Sulap Kotoran Ternak Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi Tinggi, Pria Asal Sleman Ini Menghasilkan Rp40 Juta per Bulan
Karena dikelola dengan baik, bisnis tersebut terus berkembang hingga sekarang.
Karena dikelola dengan baik, bisnis tersebut terus berkembang hingga sekarang.
Sulap Kotoran Ternak Jadi Pupuk Bernilai Ekonomi Tinggi, Pria Asal Sleman Ini Menghasilkan Rp40 Juta per Bulan
Pada masa pandemi COVID-19, Sigit Aris dan teman-temannya di Dusun Kalisoro, Kalurahan Umbulmartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman merasakan krisis ekonomi dan kesulitan mencari pekerjaan. Kondisi tersebut membuat mereka berinisiatif untuk mengembangkan bisnis pengelolaan pupuk.
“Kami bersama warga memanfaatkan kotoran-kotoran yang tidak terpakai untuk diolah menjadi produk yang lebih bernilai,” ujar Sigit Aris seperti dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
-
Bagaimana cara petani di Desa Sukomakmur memperoleh pupuk? Lihun mengeluhkan pembelian pupuk yang harus menggunakan kartu tani. Kalau tidak menggunakan kartu itu, petani harus membeli pupuk eceran yang harganya sangat mahal.
-
Kapan Peusijuek dilakukan? Tradisi Peusijuek ini selalu hadir ketika masyarakat akan merintis suatu usaha, menyelesaikan persengketaan, hingga sesudah dari musibah. Selain itu, Peusijuek juga dilakukan saat menempati rumah baru, merayakan kelulusan, memberangkatkan dan menyambut kedatangan jemaah haji.
-
Bagaimana cara membuat Pudak? Sebelum digunakan, pangkal daun pinang harus disamak terlebih dahulu untuk memisahkan kulit dalam dan kulit luar. Untuk membungkus pudak, hanya kulit bagian dalam yang digunakan karena lebih tebal dan halus sedangkan kulit bagian luar dibuang.
-
Kapan kata penutup pidato penting? Seperti diketahui, bahwa ragam acara seperti seminar, perpisahan, pernikahan hingga acara formal lain membutuhkan sebuah penutup pidato yang penuh kesan yang membuat seluruh rangkaian acara berkesan.
-
Kapan PPK Pemilu dibentuk? Menurut peraturan tersebut, PPK dibentuk paling lambat 60 hari sebelum hari pemungutan suara.
-
Bagaimana proses pembubaran BPUPKI? Pada 7 Agustus 1945, BPUPKI resmi dibubarkan oleh pemerintah pendudukan Jepang dan digantikan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Junbi Inkai.
Sigit Aris dan warga di Dusun Kalisoro memilih mengolah pupuk karena bahannya cukup melimpah dan murah. Selain itu mereka juga punya lahan kosong yang bisa digarap. Karena dikelola dengan baik, bisnis tersebut terus berkembang hingga sekarang.
Bisa dibilang, mereka memulai bisnis itu dengan modal nol rupiah. Bahan kotoran yang tidak terpakai itu mereka peroleh secara gratis dari para peternak sekitar.
“Bahan itu kita olah, kita lembutkan, punya satu gilingan, setelah itu dari keuntungan yang didapat dari satu ton bisa kita lipatkan sampai sebanyak ini,” kata Sigit dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
Perlahan-lahan, keuntungan yang diperoleh dari pengolahan pupuk terus bertambah. Hasil keuntungan digunakan untuk membeli mesin penggilingan dan fasilitas-fasilitas lainnya yang bisa menunjang produksi pupuk lebih banyak lagi.
Saat ini, mereka bisa memproduksi pupuk hingga 30-40 ton per bulan. Bila dinominalkan, hasilnya bisa mencapai Rp40 juta per bulan.
“Produk kami pasarkan ke teman-teman yang punya toko pertanian. Dari hanya satu toko sekarang terus bertambah banyak. Sekarang sudah hampir 30 toko yang langganan di pengolahan ini,” ujar Sigit.
Selain itu, mereka juga memasarkan produknya secara online dan secara langsung kepada instansi pemerintahan.
Selama menjalankan usaha itu, kendala yang dihadapi juga tidak berisiko besar, salah satunya soal cuaca dan musim. Namun satu yang pasti, usaha tersebut telah membuka lapangan usaha baru bagi warga sekitar.
“Karena pada awalnya kita berdiri ini tujuannya untuk mencari rezeki bareng. Ibaratnya kita olah bersama, dan warga bisa mendapatkan hasil yang kita olah ini,” kata Sigit dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.
- Pria Ini Buktikan Hidup di Perkotaan Bisa Bisnis Peternakan hingga Omzet Rp5 Miliar
- Telan Biaya Rp 89 M, Begini Potret Kemegahan Pasar Godean di Sleman yang Baru Diresmikan Presiden Jokowi
- Nasib Orang Tidak Ada yang Tahu, Pria Lulusan SMP Ini Sukses Miliki Sapi 500 Ekor & Kelola Kebun Nanas 300 Hektar
- Sempat Bohongi Istri, Pria Sleman Ini Sukses Budidaya Belut hingga Punya 200 Kolam
Sigit mengatakan, sebuah usaha harus dijalankan secara profesional. Setiap orang yang bekerja fokus melakukan tugasnya masing-masing.
“Misalnya kita ada empat orang, kita fokus semua. Ada yang marketing, formulasi, pengembangan di lokasi, semuanya berjalan dengan baik. Sehingga kita bisa berkembang dengan baik,” kata Sigit.
Sigit berharap, dengan adanya usaha pupuk itu, warga di sekitar rumahnya bisa lebih baik secara perekonomian. Sebagai contoh, dari usaha itu warga bisa bekerja di sana dan menjadi batu loncatan agar kelak bisa menghasilkan UMKM baru.
“Jadi untuk siapa saja yang ingin bisnis, saya berpesan utamakan keseriusan, dan niatnya. Jadi segala hal bisa dijadikan uang. Tinggal bagaimana pola pikir kita untuk maju dan berkembang. Dari hal-hal yang kecil kita olah menjadi besar,” pungkas Sigit dikutip dari kanal YouTube Cap Capung.