Ilmuwan Menduga Ada Hujan Berlian di Planet ini
Terungkap bahwa hujan berlian jauh lebih sering terjadi di planet lain daripada yang dibayangkan.

Terungkap bahwa hujan berlian jauh lebih sering terjadi di planet lain daripada yang dibayangkan.

Ilmuwan Menduga Ada Hujan Berlian di Planet ini
Baru bulan lalu para ilmuwan mengetahui bahwa 'sumber berlian' dapat terlempar ke permukaan bumi sebagai bagian dari peristiwa geologis besar.
Kini, terungkap bahwa hujan berlian jauh lebih sering terjadi di planet lain daripada yang dibayangkan. Kok bisa?
Mengutip Indy100, Jumat (2/2), sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature Astronomy, mengungkapkan bahwa kondisi cuaca ekstrem yang melibatkan presipitasi batu mulia atau berlian mungkin relatif umum terjadi di luar angkasa.
Para ilmuwan telah mempelajari proses di balik pembentukan berlian.
Dari proses mempelajari itu, mereka menemukan bahwa meskipun berlian masih membutuhkan tekanan yang sangat besar dan suhu yang sangat tinggi untuk membuatnya, kondisi yang diperlukan tidaklah ekstrim seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Artinya, banyak planet gas yang dijuluki “mini-Neptunus” mungkin memiliki hujan berlian yang secara gagasannya cukup sulit untuk dipahami.
Siegfried Glenzer dari SLAC National Accelerator Laboratory mengatakan tentang temuan ini.
Menurut mereka, penemuan inovatif ini tidak hanya memperdalam pengetahuan tentang planet es lokal, namun juga memiliki implikasi untuk memahami proses serupa di exoplanet di luar Tata Surya
Selain membantu memahami lebih lanjut tentang sistem cuaca unik di planet es, temuan ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa medan magnet Neptunus dan Uranus berbeda dengan medan simetris yang dimiliki Bumi.
- Apakah Lubang Hitam Mengancam Bumi dan Menyebabkan Kiamat? Ini Jawaban Ilmuwan
- Ilmuwan Temukan Planet yang Mirip Bumi, Bisakah Manusia Pindah ke Sana?
- Ilmuwan Mulai Beri Peringatan Keras soal Kiamat
- Ilmuwan Salah Sangka Benda Aneh ini Dikira Sampah Luar Angkasa, Ternyata Petunjuk Penting Manusia untuk Bisa Hidup Antar Planet
Mungo Frost, dari SLAC National Accelerator Laboratory, mengatakan:
“Ini mungkin memicu pergerakan di dalam es konduktif yang ditemukan di planet-planet ini, sehingga mempengaruhi pembentukan medan magnetnya.”