Penemuan Penting Arkeologi yang Berhasil Dilacak Pakai AI
Berikut adalah beberapa fosil penting yang ditemukan dengan bantuan AI.


Artificial Intelligence (AI) bukan hanya dapat digunakan untuk sekadar mengedit konten semata.
Namun, justru bisa lebih dari itu. AI punya keunggulan yang tidak semua orang menyadari. Misalnya saja untuk membantu arkeolog menemukan fosil-fosil purbakala. AI memiliki keunggulan itu.
Dalam arkeologi, AI dapat memproses data besar yang dikumpulkan selama beberapa dekade penelitian dan disimpan dalam arsip.
Dengan menggabungkan kemampuan-kemampuan ini, AI menawarkan wawasan baru dan peluang menarik untuk menciptakan pengetahuan dari arsip arkeologi untuk penelitian kontemporer dan masa depan.
Oleh sebab itu, tak heran banyak perusahaan di belahan Bumi manapun akan mengembangkan dan mematenkan teknologi ini.
Mengutip dari beragam sumber, berikut adalah beberapa fosil penting yang ditemukan dengan bantuan AI:
Luzia:
Ditemukan pada tahun 1975 di Brasil, fosil ini berusia sekitar 11.500 tahun dan dikaitkan dengan budaya Paleo-India.
Situs Fosil di Great Divide Basin, Wyoming:
Diidentifikasi menggunakan jaringan saraf tiruan yang menganalisis peta dan citra satelit, situs-situs ini berisi fosil mamalia purba yang berumur 50 juta hingga 70 juta tahun.
Situs Fosil di Bison Basin, Wyoming:
Diidentifikasi oleh sistem AI yang dilatih untuk mengeksplorasi hubungan antara bentang alam dan pelestarian fosil, situs-situs ini berisi fosil mamalia purba.
Fosil Biota Ediacaran di Taman Nasional Nilpena Ediacara, Australia:
Fosil-fosil ini, termasuk Dickinsonia, Tribrachidium, dan Spriggina, adalah beberapa fosil kompleks tertua di Bumi, yang berumur 555 juta tahun.
Teknik AI digunakan untuk mendeteksi dan mengukur pertumbuhan fosil mikroba.