Bikin Geger, Ilmuwan Ungkap Ada Kota Kuno di Bawah Piramida Giza Mesir yang Dibangun oleh Peradaban Maju yang Telah Hilang
‘Kota bawah tanah besar’ konon ada di Mesir berusia puluhan ribu tahun lebih tua dari pada piramida Giza

Pekan lalu, tim ilmuwan di Italia mengungkap penelitian yang mengklaim telah menemukan sumur dan ruang bawah tanah setinggi ratusan meter di bawah Piramida Khafre, Mesir. Mereka meyakini penemuan tersebut sebagai kota kuno berusia 38.000 tahun dan membentang sepanjang 1.200 meter. Namun, banyak ilmuwan dan pemerintah Mesir yang meragukan penemuannya.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Corrado Malanga dari Universitas Pisa, dan Filippo Biondi dari Universitas Strathclyde, serta Egyptologist Armando Mei. Penelitian ini belum diterbitkan.
Mereka menggunakan radar satelit untuk mendeteksi delapan sumur dengan diameter 10 hingga 12 meter yang menembus hingga 650 meter di bawah permukaan. Gambar yang dihasilkan menunjukkan struktur yang tampak seperti tangga dan jalur bawah tanah. Temuan tersebut dipercaya sebagai bagian dari kota tersembunyi.
Dilansir Daily Mail, Rabu (26/3), peneliti mengklaim temuan mereka sudah sesuai dengan teks kuno Mesir, termasuk “Kitab Orang Mati” dan “Daftar Raja Turn,” yang menceritakan tentang peradaban yang diduga mendahului dinasti pertama Mesir. Mereka mengatakan bab 149 dari Kitab Orang Mati tersebut menggambarkan 14 tempat tinggal dewa yang ditafsirkan sebagai sisa-sisa peradaban maju yang ada sebelum dinasti mesir.
Mereka juga menghubungkan keberadaan kota ini dengan teori bahwa asteroid besar pernah menghantam bumi, sehingga menyebabkan perubahan iklim global yang memusnahkan peradaban tersebut.
Namun, banyak ilmuwan dan pemerintah Mesir yang menolak klaim ini.
Professor Lawrence Conyers dari Universitas Denver menyebut ide tersebut “sangat aneh,” hal ini dikarenakan 38.000 tahun lalu, manusia masih tinggal di gua-gua dan belum memiliki kota.
Dr. Zahi Hawass, mantan Menteri Purbakala Mesir, menegaskan penelitian ini “Salah total” dan tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas.

Mesir sendiri tidak membenarkan klaim penggunaan radar di dalam piramida dan mempertanyakan kevalidan teknik yang digunakan. Ilmuwan independen mengakui bahwa metode radar yang digunakan berstatus sah, tetapi hasilnya sulit diverifikasi karena ketidaktransparan dalam penggunaan perangkat lunak analisis data.
Meskipun menghadapi banyak kritik, tim peneliti tersebut tetap berpegang teguh pada penemuan mereka, dan melanjutkan identifikasi struktur tersembunyi tersebut menggunakan pulsa radar untuk membuat gambar beresolusi tinggi, jauh di bawah tanah struktur tersebut. Cara ini merupakan cara yang sama seperti radar sonar yang digunakan untuk memetakan kedalaman laut.
Reporter magang: Devina Faliza Rey