Ilmuwan Ungkap 466 Juta Tahun Lalu Bumi Pernah Punya Cincin
Hipotesis ini didasarkan pada rekontruksi tektonik lempeng selama periode Ordovisium yang mencatat lokasi 21 kawah tumbukan asteroid.

Penemuan baru tentang sejarah kuno Bumi menunjukkan bahwa planet ini mungkin pernah memiliki sistem cincin sekitar 466 juta tahun yang lalu, pada awal periode pemboman meteorit yang sangat intens, yang dikenal sebagai lonjakan dampak Ordovisium.
Mengutip Phys.org, Selasa (17/9), hipotesis menarik dipublikasikan dalam Earth and Planetary Science Letters, dan didasarkan pada rekontruksi tektonik lempeng selama periode Ordovisium yang mencatat lokasi 21 kawah tumbukan asteroid.
Semua kawah ini ditemukan dalam jarak 30 derajat dari ekuator, meskipun lebih dari 70 persen kerak benua Bumi berada di luar wilayah tersebut, sebuah anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh teori konvensional.
Para peneliti meyakini bahwa pola tumbukan yang terkonsentrasi di wilayah khatulistiwa ini terbentuk setelah sebuah asteroid besar melewati Bumi.
Ketika asteroid tersebut mendekati batas Roche, ia terpecah karena gaya pasang surut, membentuk cincin puing di sekitar Bumi, mirip dengan cincin yang terlihat di sekitar Saturnus dan planet raksasa gas lainnya.
“Selama jutaan tahun, material dari cincin ini secara bertahap jatuh ke Bumi, menciptakan lonjakan dampak meteorit yang kami amati dalam catatan geologi,” kata Profesor Andy Tomkins, peneliti utama dari Universitas Monash.
“Yang membuat penemuan ini lebih menarik adalah implikasi potensial dari sistem cincin tersebut terhadap iklim Bumi,” tambah dia.
Para peneliti berspekulasi bahwa cincin tersebut mungkin telah menimbulkan bayangan di Bumi, menghalangi sinar matahari, dan menyebabkan peristiwa pendinginan global yang signifikan, yang dikenal sebagai “Rumah Es Hirnantian”.
Peristiwa ini terjadi menjelang akhir periode Ordovisium dan diakui sebagai salah satu periode terdingin dalam 500 juta tahun terakhir sejarah bumi.
“Gagasan bahwa sistem cincin bisa mempengaruhi suhu global menambah lapisan kompleksitas baru pada pemahaman kita tentang bagaimana peristiwa luar angkasa dapat membentuk iklim bumi,” kata Tomkins.
Para peneliti menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk menghitung luas wilayah benua yang mampu melestarikan kawah tumbukan dari masa Ordovisium. Wilayah seperti Australia Barat, Afrika, Amerika Utara, dan sebagian kecil Eropa dianggap cocok untuk melestarikan kawah.
Mereka menemukan bahwa hanya 30 persen dari wilayah daratan yang berada di dekat khatulistiwa, namun semua kawah tumbukan ditemukan di wilayah ini. Peluang terjadinya sangat kecil, seperti “melempar koin tiga sisi (jika ada) dan mendapat sisi belakang sebanyak 21 kali".
Penemuan ini tidak hanya berimplikasi pada ilmu geologi, tetapi juga memperluas wawasan kita tentang pengaruh peristiwa kosmik terhadap evolusi kehidupan di Bumi. Apakah ada sistem cincin lainnya yang dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan di Bumi?
Reporter magang: Nadya Nur Aulia