spesies baru lalat gergaji, yang teridentifikasi dari fosil yang ditemukan di Australia. Menurut para ilmuwan, lalat gergaji ini bukan lalat seperti yang kita kenal saat ini.
Lalat gergaji sebenarnya adalah sejenis tawon, namun tampilannya sedikit unik dan tidak memiliki “pinggang tawon” seperti yang terlihat pada anggota keluarga tawon lainnya. Sebaliknya, lalat gergaji memiliki ovipositor berbentuk gergaji yang digunakan untuk bertelur.
Dikutip dari IFL Science, Kamis (24/10), spesies baru ini sudah lama punah dan diperkirakan hidup di wilayah yang kini bernama Australia pada Zaman Miosen. Para peneliti memperkirakan fosil lalat gergaji tersebut berusia antara 11 dan 16 juta tahun dan yang pertama ditemukan di Australia. Fosil ini pertama kali ditemukan pada tahun 2018 di McGraths Flat, sebuah deposit danau oxbow di New South Wales.
Spesies baru ini diberi nama Baladi warru. "Baladi" berarti "gergaji" and "warru" berarti "tawon" dalam bahasa Wiradjuri – kelompok Aborigin terbesar di New South Wales. Nama ini telah mendapat persetujuan Mudgee Local Aboriginal Land Council, untuk menghormati Pemilik Tradisional tanah di mana fosil ini ditemukan.
Dengan mengamati secara dekat pembuluh darah yang mengalir melalui sayap fosil, serta bagian kepala yang disebut clypeus, tim dapat memastikan itu adalah spesies baru yang termasuk dalam subfamili Perginae dan berkerabat dekat dengan Genera Australia Cerealces dan Xyloperga, spesies yang hidup saat ini.
Garis Keturunan
Dengan membandingkan spesies baru ini dengan taksa hidup lainnya dan melakukan analisis DNA, tim mengetahui seberapa dekat kekerabatan fosil baru tersebut dengan spesies lalat gergaji saat ini.
Usia fosil bahkan membantu para ilmuwan mengetahui kapan seluruh garis keturunan lalat gergaji terbentuk, seperti dijelaskan ilmuwan peneliti CSIRO, Dr Juanita Rodriguez dalam sebuah pernyataan.
“Kami menggunakan usia fosil dan penempatannya untuk membuktikan bahwa lalat gergaji berasal dari Zaman Kapur, sekitar 100 juta tahun yang lalu, yang berarti nenek moyang kuno mereka tinggal di Gondwana. Ketika benua super ini terpecah, lalat gergaji akhirnya tersebar di Australia dan Amerika Selatan,” tambah Rodriguez.
Hasil temuan para ilmuwan ini diterbitkan dalam jurnal Systematic Entomology.