Kisah penjaga meriam KRI Harimau saat pertempuran di Laut Aru
Malam 15 Januari 1962, meletus pertempuran hebat di Laut Aru atau perairan Arafuru, Maluku antara tentara Indonesia dan Belanda. Pertempuran ini berlangsung setelah Presiden Soekarno mengumandangkan perang lawan Belanda melalui seruan Trikora, karena Belanda masih ngotot ingin menguasai Irian Barat.
Malam 15 Januari 1962, meletus pertempuran hebat di Laut Aru atau perairan Arafuru, Maluku antara tentara Indonesia dan Belanda.
Pertempuran ini berlangsung setelah Presiden Soekarno mengumandangkan perang lawan Belanda melalui seruan Trikora atau Tiga Komando Rakyat, karena Belanda masih ngotot ingin menguasai Irian Barat.
Dari Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), menurunkan empat Kapal Republik Indonesia (KRI) yakni KRI Matjan Tutul, KRI Harimau, KRI Matjan Kumbang dan KRI Singa.
Di atas KRI Harimau itu, salah satu kapal yang dikerahkan untuk melakukan infiltrasi melalui laut di bawah komando Satgas Kolonel Sudomo, ada Sersan Mayor Kamir. Prajurit yang bertugas di satuan Komando Jenis Kapal Pemburu di Komando Armatim Surabaya saat itu juga ditugaskan dalan operasi Trikora tersebut. Saat itu usianya masih 29 tahun.
"Saya saat itu anak buah. Bertugas di atas KRI Harimau bersama Kolonel Sudomo. Saat itu persenjataan tentara Belanda sudah caggih, pakai bom sinar. Kita masih pakai meriam, saya salah satu yang siapkan meriam saat tempur. Senjata lawan memang canggih tapi keberanian kita boleh. Orang-orang kita berani-berani, tanpa pamrih," tutur Sersan Mayor pelaut (purn) Kamir, kelahiran Bandung 84 tahun silam.
Kamir, salah seorang tentara yang selamat dari amuk tentara Belanda yang tak henti-hentinya dikeluarkan ke arah KRI Harimau ketika itu.
"Kapal kami bersama Kolonel Sudomo ketika itu selamat. Kira-kira kurang lebih 40 orang di atas KRI Harimau. KRI Matjan Tutul yang dipimpin Komodor Yos Sudarso yang tidak selamat. Kapalnya tenggelam ditembak sama tentara Belanda. Banyak yang mati, tapi masih ada juga yang hidup. Yang hidup ini di bawah ke Singapura, pangkalan militer Belanda. Di sana mereka jadi tawanan," kisah Kamir yang ditemui di sela upacara HUT RI di halaman Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis (17/8).
Saat berbincang dengan merdeka.com, Kamir sempat mengenang Kolonel Sudomo dan Mayjen Soeharto yang kala itu ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai komandan Komando Mandala, untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan bumi pertiwi dalam operasi Trikora.
"Keduanya sudah meninggal. Sama-sama meninggal di usia 84 tahun. Sekarang ini saya juga sudah 84 tahun," ucapnya dengan pandangan mata menerawang.
Tetapi, kata Kamir, kakek 13 cucu dari 8 putra putrinya ini, meski sudah tergolong uzur dan perokok, dia merasa masih sehat. Tidak ada keluhan sakit. Katanya, dia masih kuat jalan kaki sejauh dua kilometer di sekitar rumahnya di Jalan Borong, Makassar. Yang membuatnya sehat, kata Kamir, karena dia hidup apa adanya, tidak macam-macam.
Sebelum masuk acara inti upacara bendera di rujab Gubernur itu, Kamir melanjutkan kisahnya. Kata dia, usai menyelesaikan tugas dalam operasi Trikora itu, dia kemudian pindah tugas ke KRI Monginsidi. Bersama sejumlah rekannya dikirim ke Uni Soviet untuk menjemput kapal freegat.
"Saya pindah ke KRI Monginsidi untuk menjemput kapal freegat di Uni Soviet bantuan luar negeri. Baru selesai operasi, ditugaskan lagi. Sebagai prajurit, kita harus laksanakan tugas," ujarnya.
Ditambahkan, pascaoperasi Trikora, dia tidak menerima penghargaan materi dari pemerintah. Hanya terima lencana Trikora sebagaimana prajurit lain yang ikut operasi tersebut. Kamir dinas terakhir di Lantamal VI Makassar hingga pensiun.
Yang disyukurinya, selain gaji purnawirawan per bulannya Rp 2 juta ditambah dana kehormatan atau Danhor Rp 750 ribu per bulan, Kamir juga dapat dana veteran per bulan Rp 750 ribu. Sehingga totalnya Rp 3,5 juta per bulan, cukup untuk mengisi hari tua bersama Ruqaiyah (60), istrinya. Perempuan asal Kabupaten Bulukumba, Sulsel yang dinikahinya di Surabaya saat awal bertugas sebagai prajurit TNI.