Arkeolog Temukan Mata Panah Berusia 2.500 Tahun di Dataran Tinggi Palestina, Ada Kaitannya dengan Kafilah Dagang Bangsa Arab Masa Lalu
Sejumlah artefak lainnya juga ditemukan di situs ini.

Arkeolog dari Badan Kepurbakalaan Israel (IAA) menemukan situs pemakaman di Dataran Tinggi Negev, wilayah Palestina yang dicaplok Israel. Temuan ini menjelaskan jaringan perdagangan kuno yang mencakup Arab, Fenisia, Mesir, dan Eropa Selatan.
IAA menyampaikan pada Rabu, mereka juga menemukan mata panah berusia 2.500 tahun dari Yaman, yang menunjukkan bahwa situs tersebut pernah menjadi kuburan bagi kafilah perdagangan yang melintasi gurun.
Situs makam kuno tersebut terletak di dekat persimpangan Telalim, berisi belasan liang lahat dengan beragam artefak, termasuk perkakas batu api, perhiasan, bejana pualam, dan jimat keagamaan.
Menurut direktur penggalian Dr. Martin David Pasternak dan peneliti senior Dr. Tali Erickson-Gini, temuan ini menunjukkan adanya pertukaran budaya yang dinamis antara berbagai wilayah pada milenium pertama SM.
Peneliti mengatakan, koleksi mata panah batu api yang ditemukan di situs tersebut berasal dari Yaman dan Oman. Seorang ahli perkakas batu api dan peneliti IAA, Dr. Jacob Verdi mengatakan beberapa mata panah tersebut memiliki bekas oker merah, suatu zat yang sering digunakan dalam budaya kuno untuk tujuan keagamaan atau dekoratif.
“Kehadiran oker pada artefak ini mungkin menunjukkan signifikansi pemujaan mereka, memberi mereka nilai khusus di luar kegunaan praktisnya,” kata Dr. Verdi.
Artefak lain yang ditemukan antara lain perhiasan tembaga dan perak, alat persiapan dupa, ratusan manik-manik batu warna-warni, dan kerang langka. Sebuah jimat yang menggambarkan dewa Mesir Bes, yang dikenal melindungi wanita dan anak-anak, juga ditemukan.
Perdagangan Manusia
Sebelum tes DNA, para peneliti dapat memastikan kelompok yang dikubur di makam tersebut adalah perempuan karena banyaknya gelang dan barang lain yang ditemukan.
Para ahli menduga situs tersebut digunakan selama beberapa generasi oleh kafilah dagang sebagai tempat pemakaman, atau merupakan hasil penguburan massal setelah terjadi serangan terhadap kafilah yang sedang bepergian.
“Makam tersebut terletak di persimpangan jalan utama di Negev, menghubungkan jalur perdagangan dari Semenanjung Arab ke Levant dan Mediterania,” menurut laporan tersebut.
“Hal ini mendukung teori bahwa Negev bukan sekadar titik transit namun juga pusat perdagangan internasional dan pertukaran budaya.”
“Tidak ada benteng, tidak ada tel (bukit), tidak ada desa di dekatnya, jadi mereka pastilah pedagang,” kata peneliti senior, Dr. Tali Erickson-Gini.
“Ada sebuah prasasti yang ditemukan di Yaman yang berbicara tentang PSK (pekerja seks komersial) di kuil dan secara khusus mencatat pembelian 30 wanita dari Gaza, serta Mesir, Yunani, dan daerah lainnya.”
Erickson-Gini mengatakan ada kemungkinan perempuan yang ditemukan tersebut adalah bagian dari perdagangan manusia di zaman kumo.
Penemuan ini membuat para peneliti meyakini perempuan-perempuan tersebut mungkin telah meninggal di sepanjang rute, dan juga menunjukkan korelasi historis dengan dugaan perdagangan manusia.