Ilmuwan sebut Medan Magnet Bumi akan Terbalik, Apa Dampaknya?
Medan magnet Bumi sangat mirip dengan magnet batang, dengan keberadaan kutub utara dan kutub selatan.

Medan magnet Bumi sangat mirip dengan magnet batang, dengan keberadaan kutub utara dan kutub selatan.

Ilmuwan sebut Medan Magnet Bumi akan Terbalik, Apa Dampaknya?
Medan magnet Bumi sangat mirip dengan magnet batang, dengan keberadaan kutub utara dan kutub selatan.
Meskipun demikian, medan magnet Bumi tidak stabil karena dihasilkan oleh proses yang kompleks di dalam Bumi. Hal tersebut menyebabkan kutub magnet Bumi bisa berpindah-pindah, bahkan terbalik, seperti dikutip dari BBC Science Focus dan Space.com, Kamis (30/5).
Medan magnet Bumi dihasilkan oleh muatan listrik yang bergerak. Muatan listrik tersebut, atau elektron, diangkut oleh arus besi cair yang bersirkulasi.
Meskipun detailnya belum dipahami secara baik, materi panas di inti besi cair luar Bumi mengembang sehingga menjadi kurang padat dibandingkan materi di sekelilingnya dan menjadi naik.
Akibatnya, cairan bersirkulasi di sekitar inti dan gesekan di antara berbagai lapisannya yang berbeda mengisi muatannya. Muatan-muatan tersebut menghasilkan medan magnet Bumi.
Pergerakan kutub magnetis utara karena proses kompleks tadi saat ini terjadi dengan kecepatan sekitar 55 km/tahun menuju Siberia—jauh lebih cepat dari kecepatan pergerakannnya secara historis.
Perubahan tersebut bisa menjadi pertanda bahwa “pembalikan magnetis”, yaitu ketika kutub magnetis utara dan selatan berubah lokasi, akan terjadi.
Peristiwa ini telah terjadi 171 kali dalam 71 juta tahun terakhir. Saat ini, Bumi sudah seharusnya mengalami pembalikan lagi.
Pembalikan medan magnet Bumi diyakini terjadi selama 1.000 hingga 10.000 tahun. Selama proses itu, medan magnet menyusut hingga nol sebelum tumbuh kembali dengan polaritas yang berlawanan.
Hal tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya bagi bumi. Pengaruh dari medan magnet Bumi dapat dirasakan hingga ke luar angkasa karena ia menciptakan gelembung pelindung di sekeliling Bumi.
Gelembung tersebut melindungi permukaan Bumi dari badai partikel-partikel “angin surya” dan berbagai partikel “sinar kosmis” yang berenergi lebih tinggi dari luar angkasa.
Berbagai partikel tersebut biasanya disalurkan oleh medan magnet ke kutub sehingga tercipta fenomena aurora. Tanpa adanya medan magnet yang melindungi, laju mutasi sel-sel hidup dapat meningkat karena adanya radiasi yang hebat. Hasilnya, hewan-hewan bisa terkena kanker.
Meskipun menyeramkan, saat ini tidak ada bukti signifikan mengenai hubungan antara kepunahan massal di Bumi dengan pembalikan medan magnet Bumi. Walaupun pembalikan medan magnet Bumi telah terjadi beberapa beberapa ratus kali dalam ratusan juta tahun terakhir, peristiwa kepunahan massal yang tercatat hanya terjadi setiap seratus juta tahun sekali atau lebih—sebuah frekuensi yang jauh lebih sedikit.