Ulama asal Papua Dirikan Pesantren di Bekasi, Santrinya Banyak dari Indonesia Timur
Merdeka.com - Di Desa Taman Sari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, berdiri sebuah pondok pesantren bernama Nuu Waar. Tempat belajar agama ini banyak menampung santri asal Indonesia Timur. Pendirinya pun seorang ulama asal Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua bernama K.H. Muhammad Zaaf Fadzlan Robbani Garamatan.
Fadzlan memang memiliki mimpi untuk mensyiarkan agama Islam di tanah kelahirannya dengan cara yang berbeda. Ia lantas memboyong santri-santrinya dari tanah kelahirannya untuk disekolahkan di Bekasi dan menuntut ilmu agama di Ponpes Nuu Waar.
kegiatan keagamaan di ponpes ini begitu padat, terutama saat Ramadan seperti sekarang. Mereka begitu antusias mengaji, mempelajari seluk beluk Islam, dan mendalami keilmuan sehari-hari.
-
Kenapa Cak Diqin mendirikan Pesantren? Inisiatif mendirikan ponpes muncul karena pengajian rutin di rumah makan milik Cak Diqin banyak peminatnya.
-
Bagaimana cara seseorang masuk Islam? Cara masuk Islam perlu dimulai dari memahami ajaran agama, mengucapkan kalimat syahadat, hingga menjalani kewajiban ibadah.
-
Kenapa Ridwan ingin mendirikan pesantren ini? Dirinya ingin teman-teman difabel netra bisa memiliki tempat belajar ilmu agama yang nyaman dan memudahkan.
-
Bagaimana santri di Pondok Al Fatah berdakwah? Para santri dan lulusan Temboro melakukan khuruj (berdakwah) sebagaimana yang dilakukan anggota JT di tempat lainnya.
-
Mengapa Syekh Nurjati menyebarkan Islam? Setelah ilmunya dirasa cukup, ia kemudian memulai misinya untuk mengenalkan ajaran Islam.
-
Mengapa Bahrum terjun di dunia agama? Lahir dari keluarga yang taat agama, ia menjadi sosok pengarang yang juga terjun dalam dunia keagamaan.
Selain ingin mensyiarkan Islam untuk santri-santri asal kampung halamannya, Fadzlan diketahui memiliki keinginan untuk memajukan daerahnya melalui pendidikan. Berikut kisah selengkapnya.
Berangkat dari Banyaknya Kesenjangan di Papua
Pondok Pesantren Nuu Waar Bekasi ©2023 YouTube AFKN Nuu Waar/Merdeka.com
Dikutip dari ANTARA, Kamis (30/3), sejarah berdirinya Ponpes Nuu Waar berangkat dari keinginan Fadzlan untuk memutus rantai kesenjangan sosial di wilayah Papua.
Sejumlah kesenjangan itu di antaranya soal kemiskinan, minimnya kesempatan bersekolah, sedikitnya fasilitas kesehatan, hingga persoalan sosial lainnya yang dimungkinkan bisa diantisipasi dengan dasar pendidikan yang kuat.
Sebelumnya, ia mendapati kondisi demikian karena aktif berdakwah hingga ke pedalaman di sana.
"Lulusan pesantren kami pulangkan ke daerah masing-masing untuk membangun daerah sendiri dengan bekal ilmu yang mereka pelajari di sini," Kata Kepala Divisi Umum Pesantren Nuu Waar, Ustaz Muhammad Jufri yang juga berasal dari Fakfak.
Membentuk Karakter yang Mandiri dan Bermanfaat
Mimpi Fadzlan yang berkeinginan mengajak anak muda di Papua untuk membangun daerahnya ini, pertama ia wujudkan dengan membuat rumah belajar. Ia menyewa tanah di kawasan Pondok Hijau, Bekasi Utara, Kota Bekasi pada 2002 silam.
Ketika itu, ia sengaja memilih anak-anak dari wilayah Indonesia Timur. Lambat laun rumah belajar itu tidak kuasa menampung jumlah siswa hingga tercetus pendirian yayasan bernama Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN).
Anak-anak ini lantas dikuliahkan olehnya di kampus-kampus pinggiran ibu kota hingga ke daerah Jawa sampai Medan. Setelahnya, mereka akan pulang ke kampung halaman dengan bekal ilmu agama dan juga bisa mengisi kekosongan posisi seperti tenaga medis, guru, polisi, tentara, dan profesi lainnya yang banyak dibutuhkan.
Papua sendiri memiliki segudang potensi yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh kaum muda. Ini yang kemudian mendorongnya mendirikan Ponpes Nuu Waar.
Alasan Didirikan di Bekasi
Perlahan, yayasan tersebut menjadi sebuah tempat pendidikan berbasis pondok pesantren sejak tahun 2015 lalu. Terdapat ribuan santri dari Indonesia Timur yang dididik menjadi penghafal Al Quran.
Terungkap alasan Fadzlan mendirikan tempat belajar di Bekasi, Jawa Barat. Menurut Ustaz Jufri, mendirikan tempat belajar di penyangga ibu kota bisa membentuk pola pikir anak-anak dari Indonesia Timur sebagai generasi penggerak bangsa.
Mereka diharapkan memiliki pemikiran yang terbuka, kemampuan berteknologi dan berkeilmuan yang maksimal dan bisa memajukan daerahnya. Kemudian, ia juga ingin santri-santrinya belajar secara langsung kepada ulama-ulama di Pulau Jawa.
“Kenapa dibuat pesantren di Jawa Barat? Bukan di Papua saja? Malahan kami rekrut mereka dari Nuu Waar (Papua), kami bawa ke sini. Pertama karena lebih dekat dengan ibu kota. Kedua agar membuka pola pikir mereka, kalau di sana pola pikir anak-anak akan begitu saja. Kalau di sini ada banyak hal baru yang bisa mereka lihat,” katanya lagi.
Mencetak 7.000 Santri Berkeilmuan
Hingga saat ini, sebanyak 7.000 lulusan pondok berhasil dicetak oleh Pondok Pesantren Nuu Waar yang juga ahli sebagai penghapal Al Quran.
Setelah masa belajar selesai, mereka disiapkan untuk pengabdian selama satu tahun. Selama itu, mereka akan dibekali kemampuan teknis sesuai bidang yang dibutuhkan di tanah kelahiran. Setelah bekal keilmuan sosial dan agama terbentuk santri-santrinya juga diminta untuk mengembangkannya di Papua.
Ponpes Nuu Waar di tangan Fazlan berkeinginan untuk melakukan dedikasi semaksimal mungkin demi pemenuhan akses pendidikan dan menghasilkan lulusan terbaik yang mampu berkontribusi bagi agama, bangsa dan keluarga.
Adapun arti Nuu Waar berasal dari bahasa Papua, Nuu merupakan bahasa lain dari cahaya, Waar artinya menyimpan rahasia alam. Ini juga merupakan nama yang disematkan sebelum menjadi Irian dan Papua. (mdk/nrd)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya
Karena fokus ke ajaran Nasrani, sosoknya pernah dikhawatirkan murtad oleh kalangan ulama di masa silam.
Baca SelengkapnyaPesantren ini melahirkan ulama-ulama besar Indonesia
Baca SelengkapnyaSebanyak 40 orang kader ulama utusan dari berbagai pesantren ikut pelatihan
Baca SelengkapnyaPara anak seleb Tanah Air ini memilih menyekolahkan anaknya ke pesantren. Berikut ulasan selengkapnya.
Baca SelengkapnyaBagi Hafidz, tidak terlalu sulit mengatur waktu antara rutinitasnya sebagai bupati maupun mengajar di pondok pesantren.
Baca SelengkapnyaGanjar mengungkapkan masukan dari para ulama akan dijadikan catatan baginya.
Baca SelengkapnyaSosoknya cukup berpengaruh dalam perkembangan Agama Islam di Cirebon
Baca SelengkapnyaPendiri Ponpes ini ingin lembaga pendidikan islam miliknya bisa seperti Universitas Al Azhar Mesir hingga Universitas Harvard.
Baca SelengkapnyaBukan hanya di Pulau Jawa saja, pondok pesantren juga berdiri di Pulau Sumatera yang usianya sudah lebih dari ratusan tahun.
Baca SelengkapnyaPondok Pesantren Al Fatah di Desa Temboro Kabupaten Magetan ini jadi pusat Jemaah Tabligh terbesar di Asia Tenggara. Santrinya bisa naik kuda hingga unta.
Baca SelengkapnyaTrah Kiai Ageng Muhammad Besari yang sudah menyebar ke berbagai daerah. Di antaranya Gontor, Gandu, Coper, Joresan, Lirboyo, Ploso, Jampes, Tremas.
Baca SelengkapnyaSang pendiri pondok pesantren terkenal cerdas sejak kecil
Baca Selengkapnya