Sering Dibully dan Alami Kerugian Berkali-kali, Pria Ini Kini Sukses Jadi Juragan Kos di Yogyakarta
Anton kecil kerap mendapatkan perlakuan buruk di sekolah.
Pengalaman pahit yang Anton rasakan memupuk semangat perubahan dalam dirinya untuk menjadi orang yang sukses dan lebih baik.
Sering Dibully dan Alami Kerugian Berkali-kali, Pria Ini Kini Sukses Jadi Juragan Kos di Yogyakarta
Sering Dibully dan Alami Kerugian Berkali-kali, Pria Ini Kini Sukses Jadi Juragan Kos di Yogyakarta
Antoni Sudarsono kini sukses menjadi investor properti. Orang tuanya merupakan pedagang yang merantau dari Sumatera pindah ke Jawa tanpa modal dan bahasa yang cukup.
Sejak kecil, Anton terbiasa diajarkan hidup hemat dan menyaksikan perjuangan kedua orang tuanya dari nol hingga mencapai tahap mampu pada saat itu.
Selain pernah merasakan hidup serba kekurangan, Anton kecil kerap mendapatkan perlakuan buruk di sekolah. Dia selalu dirundung oleh teman sebaya karena tidak pintar atau populer seperti ketiga kakaknya yang lain.
"Dari 4 bersaudara, aku memang terbilang yang paling bodoh. Aku sering dibandingkan dengan koko dan cici ku selama sekolah, dan di bully teman-temanku dan sering mendapatkan rasisme karena perbedaan etnis," kata Anton seperti yang dikutip dari akun Youtube Pecah Telur, Selasa (3/10).
Pengalaman pahit yang Anton rasakan memupuk semangat perubahan dalam dirinya untuk menjadi orang yang sukses dan lebih baik. Dengan ini, Anton berharap tak ada lagi yang memperlakukan dirinya dengan buruk di masa depan.
Anton memulai perjalanan bisnisnya ketika SMA dengan menjual nasi kucing seharga Rp2.500 di depan gerbang sekolah dan berhasil menjual 100 porsi nasi kucing per hari.
merdeka.com
Namun, bukannya mendapatkan dukungan, Anton justru malah dihina teman-temannya sebagai orang tidak mampu, hingga terdengar oleh kedua orang tuanya. Usaha ini akhirnya tak lagi diteruskan Anton karena dianggap sebagai tindakan yang memalukan oleh orang tuanya pada saat itu.
Tak hanya gagal melanjutkan bisnis nasi kucing, Anton juga pernah mengalami kegagalan ketika menjual Batik di Malaysia. Selain itu, Anton juga terkena penyakit paru-paru basah akibat mengalami kelelahan dalam membangun bisnis F&B dari bazar ke bazar.
Melihat kegigihan anaknya membangun usaha, orang tua Anton kemudian memodali nya untuk membuka sebuah outlet di mal.Dari sanalah, Anton dapat melebarkan bisnis hingga mendapatkan keuntungan ratusan juta rupiah.
Setelah dirasa memiliki modal yang cukup, Anton akhirnya mulai memberanikan diri untuk menjadi seorang investor properti.
Menurut Anton, investor properti adalah langkah paling aman yang dapat dilakukan oleh investor pemula karena minim mengalami kerugian.
"Kos-kosan adalah starting untuk memulai properti yang paling aman, karena 100 persen pendanaannya berasal dari orang lain, " kata Anton.
Saat ini, Anton telah memiliki 12 kos dengan total 150 kamar yang sudah terbangun dan berhasil disewakan. Selain mendirikan kos, Anton juga membangun komunitas untuk membantu tim nya mencapai kesuksesan seperti yang dia dapatkan.
Dia juga tengah mendirikan sebuah villa untuk memberikan tantangan baru bagi dirinya karena tidak ingin terjebak dengan zona nyaman.
"Setiap tahun kita bisa akuisisi 6 jenis properti dan itu terlalu aman. Jadi mulai coba untuk membangun villa," kata Anton.
Anton tak pernah menyesal pernah mengalami jatuh bangun dalam membangun bisnis sejak SMA. Dengan kegagalan itulah dia dapat menemukan bisnis sebagai sebuah passion dan tak dapat terlepas dari dirinya.
Dia mengaku sampai saat ini tak ada pikiran untuk berhenti menjalankan bisnis. Menurutnya, bisnis akan tetap terus berjalan bahkan akan terus dia kembangkan. Hanya saja, intensitas membangun komunitas yang mungkin akan dikurangi.
merdeka.com
Bagi Anton, tak ada hal yang mustahil untuk mencapai kesuksesan. Selagi ada kemauan dan komitmen yang besar untuk terus mencoba, siapapun dapat mencapai puncak kesuksesannya masing-masing.
"Walaupun aku engga pintar, aku harus bisa kerja keras untuk mencapai sesuatu. Walaupun gagal, harus punya keberanian untuk mencoba lagi. Karena, kebanyakan orang yang benar-benar gagal itu bukan karena mereka tidak bekerja keras, tapi karena mereka tidak mau berkomitmen untuk bekerja keras sampai akhir," tutup Anton.