Melihat Bekas Gedung Perikanan Peninggalan Belanda, Kini Masih Berdiri Kokoh tapi Kondisinya Memprihatinkan
Ciri khas arsitektur lawas masih dapat dirasakan melalui dinding depan dan sisa-sisa tembok yang mengelilinginya.
Di wilayah Jalan Kerapu, Pluit, Penjaringan, Kota Jakarta Utara, terdapat bekas bangunan peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri. Dahulu, tempat ini pernah difungsikan sebagai gedung perikanan pada akhir abad ke-19.
Sayang, keadaan bangunannya kini memprihatinkan. Kondisinya tampak terbengkalai dan ditumbuhi akar-akar pohon besar hampir menutupi seluruh bangunan. Di bagian dalam juga dipenuhi sampah dan barang-barang milik warga.
-
Dimana bangunan tua itu berada? Keberadaan bangunan tua itu tersembunyi di balik keriuhan pertokoan di kawasan Kranggan.
-
Dimana letak kolam renang peninggalan Belanda? Kolam Bekas Belanda ini berada di Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan.
-
Di mana bangunan ditemukan? Arkeolog menemukan struktur atau bangunan misterius di bawah lapangan bola bangsa Maya di Campeche, Meksiko.
-
Bagaimana keadaan bangunan tua di Kampung Melayu sekarang? Bangunan ini baru saja selesai direvitalisasi pada tahun 2023 lalu. Sebelumnya, gedung ini sempat terbengkalai bertahun-tahun di mana sebagian gedungnya roboh.
-
Dimana bisa lihat rumah Belanda asli di Indonesia? Selain desain interior dan sisi ruangan yang menawarkan kesan unik, di Indonesia sendiri, banyak sekali ditemukan rumah peninggalan kolonialisme yang masih terjaga keasliannya. Walaupun sudah berkali-kali mengalami renovasi, rumah tersebut bahkan tidak bisa lepas dari arsitektur awalnya.
-
Di mana struktur kuno tersebut berada? Struktur tersebut memiliki panjang sekitar 149 meter dengan lebar sekitar 21 meter dan terletak pada ketinggian 4.661 meter di atas permukaan laut pada kemiringan 8 derajat, dengan koordinat GPS 39°42'39.65' LU, 44°17'59.52' BT.
Namun ciri khas arsitektur lawas masih dapat dirasakan melalui dinding depan bangunan, dan tembok-tembok yang mengelilinginya. Berikut informasinya.
Sisa Bangunan Asli Masih Bisa Dilihat
Dalam sebuah tayangan di kanal Youtube Candrian Attahiyyat, ditampilkan sebuah gedung tua yang terbengkalai dan kabarnya bekas bangunan tersebut milik balai perikanan.
Disebutkan bahwa usia bangunan sudah mencapai 144 tahun, setelah periode awal difungsikan pada 1880. Pada bangunan tersebut juga terdapat pintu yang bisa dimasuki orang, namun kondisinya berantakan.
Di bagian depan, dinding besar menjulang dengan pintu dan empat buah fasad yang terhubung di lantai dua. Cat bangunannya diperkirakan sudah lama tidak diperbaharui, karena terlihat kusam dengan warna putih khas bangunan kolonial.
Dulu Difungsikan sebagai Balai Perikanan
Menurut catatan yang diperoleh Candrian, gedung ini punya nama Zeevisschery Station saat masih difungsikan. Eksistensinya berlangsung sejak tahun 1880 hingga 1940-an. Kemudian setelah itu bangunan sudah tidak digunakan kembali.
Mengutip laman Pelindo, kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa memang sudah aktif sejak tahun 1500-an. Dulunya tempat ini digunakan sebagai tempat singgah pelayaran dari beberapa kapal luar Indonesia, terutama yang mencari hasil laut dan rempah.
Seiring masuknya pemerintahan Portugis dan Belanda, keberadaannya terus dimaksimalkan dengan dibangunnya fasilitas dermaga, serta bangunan-bangunan pelabuhan tak terkecuali balai perikanan sebagai penunjang perniagaan.
Dulu Bentuknya Cantik
Dalam arsip lawas, diperlihatkan kondisi bangunan pada akhir abad ke-19. Saat itu, bentuknya benar-benar cantik dengan adanya bangunan tambahan sebagai sayap di kanan dan kirinya.
Saat itu, di depan gedung terdapat sungai yang bermuara langsung ke laut. Terlihat sungai dipenuhi perahu-perahu berukuran sedang, yang diduga merupakan perahu milik nelayan untuk menangkap ikan.
Kemudian, terlihat juga sejumlah delman yang singgah di sekitar bangunan Zeevisschery Station atau balai perikanan Belanda.
Ditinggali Warga
Sayangnya, keberadaan bangunan tersebut kini tidak terurus dan cenderung terbengkalai. Ini terlihat dari banyaknya akar-akar pohon beringin yang tumbuh di bagian dalam bangunan.
Lalu di lantai dua, kondisinya juga memprihatinkan karena bagian atap terlihat berlubang besar dan tampak hancur termakan usia. Belum lagi, bangunan bekas balai perikanan ini juga ditinggali oleh beberapa warga yang mendirikan bangunan semi permanen di sana sehingga tampak kumuh.
Perlu Diperhatikan
Dalam catatannya, Candrian merasa jika bangunan ini perlu untuk dijaga dan dilestarikan. Sebagai salah satu bangunan bersejarah, keberadaan Zeevisschery Station ini membawa kisah betapa hebatnya geliat perniagaan Batavia di masa lalu.
Selain itu, bangunan ini juga bisa menjadi salah satu bukti majunya Pelabuhan Sunda Kelapa yang berjaya di masa kolonial sebagai gerbang masuk perekonomian internasional.
“Mudah-mudahan bangunan yang terlantar ini kelak bisa dilestarikan atau dipugar,” kata Candrian di videonya.